Selasa, 22 September 2009

PUISI KARYA SISWA-SISWI KELAS XI IPA 7 0910

Karya puisi adalah cerminan kepedulian hati atas hidup dan kehidupan kita ini. Begitulah yang kami tulis dalam blog ini merupakan kaca bening hati kami sebagai curahan hati yang terangkai lewat kata-kata bermakna, berirama, beritme, bergaya bahasa, atau bahkan simbol-simbol. Namun, hakikat semua itu adalah suara hati kami yang mungkin perlu kalian simak dan baca sebab di balik karya kami tentu ada makna yang berguna.

58 komentar:

  1. Nama : Bil Leon
    Kelas : XI IPA 7
    Nomor absen : 7

    Puisi I
    Tema : Religi

    Rona Kehidupan

    Karya : Bil Leon / 7

    Ku lihat di pinggiran kota
    Rakyat jelata tak kenal susah
    Meminta-minta sudah hal biasa
    Tiada henti, menadah rasa kasihan
    Biar sedikit asal ada

    Tetapi mengapa?
    Mereka yang mampu tak sadar bahwa Tuhan ada
    Habisi materi tanpa henti
    Seakan hidup penuh bahagia
    Tanpa pikir kehidupan selanjutnya

    Mari teman...
    Kita bersandar pada Tuhan
    Biar senang atau susah
    Renungkan berbagai kesalahan
    Instropeksi semua dosa yang telah dilakukan
    Niscaya beban kehidupan sirna

    Palembang, 29 September 2009



    Puisi 2
    Tema : Cinta tanah air

    Jasa Tiada Tara

    Karya : Bil Leon / 7

    Kulihat banyak pahlawan berjasa
    Jatuh bangun tiada kentara
    Meski anak istri menunggu di rumah
    Bersiap di area,
    Persandingan antara hidup dan mati

    Berjuang tanpa kenal lelah
    Meski susah, takkan pernah menyerah
    Bagai kelinci dimangsa ular
    Tak mudah menyerah termakan serangan

    Kubaca sejarah negara kita
    Betapa susah perjuangan pejuang bangsa
    64 tahun kita merdeka
    Mari perbaiki diridan bangun bangsa!!

    Palembang, 29 September 2009

    BalasHapus
  2. Nama : Febria
    Kelas : XI IPA7
    Nomor absen :11

    Puisi I
    Tema : Kepedulian Lingkungan

    Harta yang Berharga
    Karya : Febria/11

    Langit tak secercah biasanya
    Awan diselimuti kabut hitam entah dari mana.
    Hatiku ikut miris melihatnya
    Angin yang menerpa tubuhku
    Terasa begitu menyesakkan dada.

    Serpihan-serpihan abu..
    Turun dari langit satu per satu.
    Membanjiri halaman rumah itu
    Aliran nafas menjadi tidak menentu
    Menambah Sesak hidupku.

    Bangunan yang menghias kota
    Mulai menghilang dari pandangan mata.
    Perih rasanya
    Mata tidak dapat kembali membuka.
    Melihat indahnya pemandangan kota
    Kotaku yang tercinta.

    Lihat semua ini
    Siapa yang bertanggung jawab atas segala yang terjadi.
    Manusia yang tak punya hati
    Tega melakukannya demi diri sendiri
    Sungguh tak punya nurani.

    Lingkungan ini milik kita semua
    Tuhan mewariskan alam untuk kita jaga.
    Bukan untuk dirusak oleh manusia
    Karena itu adalah harta yang berharga.

    Palembang, 29 September 2009



    Puisi II
    Tema : Patriotisme

    Gelora Patriotisme
    Karya : Febria/11

    64 tahun silam...
    Pahlawan mengorbankan jiwa dan raga.
    Demi merebut kemerdekaan Indonesia
    Dari tangan penjajah.

    Mereka mendedikasikan seluruh hidupnya
    Untuk mencapai Indonesia bersatu.
    Untuk mencapai Indonesia sejahtera
    Untuk mencapai Indonesia yang baru.

    Semua kalangan
    Dari para remaja hingga orang dewasa.
    Ikut serta dalam pembangunan
    Negara kita, Indonesia.

    Kini...
    Rasa itu hampir mati.
    Semangat berapi-api
    Tak pernah terlihat lagi.
    Apa penyebab semua ini?

    Kita
    Sebagai generasi muda.
    Bagaimana cara kita memandangnya?
    Bagaimana cara kita memperjuangkannya?

    Kita
    Generasi muda.
    Tidak harus mengorbankan jiwa dan raga
    Seperti pahlawan yang telah tiada.

    Satu-satunya
    Yang dapat kita lakukan untuk negara.
    Yaitu belajar dengan sungguh-sungguh
    Menuju esok hari yang cerah.

    Mengharumkan nama Indonesia
    Seperti sedia kala.
    Kita tunjukkan pada dunia
    Bahwa Indonesia masih ada.
    Dan akan berjaya
    Untuk selamanya.

    Palembang, 29 September 2009

    BalasHapus
  3. Nama : Eflin Winata
    Kelas : XI IPA 7
    Nomor absen : 10

    Puisi 1
    Tema : Religi

    Syukur pada Tuhan

    Di setiap aku terbangun
    Kulihat indahnya pagi
    Matahari cerah,angin yang menyejukkan
    Di situlah langsung teringat akan kebesaran-Mu

    Aku ingin rasanya terbang
    Melihat Dunia ini yang begitu indah
    Dengan-Mu Tuhanku
    Untuk melihat karunia-Mu kepadaku

    Tuhan...
    Terima kasih atas hari yang cerah
    Walaupun hari dijalani terkadang sulit
    Tetapi itulah kehidupan

    Aku bersyukur atas keagungan-Mu
    Engkau telah memberikanku kehidupan
    Kehidupan yang berartidan bermakna
    Aku mau engkau selalu menjagaku

    Puisi 2
    Tema : Cinta tanah air

    Indonesiaku Tercinta

    Indonesia....
    Walaupun engkau telah 64 tahun
    Engkau masih tetap Indonesiaku
    Indonesia yang merdeka dan tercinta

    Aku sangat mencintai Indonesiaku
    Indonesia yang subur dan indah
    Dengan keanekaragaman suku dan budaya
    tetapi tetap satu dan berjaya

    Aku ingin engkau terus berjaya
    Berjaya selama-lamanya
    Walaupun diterpa berbagai cobaan
    Indonesia harus tetap bersatu

    Tak ada yang lain selain engkau Indonesiaku
    Tanah Indonesiaku yang subur
    Tanah Indonesiaku yang makmur
    Ku cinta engkau Indonesiaku

    BalasHapus
  4. Nama : Sendy Alfandy Budiman
    Kelas : XI IPA 7
    Nomor Absen : 38

    Puisi 1
    Tema : Krisis kepercayaan terhadap budaya bangsa

    Lindungi Budaya Kita
    Karya Sendy A. B.

    Hari demi hari ...
    Terus berjalan ...
    Waktu demi waktu ...
    Terus bergulir ...
    Kemajuan dan semangat masyarakat
    Yang kini mulai mengarah
    Pada globalisasi

    Budaya di dapat
    Serta dikreasikan
    Dengan seluruh pemikiran
    Hingga kreativitas
    Dikrisis ...
    Disingkirkan ...
    Hingga kebudayaan modern berjaya

    Kobaran semangat pahlawan
    Pudar ...
    Akibat krisisnya kepercayaan
    Terhadap budaya bangsa
    Lindungi Budaya Indonesia
    Budaya yang dikreasikan
    Dan menjadi ciri khas ...


    Puisi 2
    Tema : Kritik Birokrasi

    Kepercayaan yang Ternoda
    Karya : Sendy A. B.

    Birokrasi ...
    Bagian terpenting suatu negara
    Terpilih dan dipilih
    Dari segenap kepercayaan

    Banyaknya godaan
    Dari para setan seolah merasuki mereka
    Untuk menodai
    Kepercayaan masyarakatnya

    Masyarakatlah korban
    Korban noda itu
    Hanya demi
    Ketamakan mereka ...

    Kepercayaan yang ternoda
    Oleh para koruptor anggota birokrasi
    Sistem birokrasi ditinggalkan
    Dimanakah tanggung jawab mereka ?

    BalasHapus
  5. Nama : Ajeng Wulandari
    Kelas : XI IPA 7
    Nomor absen : 03

    Puisi I
    Tema : Religi

    Tuhan Maha Mendengar
    Karya : Ajeng Wulandari/03

    Bencana
    Bencana
    Bencana
    Bencana selalu datang
    Mengapa ini selalu terjadi
    Apakah yang telah kita lakukan
    Gempa Bumi, Banjir, Tanah Longsor
    Selalu datang silih berganti

    Tuhan apakah yang harus kami lakukan
    Semua telah berubah
    Dan banyak yang telah tidak peduli lagi
    Terlalu banyak kesalahan yang telah kami lakukan
    Sampai kami lupa KepadaMu
    Engkau yang telah memberikan semuanya kepada kami
    Kau tak pernah melupakan kami
    Tapi kami sering melupakanMu

    Apakah ini sebuah cobaan
    Apakah ini sebuah ujian
    Atas semua kesalahan yang kami lakukan
    Kami sadar kami salah
    Tolong bantulah kami keluar dari semua masalah ini
    Kami tahu Kau mendengar doa kami
    Betapapun seringnya kami membuatMu kecewa
    Engkau selalu ada bersama kami
    Sekarang bantulah kami untuk berubah
    Berubah menjadi yang lebih baik lagi
    Tuhan hanya Engkaulah yang dapat membantu kami
    Karena Engkau selalu mendengar doa dari kami

    Palembang,2 Oktober 2009

    Puisi II
    Tema : Cinta tanah air

    Semangat Cinta Tanah Air
    Karya : Ajeng Wulandari/03
    Merdeka
    Merdeka
    Merdeka
    Suara-suara pekikan-pekikan
    Yang selalu terdengar ketika 17 Agustus
    Semua warga Negara bersorak sorai
    Merayakan kemerdekaan RI

    Tapi apalah arti semua itu
    Semua hanya topeng
    Terlalu banyak ketidakpedulian
    Akan Negara yang mereka tinggali
    Merusak alam hanya untuk kepentingan sendiri
    Menyengsarakan rakyat dengan mengumbar jani-janji palsu
    Apakah ini perwujudan cinta akan tanah air
    Dengan membuang sampah di sungai
    Dan akhirnya terjadi banjir
    Dengan mengambil uang rakyat
    Dan membuat mereka miskin

    Ibu Pertiwi menangis
    Melihat generasi sekarang telah lupa akan tanah airnya
    Mereka semua sibuk membanggakan Negara lain
    Ya memang sekarang Indonesia belum sehebat Negara lain
    Tapi apa gunanya kita sebagai generasi muda
    Apakah kita rela Negara lain menghina kita
    TIDAK itu jawaban yang tepat
    Karena untuk merdeka saja kita harus susah payah merebutnya
    Mari kita bersatu untuk membangkitkan Negara kita
    Kita tunjukkan semangat akan cinta tanah air
    Bersatu untuk membuat Indonesia lebih maju
    Tuntaskan kemiskinan, kelaparan, kemunduran yang selama ini ada
    Berjuanglah seperti pahlawan yang dulu berhasil membuat Indonesia merdeka
    Buat kita bangga menjadi warga Negara Indonesia

    Palembag,2 Oktober 2009

    BalasHapus
  6. Nama : Theresia
    Kelas : XI IPA 7
    No. Absen : 43

    Puisi 1
    tema :Teknologi Informasi

    Komputer
    Karya : Theresia/43

    Di zaman yang modern ini
    Keberadaan komputer tidak asing lagi
    Di kalangan kaum atas dan kaum kecil
    Komputerlah yang mewarnai hidup kami

    Keberadaan komputer sangat lengkap
    Dari sederhana hingga banyak rangkap
    Sehingga membuat kita lebih cepat menangkap
    Dan berhenti menjadi orang yang gagap

    Sekarang zaman, zaman facebook
    Tetap bisa internetan walaupun mata mengantuk
    Dan dapat berpikir walaupun sedang mabuk
    Dan juga dapat mendownload lagu yang angguk-angguk

    Komputer banyak digunakan oleh manusia
    Dari yang sama kasta hingga berbeda kasta
    Pemakaiannya yang efisien dan mudah
    Dapat dipakai orang berstatus tinggi maupun rendah

    Semoga komputer terus dipakai sepanjang masa
    Agar bisa terus dipakai oleh kalangan anak muda dan orang tua
    Semoga komputer terus dipakai di seluruh dunia
    Selamanya

    Palembang, 2 Oktober 2009


    Puisi 2
    Tema: cinta

    Kenangan Sesaat
    Karya:Theresia/43

    Hari itu
    Waktu aku bertemu denganmu
    Berdebar-debar hatiku
    Ingin ku ungkap suatu kata untukmu
    Namun diriku tak mampu
    Entah mengapa ini terjadi padaku
    Diriku takut tuk ungkapkan sesuatu padamu

    Pertemuan ini
    Hanya berlangsung saat ini
    Dan kau pun harus pergi
    Meninggalkan aku disini sendiri

    Mengapa ini semua harus terjadi
    Akankah kita akan berjumpa lagi
    Atau hubungan kita hanya dapat seperti ini
    Apakah aku harus menunggumu terus seperti ini

    Ingin ku bertanya padamu
    Pernahkah kau memikirkanku
    Walau hanya sedetik di hidupmu
    Itu sudah cukup bagiku
    Namun ku tak pernah mendapatkan jawaban darimu
    Jawaban yang aku mau

    Palembang, 2 Oktober 2009

    BalasHapus
  7. Nama:Sony Afriandy
    Absen: 39

    Puisi 1,
    Tema: Krisis kepercayaan terhadap budaya bangsa

    Dimana Budaya Yang Elok Itu?

