Senin, 28 September 2009

KARYA OLAH NASKAH DRAMA KELAS XI IPA 6

Karya olah naskah ini didasarkan pada kemauan untuk berkembang dan mengapresiasi sastra Indonesia. Semuanya bermula pada kehendak dan sikap meberikan penghargaan yang baik terhadap karya sastra Indonesia sehingga di kemudian hari bangsa kita memang pantas dibanggakan serta memiliki jati diri yang baik, meskipun arus globalisasi kian mengglobal. Oleh sebab itu, mohon dipahami bahwa ini adalah pengembanagn kompetensi apresiasi kami terhdap kaya sastra bangsa kita sehingga segala kelemahan yang ada bukanlah harga mati, melainnkan titik awal pengembangan jati diri. Selamat menikmati!

290 komentar:

  1. Nama : Idealisa D.H.
    Kelas : XI IPA 6 / 22

    Asal Usul Kota Banyuwangi

    Pada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu. “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,” kata Raden Banterang kepada para abdinya. Setelah peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya.

    “Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. “Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. “Hem, segar nian air sungai ini,” Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya. Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita.

    “Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu hutan,” gumam Raden Banterang bertanya-tanya. Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu. “Kau manusia atau penunggu hutan?” sapa Raden Banterang. “Saya manusia,” jawab gadis itu sambil tersenyum. Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya. “Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”. “Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,” Jelasnya. Mendengar ucapan gadis itu, Raden Banterang terkejut bukan kepalang. Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia.

    Pada suatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana. “Surati! Surati!”, panggil seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping. Setelah mengamati wajah lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang berada di depannya adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa. Maksud kedatangan Rupaksa adalah untuk mengajak adiknya untuk membalas dendam, karena Raden Banterang telah membunuh ayahandanya. Surati menceritakan bahwa ia mau diperistri Raden Banterang karena telah berhutang budi. Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak kandungnya. Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya. Namun, ia sempat memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala kepada Surati. “Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu,” pesan Rupaksa.
    Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan.

    BalasHapus
  2. Tatkala Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping. “Tuangku, Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan sendiri,” kata lelaki itu. “Tuan bisa melihat buktinya, dengan melihat sebuah ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat peraduannya. Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan,” jelasnya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki berpakaian compang-camping itu hilang secara misterius. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia pun segera pulang ke istana.

    Setelah tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraaduan istrinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian compang-camping yang telah menemui di hutan. “Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini sebagai bukti! Kau merencanakan mau membunuhku dengan minta tolong kepada pemilik ikat kepala ini!” tuduh Raden Banterang kepada istrinya. “ Begitukah balasanmu padaku?” tandas Raden Banterang.”Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang lelaki!” jawab Surati. Namun Raden Banterang tetap pada pendiriannya, bahwa istrinya yang pernah ditolong itu akan membahayakan hidupnya. Nah, sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya.

    Raden Banterang berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai. Setelah tiba di sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki compang-camping ketika berburu di hutan. Sang istri pun menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti yang dijelaskan suaminya. “Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda,” Surati menjelaskan kembali, agar Raden Banterang luluh hatinya. Namun, Raden Banterang tetap percaya bahwa istrinya akan mencelakakan dirinya.

    “Kakanda suamiku! Bukalah hati dan perasaan Kakanda! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa,” ucap Surati mengingatkan.
    “Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolah!”. Mendengar hal tersebut , hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong.. “Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati. Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang.

    Tidak berapa lama, terjadi sebuah keajaiban. Bau nan harum merebak di sekitar sungai. Melihat kejadian itu, Raden Banterang berseru dengan suara gemetar. “Istriku tidak berdosa! Air kali ini harum baunya!” Betapa menyesalnya Raden Banterang. Ia meratapi kematian istrinya, dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat.

    Sejak itu, sungai menjadi harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.

    Sumber : http://legendakita.wordpress.com/2008/09/03/asal-usul-kota-banyuwangi/

    BalasHapus
  3. Naskah Drama :

    Asal Usul Kota Banyuwangi

    Babak 1

    Pada zaman dahulu, di kawasan ujunga Provinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang yang sangat gemar berburu. Pada suatu pagi, Raden Banterang akan pergi berburu ke hutan.
    Raden Banterang : “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu.”
    Para Abdi : “Baik, Tuanku.”
    Ketika Raden Banterang berjalan, ia melihat seekor kijang melintas didepannya. Ia pun berusaha mengejar kijang itu sehingga terpisah dari para abdinya.
    Raden Banterang : “Kemana seekor kijang tadi? Akan ku cari terus sampai dapat.”
    Ia pun menerobos semak belukar dan pepohonan di hutan. Namun, kijang itu tidak ditemukan.