    Ketika ku teringat kisah lalu bangsaku
    Betapa eloknya bangsaku
    Dengan budaya yang menawan di mata dunia
    Menghiasi tiap langkah di berbagai pelosok

    Namun, kini semua hanya tinggal cerita
    Pudar sudah warisan leluhur bangsa yang elok itu
    Budaya yang dulu dibanggakan
    Kini diabaikan seakan tak pernah ada
    Tak dipercaya bagaikan sampah

    Telah banyak budaya yang telah hilang
    Hilang tergerus zaman
    Telah banyak budaya yang telah dirampas
    Dirampas seakan tak berharga
    Bangsa ini seakan tak peduli dengan budaya sendiri

    Tak maukah anak bangsa ini menjaga warisan indah ini?
    Maukah bangsa ini hanya menjadi bangsa yang buta budaya?

    Biarlah kesadaran bangsa sendiri yang menentukan
    Jangan kau biarkan warisan budaya ini pudar
    Jangan biarkan pudar di makan waktu
    Kita semua…
    Harus menjaga warisan budaya ini



    Puisi 2,
    Tema: Kritik Birokrasi


    Tikus Negara

    Sejenak aku terdiam dan tersentak
    Tercium olehku
    Bau busuk yang menodai kemerdekaan negeriku
    Busuknya tingkah para tikus-tikus berdasi
    Yang berpesta dalam birokrasi

    Yang cerdik dan licik
    Berkelit lincah mengelak dari segala perkara
    Menutupi lubang kebohongan yang ada

    Dengan mulutnya yang manis, mengumbar janji-janji palsu
    Dengan perutnya yang tak pernah kenyang, memakan harta para rakyat
    Membuat negeri ini jatuh dalam derita
    Menenggelamkan harapan para rakyat kecil

    Kau jadikan politik sebagai sarangmu yang usang
    Kau jadikan uang untuk membeli kuasa di negeri ini

    Buat apa dulu pejuang meneteskan darah di tanah bangsa ini?
    Buat apa negeri ini merdeka?
    Jika tingkah para pemimpin sebusuk ini
    Masihkah akan tersimpan bau busuk ini?
    Kapan akhir dari derita rakyat ini?

    Kami butuh pemimpin yang bersih
    Bukan seperti tikus yang hanya bisa manis di bibir

    BalasHapus
  8. Nama: Fenny Yunistia Kosinga
    Kelas/no: XI IPA 7/ 12

    Puisi 1
    Tema : Kepedulian

    Kepedulian Sang Malaikat
    Karya: Fenny/ 12

    Di saat kau menelusuri lorong rumahmu
    Di saat kau melewati gedung sekolahmu
    Saat kau mengelilingi kota kelahiranmu
    Tergerakkah hatimu
    Tak Goyakah mata batinmu
    Atau telah tumpul perisai hatimu

    Sampah-sampah yang menggunung
    Kertas-kertas yang berterbangan
    Botol bekas yang berbaris rapi
    Takkah tanganmu tergerak
    Adakah kau menyentuhnya
    mengambilnya...
    membuangnya...

    Setitik keringat yang kau keluarkan
    Sedikit peluh yang kau rasakan
    taukah kau dampaknya
    sekililingmu akan menari riang karenamu
    dan mereka bersukacita karenamu...

    Palembang,2 Oktober 2009

    Puisi 2

    Tema: Patriotisme

    Pahlawan Pendidikan
    Karya : Fenny/12

    Kami berdiri disini
    Kami yang bersatu padu
    Kami bagi generasi kami
    Kami adalah pejuang pendidikan

    Wahai pemuda pemudi
    Janganlah semangatmu patah
    Kobarkanlah jiwa kepahlawanmu
    Bangkitlah menuju masa depanmu

    Berdiri tegak melawan kemalasan
    Takkan tunduk kepada kebodohan
    Berjuang demi masa depan
    Menuju kesuksesaan

    Palembang, 2 Oktober 2009

    BalasHapus
  9. Nama : Agnes Wijaya
    Kelas : XI P 7
    No. Absen : 02

    Puisi 1
    Tema : Religi

    Kebaikan Tuhan

    Ku bangun di pagi hari
    Melihat bulan yang mulai menghilang
    Melihat matahari yang mulai bersinar
    Melihat indahnya dunia ini

    Ku menyadari betapa baik Tuhan
    Memberi ijin kepada kita
    Menempati dunia yang dibuat-Nya dengan susah payah
    Dan memberi ijin kita untuk merawat dunia ini

    Tetapi mengapa?
    Mengapa kita masih saja jahat kepada-Nya?
    Mengapa kita tidak merawat dunia ini dengan baik?
    Mengapa kita masih saja menjauhi dan melupakan-Nya?

    Memang Tuhan itu pengampun
    Tetapi tidak seharusnya kita seperti ini kepada-Nya
    Apabila kita sedang senang
    Kita akan melupakan Dia
    Tetapi apabila kita sedang mengalami kesulitan
    Kita baru teringat akan Dia dan meminta bantuan-Nya

    Bila kita gagal kita akan mencaci maki Dia
    Bila kita mengalami kesulitan kita akan menyalahkan Dia
    Kita harus tahu
    Semua yang kita alami adalah rencana-Nya
    Dan rencana itu direncanakan demi kebaikan kita

    Kita seharusnya bersyukur atas apa yang kita alami
    Bukannya malah melupakan-Nya
    Mencaci maki-Nya
    Dan menyalahkan-Nya

    Ketahuilah bahwa Tuhan menyayangi kita semua
    Dan dibalik rencananya tersimpan kebaikan dari-Nya
    Kita harus bersyukur kepada-Nya
    Dan tidak melupakan, menyalahkan, serta mencaci maki-Nya


    Puisi 2
    Tema : Cinta Tanah Air

    Indonesia

    Indonesia...
    Negara yang indah dan kaya akan sumber daya
    Negara yang dijuluki ‘Zambrud Khatulistiwa’
    Negara yang kaya akan budaya dan beranekaragam agama

    Pada tanggal 17 Agustus 1945
    Kau merdeka
    Bebas dari para penjajah
    Tak terasa kau telah berumur 64 tahun

    Kau begitu kokoh dan kuat
    Kau begitu indah
    Kau memiliki para pejuang
    Pejuang yang berjuang pada masa perang
    Mereka telah menunjukkan kemerdekaan mereka
    Dengan mengibarkan bendera kebanggaan kita
    Bendera Merah Putih

    Indonesia...
    Kau adalah negara yang paling aku banggakan
    Negara yang paling aku cintai
    Dan negara yang paling aku sukai

    Walaupun kau bukanlah negara yang maju dibanding dengan negara lain
    Tetapi dengan bersatu dan berjuang kau dapat melawan perkembangan jaman
    Menjadi negara yang maju
    Berjuanglah untuk menjadi negara yang maju
    Maju melebihi negara yang lain

    Palembang, 2 Oktober 2009

    BalasHapus
  10. Nama : Ayu Pranindya
    Kelas : XI IPA 7
    Nomor absen : 06

    Puisi I
    Tema : Religi

    KasihNya Menyertai
    Karya:Ayu Pranidya/06

    Tuhan...Engkaulah pelindungku
    Pelita dikala gelap arahku...
    Tuhan...ketika segala sesuatunya musnah...
    Engkau tetap ada dalam keagunganMu...
    Betapa muliaNya diriMu

    Ketika aku kehilangan arah
    Engkau datang melalui perantaraanMu
    Kau menyelamatkan aku dari kegalauan diri
    Tuhan...Kaulah pelindungku

    Disaat aku terjatuh...
    Kau seolah-olah datang merangkulku
    Dalam setiap tangis dan doaku...
    Seakan-akan Kau datang menggengam tanganku
    Dan memberikan cinta kasih dan rasa aman dalam peluk ini

    Kubalut diriku dalam doa dan iman
    Lalu kubasuh diriku dengan ibadah
    Agar aku tetap dekat padaMu
    Kuserahkan jiwa dan ragaku seutuhnya dalam raunganMu

    Palembang,2Oktober 2009

    Puisi II
    Tema:Cinta Tanah Air

    Atas Nama Indonesia
    Karya:Ayu Pranindya/06

    Indonesia tempat aku dilahirkan
    Tempat dimana aku dibesarkan, dan
    Diajarkan beagaimana cara bertahan hidup...
    Suatu tempat dimana aku akan menghabiskan
    Sisa hidupku nanti bersama keluargaku

    Indonesia tanah airku
    Disana biasaaku bersama ayah dan bundaku
    Dan saudaraku bercanda tawa bersama
    Melewati suka dan duka di Indonesia

    Indonesia yang elok nan permai
    Betapa subur dan indahnya dirimu
    Kau rengkuh aku dalam pesona warisan negerimu
    Kan kujaga dan kucintai hingga akhir hayat

    Nama Indonesia telah terukir dalam dadaku
    Dan menjalani seluruh aliran darahku...
    Bak seorang pahlawan aku berteriak,
    "Aku Cinta Indonesia"
    Lalu akupun bernyanyi
    "Indonesia tanah air beta,Pusaka abadi nan jaya"

    Palembang,2Oktober 2009

    BalasHapus
  11. Nama:Teofilus Zabdiel Budiono
    Kelas:XI IPA 7
    Nomor absen:42

    Puisi I
    Tema:Teknologi Informasi


    Facebook-ku
    karya:Teofilus/42


    Facebook..

    Engkau adalah temanku
    Teman yang membuka mataku
    Ratusan teman kau kenalkan padaku
    Berkatmu bertambahlah sahabatku

    Engkau tempatku mengadu
    Mengadu seluruh perasaanku
    Bahagia, Sedih, lesu
    Kau adalah curahan hatiku

    Engkau mengoreksi hidupku
    Ketika kesalahan membebaniku
    Engkau mengomentari diriku
    Menjadikanku lebih baik

    Engkau sumber informasiku
    Mengetahui kabar terbaru
    Menjadi refrensiku
    teknologi kebanggaanku

    Sungguh facebook
    Aku bangga padamu

    Palembang, 2 Oktober 2009


    Puisi II
    Tema:Cinta

    Mantan Kekasihku
    Karya:Teofilus/42


    Dahulu aku mencampakkanmu
    Tak sudi lagi bersamamu
    Tak sakit aku membuangmu
    Tak ragu aku memutuskanmu

    Namun kini kusadari
    Tanpamu aku bagaikan tak ada
    Hampa hidupku tanpamu
    mantan kekasihku

    Setiap malam dingin datang
    Raut wajahmu membayang dipikiranku
    Senyum manjamu bak bunga mawar
    Tak kuat aku menahan rinduku

    Kenangan manis kita berdua
    Terpampang jelas di khayalanku
    Mengingat masa kita berdua
    Bersama menempuh cinta

    Namun kini berbeda
    Hatimu telah terisi orang lain
    Tak berdaya aku melihatnya
    Kini kau benar-benar telah pergi

    Sayangku..
    Maafkan manusia bodoh ini
    Jika waktu dapat ku ulang
    Tak akan pernah aku mencampakkanmu

    Aku berjanji..
    Jika kau kembali
    Aku akan menyayangimu
    Dengan segenap cintaku

    Palembang, 2 Oktober 2009

    BalasHapus
  12. nama : inggrid oktavia willianto
    kelas : IX IPA 7
    no.absen : 20

    puisi 1

    tema : kepedulian lingkungan


    Alam kini menangis


    Apa yang telah di ciptakan Tuhan
    Kini semua tinggal tanda Tanya
    Manusia bagai tak mengerti
    Semua pemberian Tuhan
    Di abaikannya saja semuanya itu


    Dan kini Tuhan marah
    Marah atas perbuatan manusia kepada alam-Nya
    Manusia tidak menghargai pemberian Tuhan
    Manusia lebih banyak mengeluh di banding bersyukur


    Banjir yang telah melanda di negeri ini
    Semua karena ulah manusia
    Manusia yang tidak ingin perduli terhadap lingkungan
    Yang lebih mementingkan kepentingan pribadi

    Asap yang kini bertebaran dimana mana
    Itu juga ulah manusia
    Ulah manusia atas pembakaran hutan
    Sehingga menimbulkan asap dimana mana
    Dan akhirnya banyak orang orang sekitar kita yang sakit

    Gempa yang terjadi di berbagai daerah
    Itu semua teguran dari Tuhan
    Tetapi manusia tidak perna menyadari
    Bahwa Tuhan menciptakn alam yang indah
    Bukan untuk di sia siakan begitu saja
    Tetapi untuk dihargai

    Betapa indahnya Indonesia
    Bila tercipta alam yang indah
    Betapa bangganya masyrakat Indonesia
    Bila alam nya terjaga

    Pemanasan global juga sudah semakin memarak
    Sudah semakin sulit untuk di atasi
    Siapa lagi yang akan memulai jika bukan kaum muda
    Mulai lah menjaga alam ini dari sesuatu hal yang sangat kecil .


    puisi 2

    tema : patriotisme

    Sang Pahlawan

    Disini
    pohon yang tumbuh
    daun yang berguguran kita melihatnya
    dan angin yang berlepas gegas ke arah kita
    semua dapat kita nikmati karena mereka

    saat turun hujan deras
    mereka tetap berjuang keras
    kita menikmatinya
    kemenangan yang selalu kita banggakan

    menyusuri hutan penyiksaan
    mereka tetap mempertahankan walaupun menderita
    kemerdekaan yang kita dapatkan
    itu semua karena mereka
    Sang pahlawan ..
    yang rela gugur dan berjuang demi tanah air kita …
    terimakasih pahlawan ku …

    BalasHapus
  13. Nama : Titin Mardiana Anggraini
    Kelas/No. : XI IPA 7/44




    Puisi 1
    Tema: Cinta
    INDAH DAN GELAPNYA DUNIA
    Karya:Titin Mardiana Anggraini/XI IPA 7/44

    Cinta…
    Kata ini begitu indah bila dirasakan
    Cinta dapat membuat hati menjadi bergetar
    Bergetar bila berada disisi orang yang dicintai


    Kata dan perasaan ini membuat dunia serasa berubah
    Bagaikan milik berdua dan tak ada orang lain disekitar
    Cinta bisa membuat dunia menjadi gelap
    Bila mata dan hati sudah menjadi buta


    Dunia tak akan mungkin bisa menjadi gelap
    Bila perasaan bisa dijaga dengan cinta
    Dan cinta dapat menjadi indah selamanya
    Bila dipenuhi dengan kasih dan saying…


    Palembang, 4 Oktober 2009


    Puisi 2
    Tema: Kepekaan Terhadap Teknologi Informasi

    KERTAS YANG TERSAINGI
    Karya:Titin Mardiana Anggraini/XI IPA 7/44


    Zaman telah berubah menjadi semakin maju
    Dulu,sebuah kertas menjadi dasar untuk curahan hati
    Sebuah pena menjadi alat untuk menulis
    Sebuah amplop menjadi alat pelindung bagi kertas


    Kini zaman menjadi maju
    Alat-alat itu kini tak lagi digunakan
    Kini sebuah alat teknologi canggih telah ada
    Banyak orang menggunakan komputer untuk melakukan berbagai hal


    Dari alat itu banyak hal dapat dilakukan
    Hampir semua orang bisa menggunakan dan memiliki teknologi itu
    Teknologi itu kini telah membantu kita
    Dalam melakukan berbagai hal…


    Palembang, 4 Oktober 2009

    BalasHapus
  14. Nama : Mukti Supradi
    Kelas : XI IPA 7
    Nomor absen : 32

    Puisi 1 : Krisis Kepercayaan Terhadap Budaya Bangsa

    Kesadaran Untuk Budaya Bangsa
    Karya : Mukti Supradi

    Budaya..
    Kesenian terpancar dari katamu
    Keindahan terbayang dari pikiranku
    Hidup matimu di negara tempat kau berasal

    Biarkan aku melihat keindahanmu
    Biarkan aku menjaga keindahanmu
    Tetapi kini, perlahan
    engkau tertiup angin rakyatmu sendiri

    Ketidakpedulian akan dirimu
    Membuat engkau menghilang tanpa jejak
    Baktimu kepada rakyatmu
    Bagai mesin dengan manusia

    Tetapi kini..
    Apa yang harus kita perbuat?
    Rasa hirau, ketidakpercayaan
    Membuat kami menolak memandangmu

    Perbuatan terhadap dirimu
    merebut engkau dari kami
    membuka kesadaran jiwa dan raga kami
    Satu keindahan darimu
    sangat berarti bagi kami
    pencinta akan dirimu


    Puisi 2 : Kritik Birokrasi

    Jabatan Didapat, Korupsi Lahir
    Karya : Mukti Supradi

    Wajah serta janji
    bertebaran di dinding yang kosong
    dengan maksud yang sama
    Begitulah pemandangan yang kulihat
    searah dua kaki ini berjalan

    Segala hal telah dilakukan
    Membuat janji
    Membuka jati diri
    Untuk satu alasan
    yaitu Jabatan

    Janji memimpin agar hidup lebih baik
    Itulah modal awal bagi mereka
    Rakyat yang menentukan
    Namun hidup menjadi taruhannya

    Kelaparan, terlantar, kemiskinan
    Apa itu tindakan dari sebuah janji
    janji para pemimpin bangsa
    yang telah dipilih orang rakyat

    Hilangnya dana bantuan
    Seperti daging yang terurai
    Tak satupun yang tahu
    Selain Tuhan

    Inikah hidup lebih baik
    Inikah janji-janji mereka
    Inikah anti korupsi
    Hingga masih banyak penderitaan

    Jabatan pemimpin didapat
    Kata memimpin bersih terucap
    Namun pada akhirnya
    Korupsi angkat bicara

    BalasHapus
  15. Kritik untuk Birokrat dan Wakil Berdasi

    Lihat !
    Masih mungkinkah hati yang berisi ?
    Saat logika sudah berbau terasi.
    Saat nurani kian ter-erosi.
    Di kilatan hujan pesona yang tidak kunjung basi.

    Lihat !
    Dendang birokrat dan wakil berdasi..
    Penuh sandiwara mengejar kursi.
    Saat tikus sibuk pesta korupsi.
    Kucing sedang giat pamer gusi.
    Terbuai di empuknya jok mercy.

    Lihat !
    Gempita riuhnya demokrasi.
    Menumbuhkan nurani yang semakin membesi.
    Saat Rakyat butuh nasi.
    Tapi justru di kremasi.

    Sudah !
    Ini bukan Demonstrasi.
    Ini juga bukan atraksi.
    Ini hanyalah puisi.
    Dari hidup yang sesungguhnya mati .

    Karya : Nora Fransisca
    Kelas : XI IPA 7 / 34
    Palembang, 4 Oktober 2009
    Tema : Kritik terhadap Birokrasi

    BalasHapus
  16. KAMI DAN KAMU
    Kami menumbuk padi dan kamu menikmatinya .
    Karena kami hidup berhimpitan dari ruangmu yang berlebihan .
    Sehingga kita bukan sekutu.

    Kami dekil dan kamu gemerlepan.
    Karena kami diam dan kami mengunci pintu.
    Maka kami mencurigaimu.

    Kami terlantar di jalan dan kamu memiliki keteduhan.
    Karena kami kebanjiran dan kamu berpesta di kapal pesiar.
    maka kami tidak menyukaimu.

    Kami dibungkam dan kamu terus bicara.
    Karena kami diancam dan kamu memaksakan kekuasaan.
    maka kami bilang TIDAK kepadamu.

    Kami tidak boleh memilih dan kamu bebas berencana .
    Karena kami cuma bersandal dan kamu bersepatu mengkilap .
    Karena kami harus sopan karena kamu punya penjara.
    maka TIDAK dan TIDAK kepadamu.

    Kami rakyat !!
    Karena kami ingin budaya kami yang dulu !!
    Maka kami mengharapmu !!


    Karya : Nora Fransisca
    Kelas : XI IPA 7 / 34
    Palembang, 4 Oktober 2009
    Tema : Krisis Budaya Bangsa

    BalasHapus
  17. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  18. Nama : Monica Callorin
    Kelas :XI IPA 7
    No. absen: 31

    puisi 1
    tema : Krisis kepercayaan terhadap budaya bangsa


    Dimanakah Budayaku?

    karya: Monica Callorin

    Setiap kali aku merenung
    Apakah gaya hidup bergelamor penting?

    Setiap kali aku menyimak
    Apakah pola pikir tradisional harus diungsikan?

    Setiap kali aku memutar otak
    Apakah budaya yang oposisi telah mendarah daging?

    Sedemikian ku membayangkanmu
    Semakin ku mencari budayaku
    Betapa ku merindukanmu
    Betapa ku menginginkan kau datng kembali
    Budayaku

    Dengan mengklik tombol reformasimu
    Pelukan perubahan signifikan sangat erat
    Budaya yang sangat oposisi
    Merasuki tubuh bangsa ini
    Luapan arus globalisasi terus ikut andil

    Bersandang pada suatu kisah
    Budayaku semakin pudar
    Pudar termakan usia
    Budayaku terpecah belah

    Bagaimana dengan anak bangsa ini?
    Tergerakah hati mereka
    Sadarkah mereka sekarang?
    Akan hilangnya kebudayanku
    Budaya kita semua

    Aku mencari kembali
    Mencari jati diri budayaku
    Aku menjelajahi dunia
    Tapak demi tapak dunia fana ku tempuh
    Keropos tulang kuabaikan
    Kaki tigaku berjalan terus maju

    Apadaya manusia
    Semua lidah telah mengayun
    Semua mata telah menatap
    Tiada kedipan yang berarti

    Menjelajahi waktu tanpa henti
    Mengiris jaman tak kunjung habis

    Budayaku semakin pudar
    Ternoda
    Tersayat
    Terjajah
    Tarikan kuat medan magnet akan budaya Barat
    Manusia terperangkap dalam jaman globalisasi

    Hanya kenangan yang tersisa
    Hanya memori yang terlintas
    Hanya rindu yang terpendam
    Semua terkubur musnah dalam lubuk hati




    Puisi 2
    Tema: kritik terhadap birokrasi

    Jeritan Kaum Papa

    karya: Monica Callorin

    Beban kami memikul segelora impian
    Bertabuh dalam hati yang brutal
    Bersemayam dalam jiwa yang rapuh
    Fentilasi udara bebas hanya bertepuk dalam angan-angan

    Jerit tangis kelaparan telah meraungi
    Jasad tubuh tergeletak tak berdaya
    Menutup sinaran canda tawa yang kelam
    Beratus juta tetes keringat telah kami sisihkan

    Apadaya kami
    Ulah sosok tikus-tikus negara itu
    semakin merajalela
    Hama pemberantas tak membendung
    Penyemprotan pestisida hanya sebagai acuan
    Sementara
    Para tikus negara tak kunjung ampun

    Wahai tikus negara…
    Pernakah engkau mendengarkan teriakan kami?
    Pernakah engkau mendengar haluan kami?
    Suara yang berisi perasaan kami

    Wahai pengikut tikungan tikus…
    Pernakah engkau merasakan penderitaan kami?
    Kami di sini sangat membutuhkanmu
    Kami disini mengharapkan belas kasihmu
    yang tak kunjung pecah

    Wahai para penjelajah tikus…
    Kau hiraukan jerit tangis kelaparan kami
    Kau ambil sebutir demi sebutir nasi kami

    Wahai para tikus negara…
    Hentikan kebinasaanmu
    Coba gertakkan hati kecilmu
    Berdiri dan lihatlah kami disini

    Keserakahanmu menerkam kami
    Menggunungkan bukit hartamu
    Menggali dalam-dalam lembah kehidupan kami
    Keserakahanmu menghantui amarah kami

    Teriakan kami, para kaum papa
    Tak membuat engkau jerah
    dan
    Hanya itulah kemampuan kami
    Sakit dan perih telah diakui
    Hanya tersisa rasa letih yang menghinggapi

    Kefatalanmu membinasakan kami
    Pengharapan kepada bintang tak kunjung jatuh
    Lingkaran kesabaranpun telah musnah
    Genggaman tangan ini hanya menantimu

    Goyangkanlah jiwamu
    Tutuplah lembar masa silam
    Hentikan rasa nafsu
    Keluarkanlah kami dari lubangmu
    Lubang yang engkau buat dan memasukkan kami
    Akankah engkau akan jerah saat kami smua musnah dari dunia ini?