    Babak 2

    Setelah lama berjalan, Raden Banteang tiba di sebuah sungai yang sangat jernih airnya.
    Raden Banterang : “Hemm, segar sekali air sungai ini.” (sambil meminum air sungai)
    Setelah minum, ia meninggalkan sungai. Namun, baru beberapa langkah berjalan, ia tiba – tiba dikejutkan dengan adanya kedatangan seorang gadis cantik jelita.
    Raden Banterang : “Ha ? Seorang gadis cantik jelita ? Benarkah ia seorang manusia ? Atau jangan – jangan ia setan penunggu hutan.” (bergumam didalam hati)
    Raden Banterang pun memberanikan diri mendekati gadis itu.
    Raden Banterang : “Anda manusia tau penunggu hutan ?”
    Surati : “Saya manusia.” (menjawab sambil tersenyum)
    Raden Banterang : “Siapakah anda? Dan darimana kamu berasal ?”
    Surati : “Nama saya Surati. Saya berasal dari Kerajaan Klungkung.”
    Raden Banterang : “Mengapa anda bisa berada di tempat seperti ini ?”
    Surati : “Saya berada di tempat ini untuk menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan.”
    Raden Banterang : “Kasihan sekali. Bersediakah anda ikut dengan saya pulang ke istana saya ?”
    Surati : “Baiklah kalau begitu, saya bersedia.”
    Lalu, mereka pulang ke istana. Tak lama kemudian, Raden Banterang dan Surati pun menikah dan membangun keluarga yang bahagia.

    Babak 3

    Pada suatu hari, Putri Raja Klungkung berjalan – jalan sendirian ke luar istana. Kemudian, ada seorang laki – laki yang berpakaian copang – camping memanggilnya.
    Rupaksa : “Surati ! Surati !!”
    Surati : “Siapakah anda ?” (bertanya sambil mengamati wajah laki – laki itu)
    Rupaksa : “Ini aku, Surati. Kakak kandungmu, Rupaksa.”
    Surati : “Oh. Ada tujuan apa kakak datang mengunjungiku ?”
    Rupaksa : “Begini Surati, tujuanku datang kesini adalah untuk mengajakmu membalas dendam.”
    Surati : “Membalas dendam ?”
    Rupaksa : “Ya. Kita harus membalas dendam. Raden Banterang lah yang telah membunuh ayah kita, Surati.”
    Surati : “Maaf, kakak. Tapi aku tidak bisa melakukannya.”
    Rupaksa : “Apa ?! Mengapa ?”
    Surati : “Aku sudah diperisteri Raden Banterang.”
    Rupaksa : “Apa ?! Kau harus membalas dendam Surati !Dia telah membunuh ayah kita !”
    Surati : “Tidak bisa. Aku telah berhutang budi padanya karena ia telah menolongku.”
    Rupaksa : “Ya sudah, kalau itu memang maumu. Tapi sebelumnya, aku ada titipan untukmu. Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu.” (berkata sambil memberikan sebuah ikat kepala kepada Surati)
    Setelah itu, Rupaksa langsung pergi dari tempat itu. Pertemuan Surati dan Rupaksa tidak diketahui oleh Raden Banterang karena saat itu, ia sedang pergi berburu di hutan.

    BalasHapus
  4. Babak 4

    Tatkala Raden Banterang sedang berburu di tengah hutan, ia dikejutkan dengan kedatangan seorang laki – laki berpakaian compang – camping.
    Rupaksa : “Tuanku, Raden Banterang. Keselamatan tuan terancam bahaya yang direncanakan isteri tuan sendiri.”
    Raden Banterang : “Apa ?! Kamu jangan menuduh yang tidak – tidak kepada isteri saya.”
    Rupaksa : “Kalau tuan tidak percaya, tuan bisa melihat buktinya dengan melihat sebuag\h ikat kepala yang diletakkan dibawah tempat peaduannya.”
    Raden Banterang : “Ikat kepala ? Milik siapa itu ?”
    Rupaksa : “Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh tuan.”
    Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia pun segera pulang ke istana.

    Babak 5

    Sesampainya di istana, Raden Banterang lansung menuju ke peraduan isterinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan lelaki yang ditemuinya di hutan tadi. Raden Banterang pun menemukan ikat kepala itu.
    Raden Banterang : “Ha ! Ini dia. Benar kata laki – laki itu. Surati !! Surati !!”
    Surati : “Ada apa ?”
    Raden Banterang : “Kau merencanakan mau membunuhku bukan ?”
    Surati : “Apa ? Tidak. Tidak ada sekali pun keinginan dinda untuk membunuh.”
    Raden Banterang : “Ikat kepala ini sebagai bukti ! Kau meminta tolong kepada pemilik ikat kepala ini untuk membunuhku. Begitukah balasanmu padaku ?”
    Surati : “Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi meminta tolong kepada seorang lelaki !!”
    Raden Banterang : “Aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan !! Sekarang ikut saya !!”
    Raden Banterang berniat menenggelamkan isterinya di sebuah sungai.