    Palembang, 3 April 2009

    BalasHapus
  19. Nama: Helen Indradjaja
    Kelas: XI IPA 7
    No absen : 17

    PUISI 1
    tema: peduli lingkungan

    Hilang dengan tanda
    karya : Helen Indradjaja

    Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
    Meluncur lewat sela-sela jari kita
    Ada sesuatu yang mulanya tak begitu jelas
    Tapi, kini kita telah mulai merindukannya
    Kita saksikan air danau yang semakin surut warnanya
    Burung-burung kecil tak lagi berkicau di pagi hari
    Hutan kehilangan ranting
    Ranting kehilangan daun
    Daun kehilangan dahan
    Dahan kehilangan hutan

    Kita saksikan gunung memampa abu
    Abu membawa batu
    Batu membawa lindu
    Lindu membawa longsor
    Longsor membawa banjir
    Banjir membawa air
    Air mata

    Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
    Bisakah kita membaca tanda-tanda

    PUISI 2
    Tema: patriotisme

    Pahlawanku
    karya : helen indradjaja

    Dulu
    Kau begitu tangguh
    Kau begitu bergelora
    Kau begitu bersemangat
    Tak kenal lelah
    Angkat senjata
    Angkat bambu runcing

    Tapi kenapa
    Ketika zaman berganti
    Ketika zaman berubah
    Ketika zaman lewat
    Kau begitu saja hilang
    Terlelap dengan zaman yang maju

    Pahlawanku
    Tanpamu
    Takkan ada hari esok

    Dengan ketulusanmu
    Dengan pamrihmu
    Dengan gentarmu
    Terimakasih pahlawanku

    BalasHapus
  20. Nama : Katharine Suyanto
    Kelas : XI IPA7
    No. Absen: 25

    Puisi 1
    Tema: Cinta Terhadap Kaum Kecil

    Tangisan Kaum Kecil
    Karya: Katharine Suyanto/25

    Kesulitan
    Kekurangan
    Bahkan hinaan
    Selalu menerpa tanpa memandang

    Penderitaan kian mengerat
    Duka dan duka melengkapi hidupnya
    Kerasnya hidup
    Menjadi jeritan hatinya

    Kegelisahan selalu hadir
    Kelaparan yang mengusik
    Kepanasan bahkan kehujanan menghantam
    Semua itu menjadi teman hidupnya

    Linangan air mata selalu menemaninya
    Hanya doa yang dihaturkan
    Berharap dan terus berharap
    Esok yang lebih baik

    Akankah ada hati yang tergerak?
    Tersentuh melihat nasibya
    Akankah ada uluran tangan?
    Bersiap membantu kesulitannya

    Uluran tangan, rasa iba
    Sudah sepantasnya hadir
    Demi meringankan bebannya
    Beban yang tak kunjung akhir




    Puisi 2
    Tema: Dekadensi Moral

    Mau Kemanakah Engkau Kaum Muda ?
    Karya: Katharine Suyanto

    Fenomena sosial melanda masyarakat
    Kemerosotan moral kian membayang
    Banyaknya pelanggaran norma
    Kini mencapai titik kekhawatiran

    Seiring derasnya arus globalisasi
    Menjadikan dunia ini semakin sempit
    Pengaruh yang cenderung negatif
    Menjatuhkan kaum muda

    Kaum muda adalah harapan bangsa
    Harapan di masa depan
    Kini semua hanya harapan kecil
    Yang tak dapat dibayangkan

    Etika sosial tak lagi diindahkan
    Perbaikan bangsa pun mengalami hambatan
    Minimnya kesadaran
    Menjerumuskan ke jurang hitam

    Kesadaran diri amat diperlukan
    Membawa kaum muda menuju perbaikan
    Perbaikan yang tertuju pada harapan
    Bahkan memberi panutan bagi generasi berikutnya

    Palembang, 3 Oktober 2009

    BalasHapus
  21. Nama: Riky Mulyadi
    Kelas/No. Absen: XI P7/ 36

    Puisi 1
    Tema Kritik birokasi

    Kekosongan Para Orang Tertindas

    Melihat keadaan bumi pertiwi
    Bagai ampas tak berarti
    Bila bumi bisa bicara
    Amat pedih hati terasa

    Melihat keadaan bumi pertiwi
    Bagai bangkai yang mati membusuk
    Digerogoti oleh belatung belatung yang tidak pernah puas
    Hingga tiada lagi dikenal

    Kini tanahku mengering
    Tiada lagi senyum orang kecil
    Banyak insan terbujur kaku
    Sementara yang lain bermandikan kilauan
    Banyak wajah menatap kosong
    Melihat pesta atas kesengsaraan nya

    Apakah yang akan kalian katakan
    Wahai penguasa bangsa
    Berkuasa di atas orang kecil
    Bukan berarti bertindak bagai raja


    Puisi 2
    Tema: Krisis kepercayaan terhadap budaya

    Pantaskah Kita?

    Kemanakan kepercayaan tentang budaya?

    Kepercayaan yang dulu selalu melekat
    Melekat dalam hati para orang-orang
    Keyakinan yang dulu berharga bagi diri kita
    sekarang hanya bagaikan debu
    Namun, kini semua hanya tinggal cerita
    Pudar bagaikan air yang tumpah
    Budaya yang dulu dipelihara oleh semua orang
    Kini diabaikan seakan terlupakan
    Tak dianggap bagaikan segumpal tanah

    Telah hilang budaya yang di banggakan
    Hilang tergerus zaman
    Telah banyak budaya yang telah dirampas
    Yang kita lakukan hanya murka
    Dan menyesali yang telah terjadi

    Tak bisakah kita sadar sebelum berkata – kata?
    Apakah kita telah melindungi apa yang kita anggap berharga?
    Apakah pantas kita menyalahkan Yang Maha Kuasa?
    Apa kita pantas untuk murka?
    Murka untuk hal yang di buat sendiri?
    Tuhan bantulah kami

    BalasHapus
  22. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  23. Nama : Telly Purnama Sari
    Kelas : XI IPA 7
    No. Absen : 41

    Puisi I
    Tema : Kepekaan terhadap perkembangan teknologi

    Penerus negara

    Dunia telah berkembang
    Dahulu kala dengan penghidupan seadanya
    Engkau para ilmuwan yang telah berjasa
    Membangun dunia menjadi amat maju
    Dengan penemuanmu
    Teknologi, itulah kami kenal
    Sesuatu yang membuat dunia berubah
    Sungguh pesatnya perkembangan itu
    Seakan manusia tak dapat hidup tanpanya
    Teknologi...
    Kau amatlah kami butuhkan
    Kau harapan kami untuk maju
    Ingin kutatap masa depan itu
    Masa depan milik nusa bangsa
    Negaraku berdiri gagah
    Dengan rakyatnya yang teladan
    Berwawasan luas
    Menjunjung moral yang tinggi
    Namun, kau ubah harapku
    Mereka telah menyalahgunakanmu
    Generasi muda kini
    Harapan bangsa ini
    Wahai kau calon penerus bangsa
    Lihatlah keadaan negaramu kini
    Akankah kau akan terus begini
    Gunakanlah teknolagi sebaik mungkin
    Sebelum engkau menyesal
    Negaramu kan terus menerus begini
    Sebelu kita melihat kerapuhan negara ini

    Puisi II
    Tema: Cinta

    Harapan

    Cinta…
    Harapan kan kebahagiaan
    Adakah kau mempercayainya?
    Sebab, duka pun muncul karenanya
    Lama sudah pertemuan itu
    Namun kuacuhkan masa-masa itu
    Masa ku dapat bertemu denganya
    Hingga hilanglah saat itu
    Baru kusadari pentingnya masa-masa itu
    Namun, sudah percuma
    Tak ada lagi peduli darinya
    Sulit diriku mencari harapan
    Walau ku tahu takkan ada lagi
    Hanya perlu menunggu
    Sampai kubuang harapan itu…

    Palembang, 3 Oktober 2009

    BalasHapus
  24. KEHILANGAN DIRIMU
    KARYA : YOUNGKY SALIM/ 46


    Air matakuu terus mengalir di wajahku

    karena kesedihanku kehilagan dirimu ..

    Akuu taku ingin terpuruk dengan kesedihan akuu ..

    Ingin akuu merasakuan keindahan cinta seperti yang orang lain rasakuan ..



    Setiap orang pasti pernah melakuukan kesalahan ..

    Kesalahan akuu yang terbesar , akuu tlah menyia-nyiakuan kamu di hidup akuu ..

    Saat akuu kehilangan cintamu , hati ini begitu terluka ..

    Akuu merasa taku ada seorang pun yang dapat mengerti perasaan akuu ..



    Akuu harus menerima kenyataan bahwa kamu menyayangi orang lain ..

    Taku sanggup aku menahan semua ini sendirian ..

    Mungkin dengan aku merelakuan kamu ,

    kamu taku aku akan merasa kesepian ..



    Aku taku pernah berfikir tuk mengganti kamu di hati aku ,

    karena taku ada satu orang pun yang bisa seperti kamu ..

    Mungkin aku terlalu egois ,

    tapi aku yakuin dengan kata hati aku ..

    Kamu adalah orang yang aku cintai

    walaupun aku taku bsa memiliki kamu ..
    INTERNET
    KARYA : YOUNGKY SALIM/ 46

    Internet…
    Kau adalah sahabatku..
    Dikala aku duka,
    maupun senang..

    Internet..
    Kau bagaikan jendela dunia
    Juga bagai gudang ilmu pengetahuan
    Kau banyak membantu para murid

    Internet,
    Kau juga berguna bagi kaum dewasa
    Kau menyeduakan layanan-layanan,
    Yang tidak dimiliki oleh kami...

    Internet,
    Ingin ku berterima kasih padamu
    Atas segala pertolonganmu
    Dari dulu hingga sekarang

    BalasHapus
  25. Puisi Cinta

    Kekuatan Sebuah Cinta
    Karya : Yuni Marlina
    XI IPA 7
    47

    Dan aku coba menyibak kabut yang menutupi mataku
    Menghalangi pandanganku
    Untuk berlari menghampirimu
    Memeluk dan mencumbumu

    Aku ingin menghujanimu
    Dengan deras cintaku
    Hingga hatimu dibanjiri bayanganku
    Dan tiap desah yang terlontar dari bibirmu adalah namaku

    Pangeran…
    Aku adalah puteri yang akan selalu merindumu
    Saat kita tak lagi bisa bersatu

    Sedang resah, rindu, marah, gelisah, serta cinta ini
    Masih murni untukmu
    Aku melepasmu…
    Walau aku sangat ingin memilikimu…

    Palembang, 2 Oktober 2009

    BalasHapus
  26. Teknologi Separuh Jiwaku
    Karya : Yuni Marlina
    XI IPA 7
    47

    Zaman berlalu berganti zaman…
    Mulai dari mesin tik sampai ke komputer…
    Yang tradisional pun berganti moderen
    Manusia tak hentinya mengejar mereka…

    Teknologi…
    Itulah satu kata di depan mata kita…
    Yang takkan pernah sirna dalam kehidupan manusia
    Manusia adalah budak-budak mereka…

    Namun, manusia tetap berusaha…
    Untuk tetap menjadi tuan mereka…
    Membuat teknologi bersatu dalam kehidupan…
    Memajukan kehidupan bersama…

    Palembang, 2 Oktober 2009

    BalasHapus
  27. Nama : Giovanni Hutagalung
    Kelas : XI IPA7
    Nomor absen : 15

    Puisi I
    Tema : Kepedulian Lingkungan

    Zamrud yang Menghitam
    Karya : Giovanni/15

    Di zaman ibuku
    Lembah hijau mudah digapai
    Air jernih menerpa wajahnya
    Udara bersih membelai rambutnya

    Di zaman ayahku
    Pohon-pohon tegak menantang langit
    Tanah memperkokoh pohon-pohon
    Yang menjadi sumber seluruh kehidupan

    Di zaman kakakku
    Pencakar langit mulai datang
    Mencoba bersaing dengan pohon
    Dan pohon-pohon menelan kekalahan pahit

    Jalanan mulai membelah bumi
    dan menghalangi tanah
    yang menatap langit
    Tanah pun bersembunyi di bawahnya

    Di zamanku
    Lembah hijau tak lagi ada
    Lembah hijau tak dapat kupeluk
    Yang ada hanya hamparan lembah yang terbakar

    Di zamanku
    Air tak boleh berjalan di wajahku
    Karena berbau busuk akibat sampah
    Hitam tak menyegarkan

    Setiap tarikan napas kusesali
    Karena tak memuaskan dahaga paru-paruku
    Udara kotor menggerogoti tubuhku
    Udara yang bisa membunuhku

    Kutatap sekelilingku
    dan aku bertanya
    mengapa pohon-pohon menjadi penakut?
    Kecil dan tak berharga

    Pohon-pohon tak lagi menantang langit
    Keberanian mereka telah dicuri pencakar langit
    Tanah pun dengan enggan menyokongnya
    Karena tanah tahu pohon-pohon tak akan menang

    Itu adalah zamrudku
    Zamrudku yang menghitam
    Sekilas orang melihat
    Dan dengan pasti mengatakan zamrudku adalah arang

    Zamrudku tak lagi berkilau
    Manusia menginjaknya
    Tangan kotor menjamahnya
    Sehingga ia hitam

    Kuingin di zaman anakku
    Air terbebas dari kungkungan limbah
    Sehingga anakku bisa tersenyum
    Merasakan air yang menggodanya

    Kuingin di zaman anakku
    Udara jernih mau bermain
    Dan menggelitik hidung anakku
    Sehingga ia tertawa bahagia

    Kuingin anakku menyaksikan
    Pohon-pohon berperang dengan sang pencakar
    Dan kuingin ia menyaksikan
    Pohon-pohon merayakan menang

    Setelah pohon-pohon menang
    Tanah akan bersorak
    Dan akan bersukacita
    Membantu pohon-pohon mencapai langit

    Apakah aku mampu
    menyucikan zamrud hitam ini?
    Apakah aku mampu
    mewariskannya nanti pada anakku?