    Babak 6

    Setelah tiba disungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuannya dengan seorang laki – laki compang – camping saat berburu di hutan.
    Raden Banterang : “Aku tahu semua yang akan kamu lakukan dari seorang laki – laki yang berpakaian compang – camping di hutan.”
    Surati : “Lelaki compang – camping ?”
    Raden Banterang : “Ya ! Dialah yang mengatakan bahwa kau ingin membunuhku !!”
    Surati : “Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda.”
    Raden Banterang : “Aku tetap tidak percaya dengan apa yang kamu katakan, Surati !!”
    Surati : “Kakanda suamiku ! Bukalah hati dan perasaan Kakanda ! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda yang bernama Rupaksa itu.”
    Raden Banterang : “Aku tidak ingin mendengar alasan lain lagi darimu !”
    Surati : “Pupaksalah yang akan membunuh Kakanda ! Adinda dimintai bantuan, tetapi Adinda tolak !”
    Raden Banterang : “Kau berbohong !”
    Surati : “Kakanda ! Jika air sungai ini mejadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah ! Tetapi, jika air ini tetap keruh dan berbau busuk, berarti Adinda bersalah !”
    Raden Banterang : “Kau mengada – ada, Surati !!” (berkata sambil menghunuskan keris kearah Surati)
    Kemudian, Surati melompat ke tengah sungai dan menghilang. Tak lama kemudian bau nan harum merebak di sekitar sungai. Raden Banterang terkejut.
    Raden Banterang : “Isteriku tidak bersalah ! Air sungai ini harum sekali baunya !”
    Ia menyesal dan meratapi kematian isterinya dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat.

    Sejak saat itu, sungai harum baunya itu dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air, dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  8. Nama : Chrisella
    Kelas / Absen : XI IPA 6 / 11

    Si Lancang

    Konon, pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang wanita miskin dengan anak laki-lakinya yang bernama si Lancang. Mereka berdua tinggal di sebuah gubuk reot di sebuah negeri bernama Kampar. Ayah si Lancang sudah lama meninggal dunia. Emak Lancang bekerja menggarap ladang orang lain, sedangkan si Lancang menggembalakan ternak tetangganya.

    Pada suatu hari, si Lancang betul-betul mengalami puncak kejenuhan. Ia sudah bosan hidup miskin. Ia ingin bekerja dan mengumpulkan uang agar kelak menjadi orang kaya. Akhirnya ia pun meminta izin emaknya untuk pergi merantau ke negeri orang. “Emak, Lancang sudah tidak tahan lagi hidup miskin. Lancang ingin pergi merantau, Mak!” mohon si Lancang kepada emaknya. Walaupun berat hati, akhirnya emaknya mengizinkan si Lancang pergi. “Baiklah, Lancang. Kau boleh merantau, tetapi jangan lupakan emakmu. Jika nanti kau sudah menjadi kaya, segeralah pulang,” jawab Emak Lancang mengizinkan.

    Mendengar jawaban dari emaknya, si Lancang meloncat-loncat kegirangan. Ia sudah membayangkan dirinya akan menjadi orang kaya raya di kampungnya. Ia tidak akan lagi bekerja sebagai pengembala ternak yang membosankan itu. Emak Lancang hanya terpaku melihat si Lancang meloncat-loncat. Ia ia tampaknya sedih sekali akan ditinggal oleh anak satu-satunya. Melihat ibunya sedih, si Lancang pun berhenti meloncat-lonta, lalu mendekati emaknya dan memeluknya. “Janganlah bersedih, Mak. Lancang tidak akan melupakan emak di sini. Jika nanti sudah kaya, Lancang pasti pulang Mak,” kata si Lancang menghibur emaknya. Emaknya pun menjadi terharu mendengar ucapan dan janji si Lancang, dan hatinya pun jadi tenang. Lalu si Emak berkata, “Baiklah Nak! Besok pagi-pagi sekali kamu boleh berangkat. Nanti malam Mak akan membuatkan lumping dodak untuk kamu makan di dalam perjalanan nanti.”

    Keesokan harinya, si Lancang pergi meninggalkan kampung halamannya. Emaknya membekalinya beberapa bungkus lumping dodak makanan kesukaan si Lancang.

    Bertahun-tahun sudah si Lancang di rantauan. Akhirnya ia pun menjadi seorang pedagang kaya. Ia memiliki berpuluh-puluh kapal dagang dan ratusan anak buah. Istri-istrinya pun cantik-cantik dan semua berasal dari keluarga kaya pula. Sementara itu, nun jauh di kampung halamannya, emak si Lancang hidup miskin seorang diri.

    Suatu hari si Lancang berkata kepada istri-istrinya bahwa dia akan mengajak mereka berlayar ke Andalas. Istri-istrinya pun sangat senang. “Kakanda, bolehkah kami membawa perbekalan yang banyak?” tanya salah seorang istri Lancang. “Iya…Kakanda, kami hendak berpesta pora di atas kapal,” tambah istri Lancang yang lainnya.

    BalasHapus
  9. Si Lancang pun mengabulkan permintaan istri-istrinya tersebut. “Wahai istri-istriku! Bawalah perbekalan sesuka kalian,” jawab si Lancang. Mendengar jawaban dari si Lancang, mereka pun membawa segala macam perbekalan, mulai dari makanan hingga alat musik untuk berpesta di atas kapal. Mereka juga membawa kain sutra dan aneka perhiasan emas dan perak untuk digelar di atas kapal agar kesan kemewahan dan kekayaan si Lancang semakin tampak.

    Sejak berangkat dari pelabuhan, seluruh penumpang kapal si Lancang berpesta pora. Mereka bermain musik, bernyanyi, dan menari di sepanjang pelayaran. Hingga akhirnya kapal si Lancang yang megah merapat di Sungai Kampar, kampung halaman si Lancang. “Hai …! Kita sudah sampai …!” teriak seorang anak buah kapal.

    Penduduk di sekitar Sungai Kampar berdatangan melihat kapal megah si Lancang. Rupanya sebagian dari mereka masih mengenal wajah si Lancang. “Wah, si Lancang rupanya! Dia sudah jadi orang kaya,” kata guru mengaji si Lancang. “Megah sekali kapalnya. Syukurlah kalau dia masih ingat kampung halamannya ini,” kata teman si Lancang sewaktu kecil. Dia lalu memberitahukan kedatangan si Lancang kepada emak si Lancang yang sedang terbaring sakit di gubuknya.

    Betapa senangnya hati emak si Lancang saat mendengar kabar anaknya datang. “Oh, akhirnya pulang juga si Lancang,” seru emaknya dengan gembira. Dengan perasaan terharu, dia bergegas bangkit dari tidurnya, tak peduli meski sedang sakit. Dengan pakaian yang sudah compang-camping, dia berjalan tertatih-tatih untuk menyambut anak satu-satunya di pelabuhan.

    Sesampainya di pelabuhan, emak si Lancang hampir tidak percaya melihat kemegahan kapal si Lancang anaknya. Dia tidak sabar lagi ingin berjumpa dengan anak satu-satunya itu.

    Dengan memberanikan diri, dia mencoba naik ke geladak kapal mewahnya si Lancang. Saat hendak melangkah naik ke geladak kapal, tiba-tiba anak buah si Lancang menghalanginya. “Hai perempuan jelek! Jangan naik ke kapal ini. Pergi dari sini!” usir seorang anak buah kapal si Lancang. “Tapi …, aku adalah emak si Lancang,” jelas perempuan tua itu.

    Mendengar kegaduhan di atas geladak, tiba-tiba si Lancang yang diiringi oleh istri-istrinya tiba-tiba muncul dan berkata, “Bohong! Dia bukan emakku. Usir dia dari kapalku,” teriak si Lancang yang berdiri di samping istri-istrinya. Rupanya ia malu jika istri-istrinya mengetahui bahwa wanita tua dan miskin itu adalah emaknya.

    “Oh, Lancang …, Anakku! Emak sangat merindukanmu, Nak …,” rintih emak si Lancang. Mendengar rintihan wanita tua renta itu, dengan congkaknya si Lancang menepis, lalu berkata, “manalah mungkin aku mempunyai emak tua dan miskin seperti kamu.” Kemudian si Lancang berteriak, “Kelasi! Usir perempuan gila itu dari kapalku!” Anak buah si Lancang mengusir emak si Lancang dengan kasar.

    Dia didorong hingga terjerembab. Kasihan sekali Emak Lancang. Sudah tua, sakit-sakitan pula. Sungguh malang nasibnya. Hatinya hancur lebur diusir oleh anak kandungnya sendiri. Dengan hati sedih, wanita tua itu pulang ke gubuknya. Di sepanjang jalan dia menangis. Dia tidak menyangka anaknya akan tega berbuat seperti itu kepadanya.

    Sesampainya di rumah, wanita malang itu mengambil lesung dan nyiru pusaka. Dia memutar-mutar lesung itu dan mengipasinya dengan nyiru sambil berdoa, “Ya, Tuhanku. Si Lancang telah kulahirkan dan kubesarkan dengan air susuku. Namun setelah kaya, dia tidak mau mengakui diriku sebagai emaknya. Ya Tuhan, tunjukkan padanya kekuasaan-Mu!”