    Aku akan membawa air jernih
    Terbebas dari ketakutannya
    Aku akan menghembuskan udara
    Menjauh dari kehampaan

    Aku akan menyembuhkan pohon-pohon
    Yang nyeri akibat mempertahankan nyawa
    Aku akan menyemangati tanah
    Yang telah kehilangan harapan akan pohon

    Kuyakin apabila kita sadar
    Zamrud hijau itu akan kembali
    Dan akan kutitipkan
    Kepada anakku nanti

    Palembang, 3 Oktober 2009

    Puisi II
    Tema : Patriotisme

    Kita adalah Pahlawan
    Karya : Giovanni/15

    Rasa nasionalisme membuncah
    Ketika upacara dilaksanakan
    Derap kaki bergema
    Membawa sang merah putih untuk dikibarkan

    Rasa nasionalisme menghilang
    Saat kita bersembunyi
    Ketika masih berhutang
    Pajak untuk membangun negara

    Pahlawan bukanlah Tuhan
    Pahlawan bukanlah dewa
    Pahlawan adalah manusia biasa
    Yang berani maju menjunjung kebenaran

    Pahlawan adalah kita
    Yang memakai listrik seperlunya
    Saat orang lain menjarahnya
    Demi kepentingan dirinya sendiri

    Pahlawan adalah kita
    Yang membuang sampah pada tempatnya
    Saat orang lain tidak melakukannya
    Karena malas semata

    Pahlawan adalah kita
    Yang bangga dengan buatan dalam negeri
    Saat orang lain pamer
    Akan barang buatan luar negeri

    Pahlawan adalah kita
    Yang bisa mengendalikan hati
    Untuk tidak memperkosa
    Kelimpahan negeri zamrud khatulistiwa ini

    Pahlawan adalah kita
    Yang berani menjaga warisan budaya
    Ketika tangan-tangan licik
    Berusaha mencurinya

    Pahlawan adalah kita
    Yang berani meneriakkan “Indonesia!”
    Ketika para tetangga mencemooh kita
    Karena keterbatasan kita

    Kita adalah pahlawan
    Yang melakukan hal sederhana
    Tetapi amat terasa
    Demi kemajuan bangsa

    Kita adalah pahlawan
    Yang mampu mengenang pahlawan kemerdekaan
    Yang menghargai jasa-jasanya
    Membuat pengorbanan mereka berharga
    Serta berjuang untuk meneruskan tekadnya

    Kita adalah pahlawan
    Yang mungkin tidak akan masuk buku sejarah
    Tetapi kita adalah pahlawan
    Yang mengenang pahlawan sebelumnya
    Dan akan dikenang oleh generasi depan
    Demi perubahan

    Palembang, 3 Oktober 2009

    BalasHapus
  28. Nama : Meldha Afriyanti
    Kelas: XI IPA 7
    Absen: 30

    1.Puisi
    Tema: Cinta terhadap kaum kecil

    Kemurnian Hati

    Di malam hari
    Ku pandangi gemintang yang bersinar
    Tersayup udara yang dingin dan sejuk
    Menghanyutkanku di dalam buaian

    Tampak olehku
    Seseorang gadis kecil
    Duduk terpaku menatap langit
    Menunggu harapan yang tidak pasti

    Di jalanan sepi dan basah
    Engkau terus termenung sendiri
    Engkau tampak tertunduk lesu
    Menahan isak tangis di hati


    Hati kecil terasa sedih
    Terasa miskin badan sendiri
    Engkau coba simpan nestapa
    Engkau coba kuburkan duka lara

    Raut wajah yang polos
    Menggambarkan keluguan di hati
    Ingin aku bertanya
    Mengapa ini dapat terjadi

    Seketika batinku tersentak
    Di balik kemegahan dunia malam
    Sungguh besar beban yang dialami
    Engkau menanggung derita sendiri

    Kini telah kusadari
    Engkau membuka mata hati
    Akan kehidupan di duniawi
    Agar peduli untuk berbagi



    Nama : Meldha Afriyanti
    Kelas: XI IPA 7
    Absen: 30

    2.Puisi
    Tema:Dekadensi moral generasi muda

    Sang Primadona


    Di tengah lampu-lampu jalanan
    Aku hanya dapat termenung
    Mata memerah menahan tangis
    Akan kehidupan yang dialami

    Tidak terbayang di masa lalu
    Ketika masih di bangku sekolah
    Aku berharap menjadi anak yang berguna
    Berguna bagi nusa dan bangsa

    Tapi sekarang
    Kenyataan hidup uang kualami
    Membuat hatiku terasa sedih
    Sedih akan derita sendiri

    Kini aku hanya dapat termenung durja
    Dengan kecantikan paras yang di miliki
    Aku terjebak ke dalam buaian duniawi
    Buaian yang memaksiatkan badan diri

    Hati terasa teriris sebilah pisau
    Akan lubang hitam yang kumasuki
    Hingga aku terjebak dalam kehidupan
    Hanya membahagiakan hasrat semata

    Kini aku berpasrah diri
    Kuingin mengutuk perbuatan diri
    Perbuatan yang sangat melukai
    Melukai diri dan Sang Ilahi

    BalasHapus
  29. Nama : Astrid
    Kelas : XI IPA 7
    Nomor Absen : 05

    Puisi I
    Tema : Cinta Tanah Air

    Indonesia Tercinta
    Dari Sabang sampai Merauke,
    Terbentang luas hamparan pasir disetiap pulau nan indah
    Lautan biru yang begitu luas
    Melambangkan betapa tenangnya negara tercinta ini.

    Masyarakat yang ramah,
    Tutur kata dan perilaku yang sopan,
    Adalah cerminan dari bangsa kita,
    Bangsa Indonesia.

    Meskipun berbeda suku dan kebudayaan
    Namun kami tetap satu
    Meskipun berbeda agama dan kepercayaan
    Namun kami tetap saudara.

    Sumber dayamu yang melimpah ruah,
    Kekayaan alammu yang begitu besar,
    Dan keindahan alammu yang begitu mempesona
    Menjadikanmu sebagai negara yang begitu menarik

    Keanekaragaman budayamu,
    Keanekaragaman hasil karyamu,
    Dapat diperhitungkan dimata dunia
    Dan telah diakui oleh semua negara.

    Aku sebagai bangsa Indonesia
    Akan tetap menjaga dan melestarikanmu
    Hingga akhir hayatku.


    Puisi II
    Tema : Religi

    Syukurku Pada-Mu

    Tuhan, begitu baiknya Engkau
    Kau yang telah membuatku hidup
    Kau yang telah membantuku dalam setiap cobaan
    Kau yang telah membimbingku dalam setiap langkahku
    Dan Kau yang selalu menopangku di kala aku terjatuh.

    Engkau mengajarkanku tentang segalanya
    Tentang yang baik dan yang buruk
    Walaupun aku selalu terjatuh dalam dosa
    Tapi Kau tetap mau menerimaku
    Mengampuni dosa dan kesalahanku.

    Engkau memberiku segalanya
    Segala sesuatu yang kubutuhkan dalam dunia ini
    Walaupun sering kali ku salah gunakan
    Tapi Kau tetap memaafkanku
    Dan menerimaku kembali ke dalam pangkuan-Mu

    Itu semua karena rasa cinta-Mu kepada kami
    Rasa cinta-Mu yang begitu besar
    Hingga kami pun tak dapat membalasnya.

    Sungguh,
    Aku sungguh tak sanggup membalas semua itu
    Semua yang telah Kau berikan kepadaku
    Dan semua yang telah Kau lakukan untukku
    Aku tak tahu harus berbuat apa
    Aku tak tahu harus bagaimana
    Hanya rasa syukur yang mampu aku ungkapkan
    Hanya rasa terima kasih yang dapat kuucapkan.

    BalasHapus
  30. Nama : Kurniawati
    Kelas :XI IPA 7
    Nomor Absen : 27

    Puisi 1
    Tema : Cinta terhadap kaum kecil

    Potret Pengamen Kecil
    Karya : Kurniawati/27

    Hari masih sepi
    Ketika sekelompok anak kecil berlari menerobos pagi
    Wajah mereka berbinar penuh harap
    Sebuah kaleng dan gitar kecil usang digenggamannya

    Tak ada raut sedih di wajah polosnya
    Yang ada hanya tekad dan harapan
    Bahwa hari ini adalah hari keberuntungan mereka
    Kaki kecil mereka melangkah mantap
    Ketika lampu lalulintas menyala merah

    Berjejal dengan asap knalpot kendaraan dan teriknya sinar matahari
    Atau berdesakan didalam bus kota
    Adalah kehidupan mereka
    Sambil mendendangkan lagu kebahagiaan
    Dan berdoa akan mendapatkan banyak rezeki di hari ini

    Tak peduli teriknya sinar matahari yang membakar kulit
    Hembusan angin yang kencang atau dinginnya terpaan air hujan
    Mereka tetap bersemangat untuk mencari sesuap nasi

    Terkadang hatinya miris
    Ketika melihat tak seorang pun peduli dengan mereka
    Ketika tak ada yang menghargai jerih payah mereka
    Tetapi mereka tetap tegar dan tersenyum dengan ceria

    Terkadang mereka juga berpikir
    Mengapa hidup ini tidak adil
    Mereka tak punya kesempatan untuk bersekolah
    Mereka tak punya kesempatan hidup dengan layak
    Karena satu alasan : Tidak punya biaya

    Maka pantaslah kita semua
    Membantu mereka
    Mendampingi mereka
    Mencintai mereka
    Agar pada akhirnya
    Mereka juga dapat tersenyum kepada dunia..

    BalasHapus
  31. Nama : Kurniawati
    Kelas : XI IPA 7
    Nomor Absen : 27

    Puisi 2
    Tema : Dekadensi moral para generasi muda

    Generasi Muda
    Karya : Kurniawati/27

    Terdengar sorak sorai kegembiraan
    Ketika bangsa ini telah dinyatakan merdeka
    Lantunan teriakan kegembiraan
    Terdengar dari para pejuang muda kala itu

    Tapi coba lihat sekarang
    Ungkapan itu seperti tenggelam
    Seiring dengan perkembangan zaman
    Tergerus oleh budaya lain milik generasi muda sekarang

    Generasi muda sekarang tak seperti generasi muda kala itu
    Yang rela mengorbankan nyawanya untuk bangsanya
    Generasi muda sekarang
    Lebih senang melakukan segala hal semaunya

    Tak peduli hal itu benar atau salah
    Yang dipikirkan hanyalah kesenangan yang di dapat
    Bebas, adalah kata yang mereka pilih
    Untuk menggambarkan kehidupannya

    Mereka tak peduli lagi dengan budaya bangsanya
    Mereka tak peduli lagi dengan tatanan moral kehidupan
    Mereka lebih senang melakukan hal-hal baru
    Tanpa memikirkan akibatnya

    Mereka tidak mau dikekang oleh aturan
    Mereka tidak mau disalahkan
    Mereka lebih senang melampiaskan masalahnya
    Dengan caranya sendiri yang terkadang merugikan dirinya

    Tapi generasi muda sekarang tidak boleh seperti ini
    Generasi muda sekarang harus lebih maju
    Generasi muda sekarang harus mampu
    Membawa bangsanya ke arah yang lebih baik dari masa lalu..