    Dalam sekejap, tiba-tiba angin topan berhembus dengan dahsyat. Petir menggelegar menyambar kapal si Lancang. Gelombang Sungai Kampar menghantam kapal si Lancang hingga hancur berkeping-keping. Semua orang di atas kapal itu berteriak kebingungan, sementara penduduk berlarian menjauhi sungai.

    “Emaaak…, si Lancang anakmu pulang. Maafkan aku, Maaak!” terdengar sayup-sayup teriakan si Lancang di tengah topan dan badai. Namun, malapetaka tak dapat dielakkan lagi. Si Lancang dan seluruh istri dan anak buahnya tenggelam bersama kapal megah itu.

    BalasHapus
  10. Barang-barang yang ada di kapal si Lancang berhamburan dihempas badai. Kain sutra yang dibawa si Lancang dalam kapalnya melayang-layang. Kain itu lalu berlipat dan bertumpuk menjadi Negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri. Sebuah gong terlempar dan jatuh di dekat gubuk emak si Lancang di Rumbio, menjadi Sungai Ogong di Kampar Kanan. Sebuah tembikar pecah dan melayang menjadi Pasubilah yang letaknya berdekatan dengan Danau si Lancang. Di danau itulah tiang bendera kapal si Lancang tegak tersisa. Bila sekali waktu tiang bendera kapal si Lancang itu tiba-tiba muncul ke permukaan danau, maka pertanda akan terjadi banjir di Sungai Kampar. Banjir itulah air mata si Lancang yang menyesali perbuatannya karena durhaka kepada emaknya.

    Sejak peritiwa itu, masyarakat Kampar meyakini bahwa meluapnya sungai Kampar bukan saja disebabkan oleh tingginya curah hujan di daerah ini, tetapi juga disebabkan oleh munculnya tiang kapal si Lancang di Danau Lancang. Kabupaten Kampar yang masuk dalam wilayah Propinsi Riau ini, sangat rawan dengan banjir. Hampir setiap tahun Sungai Kampar meluap, sehingga menyebabkan banjir besar yang bisa merendam pemukiman penduduk di sekitarnya.

    BalasHapus
  11. Naskah drama
    Si Lancang


    Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang wanita miskin dengan anak laki-lakinya yang bernama si Lancang. Mereka berdua tinggal di sebuah gubuk reot di sebuah negeri bernama Kampar. Ayah si Lancang sudah lama meninggal dunia. Emak Lancang bekerja menggarap ladang orang lain, sedangkan si Lancang menggembalakan ternak tetangganya.

    Babak 1
    Pada suatu hari, si Lancang betul-betul mengalami puncak kejenuhan. Ia sudah bosan hidup miskin. Ia ingin bekerja dan mengumpulkan uang agar kelak menjadi orang kaya dan ia pun meminta izin emaknya untuk pergi merantau ke negeri orang.

    Si Lancang : Emak, Lancang sudah tidak tahan lagi hidup miskin. Lancang ingin pergi merantau, Mak! (dengan nada memohon)
    Emak : (dengan berat hati) Baiklah, Lancang. Kau boleh merantau, tetapi jangan lupakan emakmu. Jika nanti kau sudah menjadi kaya, segeralah pulang.

    Babak 2
    Mendengar hal itu, Lancang pun terus melompat kegirangan , dan terus membayangkan dirinya menjadi orang kaya raya di kampungnya. Tetapi, emak hanya terpaku menatap anaknya. Dan seketika itu Lancang pun langsung mendekati dan memeluknya.

    Emak : Emak hanya sedih , karena Lancang adalah satu-satunya yang emak punya dan sekarang Lancang akan meninggalkan emak.
    Lancang : Janganlah bersedih, Mak. Lancang tidak akan melupakan emak di sini. Jika nanti sudah kaya, Lancang pasti pulang, Mak.
    Emak : (dengan terharu) Baiklah Nak! Besok pagi-pagi sekali kamu boleh berangkat. Nanti malam Mak akan membuatkan lumping dodak untuk kamu makan di dalam perjalanan nanti.
    Lancang : Terima kasih, Mak!

    Babak 3
    Kemudiaan Lancang pun meninggalkan kampung halamannya.
    Setelah bertahun – tahun Lancang merantau, akhirnya dia berhasil menjadi saudagar kaya, dengan berpuluh-puluh kapal dagang dan ratusan anak buah. Istri-istrinya pun cantik-cantik dan semua berasal dari keluarga kaya. Namun, emak Lancang hidup sendiri dan terus menunggu anaknya.
    Si Lancang : Hai, istri-istriku, aku akan mengajak kalian semua berlayar bersamaku ke Andalas.
    Istri-istri : (dengan senang) Horeee! Kakanda, bolehkah kami membawa perbekalan yang banyak?? Dan kami hendak berpesta dengan meriah di atas kapal.
    Si Lancang : Wahai istri-istriku! Bawalah perbekalan sesuka kalian!
    Kemudiaan para istri pun membawa segala barang, untuk memamerkan kekayaan yang dimiliki suami mereka.

    BalasHapus
  12. Babak 4
    Sejak berangkat dari pelabuhan, seluruh penumpang kapal si Lancang berpesta pora. Mereka bermain musik, bernyanyi, dan menari di sepanjang pelayaran. Hingga akhirnya kapal si Lancang yang megah merapat di Sungai Kampar, kampung halaman si Lancang.
    Anak buah kapal : Hai …! Kita sudah sampai …!
    Babak 5
    Penduduk di sekitar Sungai Kampar berdatangan melihat kapal megah si Lancang. Rupanya sebagian dari mereka masih mengenal wajah si Lancang.
    Guru mengaji : Wah! Si Lancang sudah menjadi orang kaya ternyata!
    Teman Lancang : Iya! Sungguh megah kapalnya.Dan syukurlah dia masih ingat akan kampung halamannya. Aku akan segera memberitahu berita ini kepada ibunya.
    Ibu! Lancang telah tiba di sini. Cepat hampiri dia, bu.
    Emak : Benarkah ? Oh, akhirnya pulang juga anakku. (dengan bahagia)
    Babak 6
    Sesampainya di pelabuhan, emak si Lancang hampir tidak percaya melihat kemegahan kapal si Lancang anaknya. Dia tidak sabar lagi ingin berjumpa dengan anak satu-satunya itu. Dengan memberanikan diri, dia mencoba naik ke geladak kapal mewahnya si Lancang.
    Anak buah : Hai perempuan jelek! Jangan naik ke kapal ini. Pergi dari sini! (usir anak buah dengan kasar)
    Emak : Tapi, aku adalah emak Si Lancang.

    Mendengar keributan itu, Lancang pun muncul bersama istri-istrinya.

    Si Lancang : Bohong! Dia bukan emakku. Usir dia dari kapalku!
    Emak : Oh Lancang, anakku. Ibu sangat merindukanmu,nak.(dengan rintih)
    Si Lancang : Manalah mungkin aku mempunyai emak tua dan miskin seperti kamu.
    Kelasi, usir perempuan tua itu dari kapalku!!

    BalasHapus
  13. Babak 7
    Emak didorong hingga jatuh. Sungguh kasihan sekali.Hatinya hancur telah diusir oleh anak kandungnya sendiri.Emak pun kembali ke gubuknya dengan luka.Dia sungguh tak menyangka, anaknya tega melakukan hal itu kepadanya.

    Babak 8
    Sesampainya di rumah, wanita malang itu mengambil lesung dan nyiru pusaka. Dia memutar-mutar lesung itu dan mengipasinya dengan nyiru.
    Emak : (sambil berdoa) Ya, Tuhanku. Si Lancang telah kulahirkan dan kubesarkan dengan air susuku. Namun setelah kaya, dia tidak mau mengakui diriku sebagai emaknya. Ya Tuhan, tunjukkan padanya kekuasaan-Mu.

    Babak 9
    Dalam sekejap, tiba-tiba angin topan berhembus dengan dahsyat. Petir menggelegar menyambar kapal si Lancang. Gelombang Sungai Kampar menghantam kapal si Lancang hingga hancur berkeping-keping. Semua orang di atas kapal itu berteriak kebingungan, sementara penduduk berlarian menjauhi sungai.
    Si Lancang : Emaaak…, si Lancang anakmu pulang. Maafkan aku, Maaak!
    Namun, malapetaka tak dapat dielakkan lagi. Si Lancang dan seluruh istri dan anak buahnya tenggelam bersama kapal megah itu.
    Babak 10
    Barang-barang yang ada di kapal si Lancang berhamburan dihempas badai.
    Kain sutra yang dibawa si Lancang dalam kapalnya melayang-layang. Kain itu lalu berlipat dan bertumpuk menjadi Negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri.
    Sebuah gong terlempar dan jatuh di dekat gubuk emak si Lancang di Rumbio, menjadi Sungai Ogong di Kampar Kanan.
    Sebuah tembikar pecah dan melayang menjadi Pasubilah yang letaknya berdekatan dengan Danau si Lancang.
    Di danau itulah tiang bendera kapal si Lancang tegak tersisa. Bila sekali waktu tiang bendera kapal si Lancang itu tiba-tiba muncul ke permukaan danau, maka pertanda akan terjadi banjir di Sungai Kampar. Banjir itulah air mata si Lancang yang menyesali perbuatannya karena durhaka kepada emaknya.
    Babak 11
    Sejak peritiwa itu, masyarakat Kampar meyakini bahwa meluapnya sungai Kampar bukan saja disebabkan oleh tingginya curah hujan di daerah ini, tetapi juga disebabkan oleh munculnya tiang kapal si Lancang di Danau Lancang