    BalasHapus
  32. Nama : Fredy Tandri
    Kelas/Nomor :XI IPA 7/13

    Puisi 1
    Tema : patriotisme (masa depan bangsa)

    Pahlawan Masa Depan

    Pergi....
    Kau teriakkan pada musuhku
    Sambil melepaskan belengguku
    Kau menjanjikan kemerdekaanku
    Tumpah darahmu akan kujadikan panutanku
    Untuk melangkah membangun negaraku

    Namun itu dulu...
    Apa nyatanya sekarang
    Masa depanku yang ingin kuwujud
    Sambil memeras keringat di jalan berbatu
    Dilenyapkan oleh tangan penguasaku
    Hanya demi kotak dengan isi kertas haram itu

    Apa ini yang kau mau penguasaku
    Jangan tunjukkan kepahlawananmu
    Dengan tindakan kebiadabanmu
    Kau buat jalan untuk masa depanmu
    Tanpa peduli perjuangan pahlawanku

    Bila saja aku dapat mengubah hatimu
    Dengan beberapa kata bertabur intan
    Akan kuubah hati bekumu
    Dengan menanam bibit kepedulian
    Niscaya pembangunan bangsa akan terwujud

    Meski ini hanya mimpiku
    Jiwaku takkan hancur
    Ragaku membangun masa depanmu
    Melahirkan jiwa dan raga yang baru
    Yang kelak menjadi penerus anganku

    Mari kawan kita berjuang
    Berperanglah bersama temanmu
    Hancurkan semua keraguan hatimu
    Buatlah mimpi dan cita-cita menjadi tujuanmu
    Yang kelak mencerahkan masa depan
    Dan seorang pahlawan bagi bangsamu

    Puisi 2
    Tema : Kepedulian lingkungan

    Syair Kedamaian Alam

    Saat angin menyapamu
    Meniup gemulai lembaran tanganmu
    Bermandikan butir butir air sucimu
    Menyelimuti kapas dengan selimut warna
    Memegahkan cakrawala dengan sinarnya

    Permadani hijau tergelar
    Memimpin lautan di bola kehidupan
    Memebentang luas beralunan merdu
    Kicauan burung mengiringi waktu
    Membuat syair kedamaian dunia

    Namun saat kegelapan menyelimuti
    Syair damai terbakar nafsu
    Pembelahan sang kayu seenaknya
    Pembakaran karpet hijau semaunya
    Dengan alasan itu miliknya

    Hingga tibalah balasan alam
    Dengan Deretan ombak mengarungi daratan
    Berbagai pasukan hutan menyerang
    Untuk merebut harta dan jiwa manusia
    Dan mendapatkan rumahnya

    Mungkin hati belum sadar
    Akan kecerobohan kita
    Saat kita menyingkirkan mereka
    Hanya untuk kehidupan mewah
    Dan keserakahan akan keleluasaan

    Heningkanlah kedamaian yang dulu
    Jangan mencabut akar kehidupan mereka
    Dengan berbagai bangunan konyol proyek kota
    Hanya untuk kemajuan bangsa
    Tanpa peduli kesulitan alam

    Namun....
    Jika kita menggelar permadani hijau
    Di tempat yang kini disapu ombak
    Yang telah menjadi bongkahan batu
    Mungkin cerita baru akan tercipta

    BalasHapus
  33. Nama : Yunita Chandra
    Kelas : XI IPA 7
    Nomor absen : 48

    Puisi I (Tema : Perkembangan Teknonogi Informasi)

    Berubah
    Karya : Yunita Chandra/48

    Waktu demi waktu terus berjalan
    Seiring itu pula bumi pun terus berubah
    Mahkluk hidup terus bertambah
    Menciptakan segala macam karya

    Teknologi....
    Hal yang mungkin sepele untuk dikatakan
    Tapi lihatlah...
    Betapa hebatnya teknologi hasil kecerdasan manusia
    Dari zaman dahulu
    Teknologi telah dikenal
    Walau saat itu masih tabu
    Dan sangat sederhana
    Tapi hal-hal kecil dapat diciptakan
    Radio,televisi,telepon,komputer yang kita nikmati
    Sekarang merupakan hasil teknologi

    Saat ini...
    Teknologi bukanlah hal yang tabu
    Teknologi semakin canggih
    Namun semakin sering pula disalahgunakan
    Sebagai manusia yang berakal
    Hendaknya sadar akan pentingnya teknologi
    Manfaatkan dan kembangkanlah
    Teknologi yang telah ada
    Seperlu dan sebaik mungkin...

    Palembang,3 Oktober 2009

    Puisi II (Tema: Cinta)

    Menanti
    Karya : Yunita Chandra/48

    Mataku menutup perlahan
    Mencoba merakan kehadiranmu
    Mencoba mendengar bisikan hatimu
    Aku terdiam dan terpaku
    Menanti datangnya bahagia

    Aku ingin engkau tau
    Aku ingin kau merasa
    Rasa cinta yang telah aku simpan
    Aku takut semuanya hanya mimpi
    Yang akan menghilang

    Aku takut engkau pergi
    Menelantarrkan cinta yang telah aku ukir
    Hati ini penuh kerinduan
    Hati ini penuh kegelisahan
    Selalu menanti kehasiranmu

    Aku ingin selalu...
    Menempatkan dirimu dalam hatiku
    Merasakan detak jantungku
    Yang seakan berhenti karenamu

    Aku selalu memohon
    Agar engkau selalu disampingku
    Memberi senyuman...
    meberi kehidupan...
    Untukku

    Yakinkan aku akan cintamu
    Agar aku tak takut untuk melangkah
    Bukan karena aku tak percaya
    Aku hanya tidak ingin selalu
    Berada dalam mimpi...

    Palembang,3 Oktober 2009

    BalasHapus
  34. Puisi I Tema:Kepedulian Lingkungan.
    Karya : Gabriella / 14

    Puisi Cinta Alam

    Mengapa alam ini enggan bersahabat lagi dengan kita
    Baru saja banjir melanda negeri ini
    Kebakaran hutan dimana-mana
    Asap belum mereda

    Hari ini ditanah ku terjadi lagi bencana
    Belumlah kering air mata yang kemarin
    Hari ini kembali menangis
    Meneteskan air mata pilu

    Satu per satu bangunan runtuh
    Tak peduli gedung mewah ataupun gubuk
    Satu per satu pohon tumbang
    Dalam sekejap tanahku menjadi rata

    Anak kecil menjerit ,menangis ketakutan
    Sementara yang lain merintih kesakitan
    Tak peduli kaya atau miskin
    Semua berlari menyelamatkan diri mencari perlindungan

    Tapi...
    Kemana lagi kita harus berlindung?
    Kalau bukan kepada-Nya kita memohon

    Ya Tuhan...
    Kami tahu semua anugrah dan bencana adalah kehendak-Mu
    Kami juga tahu bahwa Engkau tidak sedang menghukum kami
    Melainkan,Engkau hanya memperingati kami
    Agar kami dapat berbenah diri
    Untuk menghargai ciptaan-Mu dan menjaga alam ini

    BalasHapus
  35. Puisi II Tema:Patriotisme
    Karya : Gabriella / 14

    Anak Bangsa

    Sayup – sayup terdengar suara ayam berkokok
    Matahari menampakkan wajahnya dengan malu – malu
    Anak – anak yang masih tertidur pulas
    Dengan cepat bangkit dari tempat tidur

    Ah…pagi nan indah
    Sungguh karunia Tuhan
    Syukur atas nikmat yang Engkau beri
    Kami yang disini masih boleh pergi ke sekolah menuntut ilmu
    Dengan semangat kami belajar
    Agar kelak kami menjadi orang yang pintar

    Kepada-Mu kami berjanji
    Untuk menjadi anak beriman dan berbakti
    Kepada orang tua kami berjanji
    Untuk menjadi anak yang berguna
    Kepada bangsa dan negara
    Kami berjanji untuk menjadi generasi penerus yang pantang menyerah

    Demi satu tujuan …

    Untuk memajukan negeri yang dicintai dan dikasihi

    INDONESIA ku
    Merah merdeka Putih merdeka warna merdeka..

    BalasHapus
  36. Nama : Hansen Lauwa
    Kelas : XI IPA 7
    No.Absen : 16

    Puisi I
    Tema : Peduli Lingkungan

    Hancur Bumiku

    Setiap detik
    Setiap menit
    Setiap jam

    Kau bakar aku
    Kau tebang aku
    Kau gunduli aku

    Tahukah kau aku terluka
    Kau rusak diriku
    Dengan perbuatanmu

    Tahukah kau orang menderita
    Banjir, tanah longsor, polusi udara
    Kau salahkan aku penyebabnya

    Tidakkah kau tahu
    Semua ini karena perbuatanmu
    Yang hancurkan aku

    Beribu-ribu jiwa melayang
    Isak tangis, kepedihan, rintihan
    Sampai kapan ini semua akan berakhir


    Puisi II
    Tema : Patriotisme

    Pahlawanku

    Pahlawanku.....
    Engkau berkorban demi Indonesiaku
    Harum namamu dikenang oleh bangsaku
    Tidakkah kau tahu aku juga begitu
    Mengenang dirimu selalu

    Kau relakan darahmu
    Darah kehidupanmu
    Cucuran keringatmu tanda semangatmu
    Demi Indonesia tanah airku

    Semangatmu membakar jiwaku
    Menyalakan kembali semangat yang telah luluh
    Engkau adalah teladanku
    Pedoman hidupku

    Gugur di medan perang itulah nasibmu
    Kau relakan hidupmu
    Oh Pahlawanku
    Terima kasih kuucapkan padamu

    BalasHapus
  37. Puisi
    Nama:Suryahadi
    Kelas XIp.7
    Nomor Absen:40
    Budaya Indonesia

    Negeri Yang Indah dengan sejuta pesona
    Keanekaragaman budaya yang penuh warna
    Yang menjadi warisan sejak dulu kala
    Melebur menjadi satu bersama jiwa
    Tak kan pudar begitu saja
    Namun....

    Rasa sesak menyelubungi dada
    Tak terfikir oleh logika
    Melihat warisan budaya yang telah diakui oleh Malaysia

    Indonesia seolah tidak berdaya
    Keanekaragaman budaya hampir sirna
    Karena pemerintahan Indonesia
    Generasi muda dibuat bingung karenanya
    Sesungguhnya.....
    Rendang asalnya darimana....
    Batik asalnya darimana....
    Semua Bertanya-tanya...
    Seiring terbitnya senja
    Sang surya mulai sirna...

    Puisi
    Aspirasi rakyat
    Nama :Suryahadi
    Kelas:XIP7
    Nomor Absen:40

    Dengan semangat membara
    Seluruh bangsa Indonesia
    Menyambut dengan segenap jiwa-raga
    Haknya untuk berpartisipasi dalam politik Negara

    Permainan kata-kata diatas kaca
    Memainkan peran di panggung sandiwara
    Amplop putih yang terbang menuju saku celana
    Membuat semua rakyat terlena
    Untuk memilihnya

    Politik yang adil telah ternoda
    Nyatanya …
    Aspirasi rakyat dianggap nyanyian
    Bagai kacang lupa kulitnya..
    Beribu pejabat bertambah bahagia..
    Berjuta rakyat menjadi sengsara
    Semua bagaikan dunia maya
    Pemilu tak berjalan sebagaimana mestinya…
    Bagaimanakah kisahmu selanjutnya…
    Oh Indonesia…

    BalasHapus
  38. aku mrindukanmu tuhan
    ketika aku tahu kau tlah jauh dari kaum kecil
    aku mencari bayanganmu demi mereka yang membutuhkanmu


    ketika malam tak lagi menampakkan wajahmu
    aku memanggil namamu
    diantara gelapnya hutan tak berlampu
    kais,


    dimanakah dirimu?
    dimana kau sembunyikan wajahmu?
    agar engkau tahu bahwa kaum kecil sangat membutuhkan pertolongan mu...

    BalasHapus
  39. akan ke manakah angin melayang
    membawa generasi muda indonesia
    tatkala turun senja nan muram
    pada siapa lagu kuangankan


    kepada mu lah generasi muda indonesia
    semua orang memberi tanggung jawab untuk terus mempertahankan indonesia
    turun dan berbisik tepat di sampingku


    kuingin menjerit dalam pelukanmu
    akan ke manakah berarak awan
    membawa generasi muda indonesia
    dahan-dahan di hati berguguran

    BalasHapus
  40. Puisi 1
    Tema = Cinta Tanah Air

    Cinta Negeriku

    Karya : Cindy Coleen
    XI IPA 7 / 09


    Tubuh tegap, langkah mantap
    Tatapan mata tajam
    Barisan pemberani
    Memenuhi pelosok negeri

    Barisan pembela bangsa
    Barisan tak takut mati
    Barisan pejuang Negara
    Siap berkorban untuk Indonesia

    Buktikan bahwa kau mencintai Indonesia!
    Buktikan tekad dan keberanianmu!
    Jangan hanya sembunyi saja
    Layaknya katak di dalam tempurung

    BalasHapus
  41. Puisi 2
    Tema = Religius

    Cahaya Kasih-Mu

    Karya : Cindy Coleen
    XI IPA 7 / 09


    Terdiam aku di malam sunyi
    Menanti cahaya_mu di tengah gelap
    Sendiri aku termenung bayang-Mu
    Menatap ke angkasa luas

    Disini aku terpaku akan dosa-dosaku
    Pantaskah hamba-Mu ini meminta ampun?
    Sudikah Engkau memaafkan hamba?
    Relakah Engkau menuntunku ke jalan-Mu kembali?