    BalasHapus
  14. Nama : Sylvia Chandra
    Kelas : XI P 6
    No. Absen : 43

    Batu Menangis

    Babak 1
    Alkisah, di sebuah desa terpencil di daerah Kalimantan Barat, Indonesia, hiduplah seorang janda tua dengan seorang putrinya yang cantik jelita bernama Darmi. Mereka tinggal di sebuah gubuk yang terletak di ujung desa. Sejak ayah Darmi meninggal, kehidupan mereka menjadi susah. Ayah Darmi tidak meninggalkan harta warisan sedikit pun. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, ibu Darmi bekerja di sawah atau ladang orang lain sebagai buruh upahan. Sementara putrinya, Darmi, seorang gadis yang manja. Apapun yang dimintanya harus dikabulkan. Selain manja, ia juga seorang gadis yang malas. Kerjanya hanya bersolek dan mengagumi kecantikannya di depan cermin. Setiap sore ia selalu hilir-mudik di kampungnya tanpa tujuan yang jelas, kecuali hanya untuk mempertontonkan kecantikannya. Ia sama sekali tidak mau membantu ibunya mencari nafkah. Setiap kali ibunya mengajaknya pergi ke sawah, ia selalu menolak.

    Ibu : “Nak! Ayo bantu Ibu bekerja di sawah.”

    Darmi : “Tidak, Bu! Aku tidak mau pergi ke sawah. Nanti kuku dan kulitku kotor
    terkena lumpu.”

    Ibu : “Apakah kamu tidak kasihan melihat Ibu, Nak?”

    Darmi : “Tidak! Ibu saja yang sudah tua bekerja di sawah, karena tidak mungkin lagi ada laki-laki yang tertarik pada wajah Ibu yang sudah keriput itu.”

    Babak 2
    Mendegar jawaban anaknya itu, sang Ibu tidak dapat berkata-kata lagi. Dengan perasaan sedih, ia pun berangkat ke sawah untuk bekerja. Sementara si Darmi tetap saja tinggal di gubuk, terus bersolek untuk mempecantik dirinya. Setelah ibunya pulang dari sawah, Darmi meminta uang upah yang diperoleh Ibunya untuk dibelikan alat-alat kecantikan.

    Darmi : “Bu! Mana uang upahnya itu!”

    Ibu : “Jangan, Nak! Uang ini untuk membeli kebutuhan hidup kita hari ini.”

    Darmi : “Tapi, Bu! Bedakku sudah habis. Saya harus beli yang baru.”

    Ibu : “Kamu memang anak tidak tahu diri! Tahunya menghabiskan uang, tapi tidak mau bekerja.”

    Babak 3
    Meskipun marah, sang Ibu tetap memberikan uang itu kepada Darmi. Keesokan harinya, ketika ibunya pulang dari bekerja, si Darmi meminta lagi uang upah yang diperoleh ibunya untuk membeli alat kecantikannya yang lain. Keadaan demikian terjadi hampir setiap hari. Pada suatu hari, ketika ibunya hendak ke pasar, Darmi berpesan agar dibelikan sebuah alat kecantikan. Tapi, ibunya tidak tahu alat kecantikan yang dia maksud. Kemudian ibunya mengajaknya ikut ke pasar.

    Ibu : “Kalau begitu, ayo temani Ibu ke pasar!”

    Darmi : “Aku tidak mau pergi ke pasar bersama Ibu!”

    Ibu : “Tapi, Ibu tidak tahu alat kecantikan yang kamu maksud itu, Nak!”

    Namun setelah didesak, Darmi pun bersedia menemani Ibunya ke pasar.

    Darmi : “Aku mau ikut Ibu ke pasar, tapi dengan syarat Ibu harus berjalan di belakangku,” kata Darmi kepada Ibunya.”

    Ibu : “Memang kenapa, Nak!”

    Darmi : “Aku malu kepada orang-orang kampung jika berjalan berdampingan dengan Ibu.”

    Ibu : “Kenapa harus malu, Nak? Bukankah aku ini Ibu kandungmu?”

    Darmi : “Ibu seharusnya berkaca. Lihat wajah Ibu yang sudah keriput dan pakaian ibu sangat kotor itu! Aku malu punya Ibu berantakan seperti itu!”