    Oh Tuhanku…
    Kusebut nama-Mu dalam keagungan
    Cahaya-Mu memancarkan sinar kasih
    Layaknya mentari menyinari bumi

    Aku akan selalu memuja-Mu
    Aku akan selalu mengagungkan nama-Mu
    dalam hidupku, dalam doa
    kini dan untuk selamanya…

    BalasHapus
  42. Nama : Martinus Taslim
    Kelas : XI IPA 7
    No.absen : 28

    Puisi 1
    Tema : Cinta Terhadap Kaum Kecil

    Wahai, Tuhan Yang Maha Melihat
    Aku menangis bersamamu, rakyat kecil
    Orang-orang miskin yang terpaksa antri beras murah berjam lamanya
    Yang tak punya biaya buat lanjutkan sekolah
    anaknya ke kota, yang terisak

    Wahai, Tuhan Yang Maha Kaya, beri kami Cinta
    Aku menangis bersamamu, rakyat kecil
    karena kalian cuma sanggup mengumpat Mempertanyakan janji-janji keadilan
    Kami terbaring menahan perut yang kelaparan

    Wahai, Tuhan Pencipta Keadilan, beri kami Kekuatan
    Bangkitlah!
    Jangan diam saja, sekarang saatnya kita melawan
    lawanlah kimiskinan
    lawanlah penjajahan yang telah berabad menginjak-injak nasibmu
    bersatulah wahai kaum yang kalah!

    Puisi 2
    Tema : Dekadensi moral generasi muda

    Sudah 64 Tahun kita merdeka
    Semakin besar Globalisasi
    Indonesia semakin terpuruk
    Terutama moral generasi muda

    Saat merdeka
    Terdengar bunyi sorak sorai bangsa gembira
    Tapi sekarang sorak sorai itu hilang
    Semakin berkembangnya zaman

    Kaum muda adalah harapan bangsa
    Kini semua hanya harapan kecil
    Kesadaran diri amat diperlukan
    Bahkan memberi panutan bagi generasi berikutnya

    BalasHapus
  43. Nama : Hengky Harun
    Kelas : XI IPA 7
    No : 18

    Puisi pertama :
    Peduli Terhadap Lingkungan Demi Masa Depan
    Indahnya mentari menyinari pagi.
    Terangnya rembulan hilangkan sepi.
    Mempesonanya bumi di hiasi pelangi.
    Birunya laut dan langit menenangkan hati.

    Hangatnya pagi diiringi matahari.
    Dinginnya malam diselimuti rembulan.
    Masihkahku bisa menikmati semua ini.
    Masikah sanggup bumi kita kenangkan.

    Melihat janji tak kuasa ku ingkari.
    Sedihnya hati melihat semua ini.
    Semuanya diambil dengan berbagi.
    Tak puaskah kita merusak alam ini

    Bencana datang menghampiri tanpa henti.
    Kerusakkan datang mengikuti kemarahan bumi.
    Jatuhnya korban menjadi saksi.
    Bahwa bumi tak lagi indah seperti zaman nabi.

    Lingkungan sepi bagaikan peti.
    Karena rusaknya jantung bumi.
    Laut marah karena tercemari.
    Ombak datang seolah ingin memaki.

    Tak sanggup ku melihat semua ini.
    Rasanya ingin sekali ku berlari.
    Untuk memperbaiki semua ini.
    Tetapi ku hanya bisa diam menangisi bumi tersakiti.

    Lahirnya air mata dari dalam hati.
    Hidupnya air mata membasahi pipi.
    Karena tak sanggupku hadapi.
    Kejamnya kita membuat hati bumi mati.

    Pernahkah sekiranya kita selalu menyadari.
    Perbuatan keji yang kita buat selama ini.
    Ingatkah kita tentang baiknya bumi.
    Yang telah setia menghiasi hari demi hari.

    Pujilah syukur yang telah kita dapati.
    Janganlah sesekali kita mengulangi.
    Perbuatan tak sedap dicium dan terdengar oleh bumi.
    Hingga membuat bumi tak akan mengampuni.

    Obatilah bumi dengan sepenuh hati.
    Lindungilah kehijauan dengan irigasi.
    Janganlah pernah laut kita cemari lagi.
    Tetapi rawatlah hingga dia pulih kembali

    Pesan ini kusampaikan kepada kalian
    Demi berlangsungnya kehidupan yang abadi.
    Karena lingkungan mempunyai masa depan.
    Demi penenus atau anak bangsa kami.

    Meskipun ini sekedar puisi.
    Tetapi hatikulah yang membuat ini.
    Untuk memberikan kita motivasi dan inspirasi.
    Perlakuan apa yang hendaknya kita beri untuk bumi.

    Pengarang Puisi : Hengky Harun

    Puisi kedua :
    Patriotisme Terhadap Masa Depan
    Dirimu adalah pahlawanku.
    Pahlawan yang tiada henti berjuang demi rakyatmu.
    Dengan gagah perkasa dirimu mengabdikan diri untuk bangsamu.
    Hingga dirimu bermandikan darah semangat akhir perjuanganmu.

    Takku lupakan kerja kerasmu.
    Takku siakan tanah luhur darimu.
    Kanku jaga sampai akhir hidupku.
    Demi mempertahankan tanah airku.

    Tanah air tempat lahir dirimu.
    Bangsamu melambangkan jati dirimu.
    Pancasila sebagai pemandumu.
    Merah putih mengobarkan api semangat juangmu.

    Meskipun kini kita sudah merdeka.
    Meskipun kini kita sudah sejahtera.
    Namun jangan pernah kita melupakan.
    Semua ini perjuangan dan pemberian sang pahlawan.

    Tegarnya pahlawan berdiri didepan.
    Mereka selalu menghabisi tekanan.
    Meskipun darah membanjiri tangan.
    Namun kini telah menjadi kenangan.

    Peperangan ini memang telah berakhir.
    Namun perjuangan merupakan awal untuk berkarir.
    Demi masa depan bangsa dan tanah air.
    Ku berjanji akan melindungi dan tak akan ku ingkari.

    Pengarang : Hengky Harun

    BalasHapus
  44. Nama : Risca Octavianex
    Kelas : XI P 7
    Nomor Absen : 37

    Puisi I
    Tema : Krisis Kepercayaan Terhadap Budaya Bangsa

    Budayaku

    Negeriku, negeri Indonesia
    Kaya akan budaya
    Kaya akan karya
    Yang membuat semua orang
    Takjub dan terpana
    Tapi,
    kita warga negara
    Apa yang telah kita buat
    Apa yang telah kita lakukan
    Adakah?
    Untuk menghargai
    Untuk melestarikan
    Budaya itu, karya itu
    Kalau bukan kita
    Lalu, siapa?
    Hanya satu hal
    Yang ingin terucap
    Aku cinta
    Budayaku

    Karya : Risca Octavianex


    Puisi II
    Tema : Kritik Terhadap Birokrasi

    Birokrasi Indonesia
    Birokrasi demokrasi
    Apa boleh dikata
    Beginilah keadaannya

    Buat apa demokrasi
    Buat apa birokrasi
    Tak ada yang peduli
    Apalagi, kalangan orang miskin dan papa
    Bagi mereka
    Masih hidup sampai hari ini pun sudah cukup
    Bisa makan hari ini pun sudah lumayan
    Lihatlah bangsa ini
    Lihatlah bangsa kita
    Birokrasi,
    kami perlu bukti bukan janji
    Memperbaiki diri
    Menuju Indonesia
    yang sejahtera,
    bagi semua warga negaranya

    Karya : Risca Octavianex
    Palembang, 4 Oktober 2009

    BalasHapus
  45. Puisi I :
    Tema : Realigi

    Nama : Carollina Gita N.
    Kelas : XIP7
    No : 08

    Takdir

    Terpejam aku di dalam kegelapan
    Di dalam kesunyian
    Dan di dalam keheningan
    Ku merenung

    Tetes demi tetes
    Darah yang mengalir dalam tubuhku
    Akan pasti berhenti
    Suatu saat nanti

    Entah kapan dan dimana
    Bagaimana dan mengapa
    Semua itu Rahasia
    Rahasia Pamungkas sang Ilahi

    Palembang, 4 Oktober 2009



    Puisi II
    Tema : Cinta Tanah Air

    Nama : Carollina Gita N.
    Kelas : XIP7
    No : 08


    Indonesia

    Indonesia,
    Gagah perkasa nama mu
    Besar dan hebat kharisma mu
    Gagah dan tangguh pelindungmu
    Elok nan indah rupamu
    Dimata bangsamu,
    Dimata dunia
    Dan dimata semua makhluk

    Indonesia,
    Begitu luhur budi Ibu Pertiwi
    Begitu mulia Cita –cita
    Harapan dan keinginan

    Indonesia,
    Kini semua kabur adanya
    Hanya untaian kata belaka
    Tanpa arti, tanpa makna

    Indonesia,
    Dimana semuanya sekarang
    Kandas bagai ditelan bumi
    Hanya nama
    Hanya bayangan semu
    Bagai rangka keropos tak berisi

    Palembang, 4 Oktober 2009

    BalasHapus
  46. Puisi I
    Tema : Krisis Kepercayaan terhadap Budaya Bangsa
    Oleh : Nimiya / XI P7 / 33

    Pergeseran Kebudayaan

    Manusia bergerak
    Begitu pula kebudayaan
    Hakikinya adalah sebuah kekuatan kehidupan
    Dalam suatu sistem nilai

    Sumber hukum masyarakat
    Gambaran negaranya
    Bagaimana pemerintahannya berpikir
    Dan kaki-kaki birokrasi berjalan

    Manusia telah terjebak hasrat
    Untuk memuaskan nalurinya
    Meninggalkan budaya aslinya
    Menyaingi dan membandingkannya

    Menggeser orisinalitas bangsa
    Apalagi tanpa antisipasi sebelumnya
    Dari kita semua
    Karena hanya kita penerus bangsa


    Puisi II
    Tema : Kritik Terhadap Birokrasi

    Adanya krisis keteladanan
    Dari sang gurukah?
    Apa penyebabnya?
    Keterasingan guru dari birokrasi mungkin

    Kita mesti memposisikan diri
    Dengan pemerintahan secara sejajar
    Kita mesti demokratis
    Karena ini pertanda krisis sistematik

    Banyak ketidakwajran pemerintahan
    Hanya janji buaian dari parpol-parpol
    Dan tentu bisa kita duga
    Terungkap lagi kebusukan partai

    Seakan mereka tak pernah menyesal
    Dan mengulang apa yang disesali
    Semoga birokrasi kita tambah dewasa
    Dan berkualitas

    Palembang, 4 Oktober 2009
    Karya : Nimiya Marieta / XI P7 / 33

    BalasHapus
  47. Puisi I
    Tema : Kemajuan Teknologi Informasi
    Nama : Yosefine Anggie
    Kelas / No Absen : XIP7/45

    Hari demi hari terus berganti
    Detik demi detik terlewati
    Dunia pun terus berputar
    Melewati siang dan malam

    Mau tak mau, sadar tak sadar
    Tanpa terasa perubahan semakin terjadi
    Kepada setiap insan di muka bumi
    Tua muda, pria wanita,
    Tanpa seorang pun terkecuali

    Mesin ketik menjadi komputer
    Surat berganti email
    Segala hal menjadi lebih instant
    Berkat adanya perkembangan teknologi yang semakin menjadi

    Palembang, 4 Oktober 2009







    Puisi II
    Tema : Cinta
    Nama : Yosefine Anggie
    Kelas / No Absen : XIP7/45

    Akhir Penantianku

    Di sini aku terdiam
    Menanti bayangmu yang tak kunjung datang
    Menanti seorang yang akan menyambut hangat tanganku
    Menanti sesosok peran yang dapat memelukku erat

    Disini aku masih terdiam
    Ketika bayangmu mulai menghampiriku
    Ketika seseorang sungguh menyambut hangat tanganku
    Ketika sosok itu memelukku erat

    Kini, ku tak terdiam lagi
    Karena ku yakin
    Pangeran berkuda putihku telah datang menjemputku
    Dan ku yakin, ia akan membawaku ke istana hatinya

    Palembang, 4 Oktober 2009

    BalasHapus
  48. Puisi I

    Tema : Cinta terhadap orang kecil
    Nama : Maya Saptiani
    Kelas : XIP7
    No Absen : 29

    Mereka yang Kecil

    Entah keringat mereka masa itu
    Maupun nanah di tubuh mereka
    Tak peduli sebusuk apa itu
    Indahkan juga aroma itu
    Biarkan wanginya bersatu dengan kita

    Atas maupun bawah
    Jangan hiraukan kasta mereka
    Aku cinta mereka
    Entah si buruk atau si busuk

    Biarkan wanginya bersatu dengan kita
    Mereka ajarkan tujuan hidup
    Mereka bagi harapan hidup
    Mereka sempurnakan bagian hidup

    Coba hirup dan rasakan aromanya
    Mereka penuh warna
    Ada hitam, merah, biru, abu
    Aku dan mereka
    Kita dan mereka
    Dia dan aku
    Apa bedanya?

    Tinggalkan kebahagiaanmu sejenak
    Mencoba untuk mencintai diri mereka
    Berusaha untuk mengasihi hidup mereka
    Karena mereka kecil

    Mereka yang kecil
    Aku coba untuk mengajar mereka
    Berbagi tawa
    Bertukar kepedihan

    Ada aku di sini
    Yang mau mencintai mereka
    Menghargai hidup mereka
    Memberi sebuah senyuman bahagia untuk mereka
    Karena mereka kecil tak selamanya jiwa mereka kecil

    Palembang, 4 Oktober 2009



    Puisi II

    Nama : Maya Saptiani
    Kelas : XIP7
    No absen : 29

    Tragedi Remaja

    Remaja…
    Bersenang-senang demi kepuasan hati
    Membuang-buang waktu demi kepuasan hati
    Menghambur-hamburkan uang demi kepuasan hati
    Membohongi orang demi kepuasan hati

    Tak peduli bersenang-senang sampai tubuh terguling lemah
    Tak peduli membuang waktu sampai larut malam bahkan sampai matahari terbit
    Tak peduli menghamburkan uang hasil jerih payah orang tua atau bisa jdi uang yang tidak layak digunakan
    Tak peduli orang yang dibohongi orang yang disayangi orang yang dibenci bahkan orang sudah membesarkan kita

    Mengapa?
    Mengapa etika kita mustahil untuk dicontoh bagi adik-adik kita yang sebentar lagi remaja?
    Mustahil dikatakan sebagai etika yang wajar untuk seusia kita
    Mengapa?
    Mengapa kita tidak bisa dewasa? Tak keluar dari usai remaja?

    Palembang, 4 Oktober 2009

    BalasHapus
  49. Puisi I
    Tema: Krisis Kepercayaan terhadap budaya bangsa

    Nama: Ricky Andrean
    Kelas: XI P7
    No absen: 35

    Budaya yang terlupakan

    Sunyi sudah bangsa ku kini
    Tanpa budaya yang indah itu
    Yang hilang bagaikan angin berlalu
    Terlenyap oleh waktu

    Kini bukan hanya waktu yang menggerusnya
    Bukan bangsa kita pula yang melupakannya
    Tapi bangsa lain lah yang merampasnya
    Akankah kita merelakannya?

    Budaya yang telah mewarnai bangsa kita selama ratusan tahun
    Dan diciptakan dengan jerih payah leluhur kita
    Dirampas Negara lain dengan sekejap mata
    Jangan pernah melupakan budaya yang telah diberikan oleh leluhur kita tapi jagalah agar tak terampas Negara lain


    Puisi II
    Tema: Kritik birokrasi

    Uang atau rakyat

    Dulu, janji-janji kau ucapkan
    Hanya untuk membuat mu menjadi orang yang berkuasa
    Setelah berkuasa kau abaikan semua
    Semua jeritan derita rakyat kecil

    Kau ambil semua harta-harta rakyat kecil untuk kesenanganmu
    Dimanakah hati nurani mu?
    Hingga kau tega melakukan nya
    Dimana janji-janji yang kau ucapkan itu?

    Apa yang utamakan?
    Uang atau rakyat?
    Jika kau memang pemimpin yang baik
    Bisakah kau menepati janji-janji mu, membuat negeri ini menjadi lebih baik?

    BalasHapus
  50. Karya : ivan darmawan
    Kelas : IX IPA 7
    No. absent : 21

    Tema 1 : cinta terhadap kaum kecil

    Kaum miskin


    Sungguh malang nasibmu
    Anngap saja semua kesusahan yang kau alami adalah anugrah dari Tuhan
    Meskipun susah mencari makan
    Kau sangat tekun mncari tanpa mengenal lelah
    Segalanya kau terima dengan ikhlas dan lapang dada
    Untuk bertahan hidup semuanya kau lakukan
    Tinggal di dalam gubuk tua dan sempit
    Kau tetap bertahan hidup
    Meskipun kau berteriak
    Berikan kami hidup !!
    Berikan kami cinta !!
    Berikan kami kesempatan !!
    Tetapi tidak ada yang melmbaikan tangan walau hanya sekedar menyapa .


    Puisi 2 : dekadensi moral


    Moral generasi muda


    Narkoba ,, obat terlarang ,, pergaulan bebas
    Itulah yg dikerjakan wahai kau generasi muda
    Hanya untuk menikmati nafsu duniawi saja
    Kau tega melakukan perbuatan kriminal
    Entah ke mana lagi moral yang ada dalam diri kalian ??
    Bahkan moral yg dulu terpupuk sekarang terkikis gara-gara pergaulan bebas
    Moral kalian sudah rusak hanya sekedar melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji
    Sampai kapan kah ini bisa terjadi ??
    Ataukah 5 sampai 10 tahun ke depan tidak ada lagi generasi muda yg bermoral

    BalasHapus
  51. Puisi 1
    Tema: Cinta terhadap kaum miskin

    Takdir kaum miskin

    Karya: Julius King
    XI IPA 7/23
    Ia tak membayangkan begini
    Juga tidak ingin seperti ini
    Namun garis kehidupan berkata demikian
    Mengisahkan fenomena nyata dalam kehidupan

    Menjadi tanda tanya bagi mereka,
    mengapa mereka dilahirkan di dunia yang kejam ini?
    Diperlakukan layaknya binatang
    Diterlantarkan layakny sebuah benda tak berguna

    Mencari kebahagiaan ditengah-tengah kesengsaraan
    Kadang tekad itu luluh,
    karena sayatan yang dilontarkan kita kepadanya
    Mengertikah kamu itu sakit?

    Mengikuti arah angin membawa langkah
    Berhembus dengan lembut
    Mungkinkah hal itu akan berbalik?
    Takdir kaum miskin

    Puisi 2
    Tema: Dekadensi Moral

    Keteguhan hati

    Karya: Julius King
    XI IPA 7/23


    Tahukah kalian mengapa kalian dilahirkan disini?
    Menghadapi takdir yang tidak berarah
    Ku kan terbang
    Terbang tuk mengubah takdir

    Menjelajah hingga laut samudra
    Hingga mengerti makna hidup ini
    Mengibas sayap hingga langit kugapai
    Berharap menjadi terang

    Melihat semua tragedi kehidupan
    Akankah mewangi?
    Ataukah membusuk?
    Itu berada di ujung jarimu

    Moralmu kan bergulat
    Sampai kau menyetujui
    Sebuah keteguhan hati
    Hingga terukir indah

    BalasHapus
  52. Puisi 1
    Tema :Religi

    Arti Hidup
    Karya:Adrean Angga A.M
    XI IPA 7 / 01

    Betapa kecil diriku
    Di balik besar kuasa-Mu
    Ya Tuhanku

    Apalah arti hidupku
    Tanpa bimbingan tongkat dan gada-Mu
    Aku hilang di telan kegelapan
    Ya Gembalaku

    Ingin kuisi hidupku
    Agar dapat berarti bagi sesama
    Dan bagi kemuliaan Nama-Mu
    dengan segenap jiwa ragaku
    Menyembahmu...
    Ya Bapaku

    Itulah keinginanku
    Aku mau mendapat arti hidupku
    Dalam naungan cahaya terangku
    Ya Pelitaku

    Kepedihan, kesedihan, dan perjuangan hidupku
    Hanya dapat kulalui
    Dengan kekuatan yang dari pada-Mu
    Dan Dalam kasih sayang-Mu
    Ya Tuhanku, Gembalaku, Ya Batu Karangku

    BalasHapus
  53. Puisi 2
    Tema : Cinta Tanah Air

    Ibu Pertiwi
    Karya : Adrean Angga A.M
    XI IPA 7 / 01

    Di kala fajar menyingsing
    Pada 17 Agustus 1945
    Tabuh genderang di waktu subuh, menggelora hati
    Tiap jiwa dan raga
    Bangsa Indonesia

    Indonesia...
    Negeri elok bak nirwana
    Kaya akan segalanya
    Tak perlulah kita melirik negeri tetangga
    Di Indonesia semuanya sudah ada
    Tanah subur, budaya kaya, seni dan rupa
    Seluruh rakyat bergembira
    Bangga atas kecantikan Sang Ibu Pertiwi

    Gemericik air di musim hujan, udara segar, sawah dan ladang menghampar
    Bak permadani di taman Firdaus
    Betapa indah Sang Zamrud Khatulistiwa
    Bersoraklah wahai rakyat Indonesia!!
    Sebab negeri kita surga dunia...

    BalasHapus
  54. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  55. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  56. Antonius Ivan
    XI IPA 7 / 04

    Puisi 1
    Tema : Patriotisme


    Judul : Pengorbanan Seorang Pemuda
    Karya : Antonius Ivan


    Aku berdiri tegap memandangnya
    Tetes air mataku mewakili segalanya
    Akan haruku yang tiada tara
    Mengetahui bahwa tanah kita telah merdeka

    Tanganku terangkat tanda hormat
    Wajahku menengadah tanda hikmat
    Karna Indonesia tak lagi tersesat
    Dalam kegelapan yang kian pekat

    Hai pemuda di ujung sana!
    Taukah kau kita telah merdeka
    Ini bukan hadiah biasa
    Tapi hasil pengorbanan jiwa dan raga

    Hai pemuda di atas sana!
    Pengobananmu tak pernah sia - sia
    Dan darahmu tak mengalir begitu saja
    Karna kini penjajah telah tiada

    Hai pemuda di balik cahaya!
    Bahagialah engkau di surga
    Tenanglah engkau di pangkuanNya
    Karna saudaramu tak lagi menderita..



    Puisi 2
    Tema : Religiusitas

    Judul : Menjadi Seorang yang Baru
    Karya : Antonius Ivan


    Maaf cintaMu kutinggalkan
    Maaf kasihMU kuabaikan
    TanpaMu, aku bersemayam dalam keegoisan
    Terpuruk bersama kecemasan

    MataMu bersimbah air mata
    Mengantar anakMu keliang dosa
    HatiMU telah putus asa
    Melihat anakMU menjadi pendosa

    Kutahu sesalku tiada guna
    Tapi tetap saja sesalku kian membara
    Kutahu tempatku di surga telah tiada
    Tapi tetap saja kutakut tuk melangkah ke neraka

    Tak kusangka Kau merubah segalanya
    Kau bawa cahaya itu walapun aku seorang pendosa
    Kau bawa kasih itu walaupun aku seorang rendah
    Kau menggandeng aku yang berhianat ini tanpa lelah

    Kini ku siap tinggalkan hidup semu
    Tuk kembali ke pangkuanMu
    Kini ku siap membayar dosaku
    Tuk menjadi anakMu yang baru…

    BalasHapus
  57. Julius Maju Bona
    XI IPA 7
    24
    Tema: cinta terhadap kaum miskin
    KELAPARAN SANG MISKIN
    waktu detik-detik serta menit-menit bergerak perlahan
    semakin cepat
    diikuti perlahan
    waktu berputar

    ia masih bimbang dalam kecemasan
    semakin terikat himpitan otak
    mereka tak peduli angkuh
    atas kekalahan-kekalahan yang mereka dapat

    ia bertaruh waktu
    memaksanya terus berpikir
    semakin cepat hitungan detik
    dan kota pun menjadi disalahkan

    dalam malam-malam panjang
    waktu berputar terlalu cepat
    hentikan pelariannya
    ia pegang tempat mencari sesuap nasi
    sang miskin mati raga melihat dirinya kelaparan
    dan bertanya mengapa ia miskin

    ia berharap dan berkata “Oh pemimpin, mana rasa kasihan kalian?”
    mereka merasa tidak dirawat
    dan tidak semangat melihat dirinya kelaparan

    BalasHapus
  58. Julius Maju Bona
    XI IPA 7
    24
    Tema : dekadensi moral
    MARAKNYA PENCURIAN ADAT

    cukuplah kita begini
    cukuplah duri itu menancap
    cukuplah hancurnya imajinasi
    yang sudah ada sejak zaman dulu


    mereka lukai kita
    menghancurkan senyum hangat kita bersama
    merendahkan harapan untuk bertahan

    bermohonlah
    agar kita tidak menangis
    karena marakmya pencurian adapt
    tersiksa angan kesepian

    katakan…
    kita masih bisa berani menghadapi mereka
    seandainya kita bertatap dengan mereka
    berjumpa bukan sekadar saling menegur
    tetapi juga bisa berebut hak milik
    masih mungkinkah kita mengambilnya dari tangan mereka
    atau kita kan diam atau mati saja
    dihujam sejuta ketakutan

    BalasHapus