    BalasHapus
  15. Nama : Innes Irene Rarasingtyas
    Kelas : XI P 6
    Absen : 24

    Perang Bubat

    Perang Bubat adalah perang yang kemungkinan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada. Persitiwa ini melibatkan Mahapatih Gajah Mada dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 M. Sumber-sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya perang ini terutama adalah Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang berasal dari Bali.

    Rencana pernikahan
    Hayam Wuruk memutuskan untuk memperistri Dyah Pitaloka. Atas restu dari keluarga kerajaan, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamarnya. Upacara pernikahan dilangsungkan di Majapahit. Pihak dewan kerajaan Negeri Sunda sendiri sebenarnya keberatan, terutama Mangkubuminya yaitu Hyang Bunisora Suradipati. Ini karena menurut adat yang berlaku di Nusantara pada saat itu, tidak lazim pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki. Selain itu ada dugaan bahwa hal tersebut adalah jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, diantaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara.

    Linggabuana memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur dua negara tersebut. Berangkatlah Linggabuana bersama rombongan Sunda ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

    BalasHapus
  16. Kesalah-pahaman

    Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, maka timbul niat lain dari Mahapatih Gajah Mada yaitu untuk menguasai Kerajaan Sunda, sebab untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya tersebut, maka dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan hanya kerajaan sundalah yang belum dikuasai Majapahit. Dengan makksud tersebut dibuatlah alasan oleh Gajah Mada yang menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit, sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah ia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta. Ia mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana disebutkan bimbang atas permasalah tersebut, karena Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

    BalasHapus
  17. Babak 4
    Walaupun sedih, sang Ibu pun menuruti permintaan putrinya. Setelah itu, berangkatlah mereka ke pasar secara beriringan. Si Darmi berjalan di depan, sedangkan Ibunya mengikuti dari berlakang dengan membawa keranjang. Meskipun keduanya ibu dan anak, penampilan mereka kelihatan sangat berbeda. Seolah-olah mereka bukan keluarga yang sama. Sang Anak terlihat cantik dengan pakaian yang bagus, sedangkan sang Ibu kelihatan sangat tua dengan pakaian yang sangat kotor dan penuh tambalan. Di tengah perjalanan, Darmi bertemu dengan temannya yang tinggal di kampung lain.

    Teman Darmi 1: “Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?”

    Darmi : “Ke pasar!”

    Teman Darmi 1 : “Lalu, siapa orang di belakangmu itu? Apakah dia ibumu?”

    Darmi : “Tentu saja bukan ibuku! Dia adalah pembantuku.”

    Babak 6
    Laksana disambar petir orang tua itu mendengar ucapan putrinya. Tapi dia hanya terdiam sambil menahan rasa sedih. Setelah itu, keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju ke pasar. Tidak berapa lama berjalan, mereka bertemu lagi dengan seseorang.

    Teman Darmi 2 : “Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?”

    Darmi : “Hendak ke pasar.”

    Teman Darmi 2 : “Siapa yang di belakangmu itu?”

    Darmi : “Dia pembantuku.”

    Jawaban yang dilontarkan Darmi itu membuat hati ibunya semakin sedih. Tapi, sang Ibu masih kuat menahan rasa sedihnya. Begitulah yang terjadi terus-menerus selama dalam perjalanan menuju ke pasar. Akhirnya, sang Ibu berhenti, lalu duduk di pinggir jalan.

    Darmi : “Bu! Kenapa berhenti?”

    Beberapa kali Darmi bertanya, namun sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaannya. Sesaat kemudian, Darmi melihat mulut ibunya komat-komit sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas.

    Darmi : “Hei, Ibu sedang apa?”

    Sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaan anaknya. Ia tetap berdoa kepada Tuhan agar menghukum anaknya yang durhaka itu.

    Ibu : “Ya, Tuhan! Ampunilah hambamu yang lemah ini. Hamba sudah tidak sanggup lagi menghadapi sikap anak hamba yang durhaka ini. Berikanlah hukuman yang setimpal kepadanya!”

    Beberapa saat kemudian, tiba-tiba langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan suara guntur bergemuruh memekakkan telinga. Hujan deras pun turun. Pelan-pelan, kaki Darmi berubah menjadi batu. Darmi pun mulai panik.

    Darmi : “Ibu...! Ibu... ! Apa yang terjadi dengan kakiku, Bu? Maafkan Darmi! Maafkan Darmi, Bu! Darmi tidak akan mengulanginya lagi, Bu!”

    Namun, apa hendak dibuat, nasi sudah menjadi bubur. Hukuman itu tidak dapat lagi dihindari. Perlahan-lahan, seluruh tubuh Darmi berubah menjadi batu. Perubahan itu terjadi dari kaki, badan, hingga ke kepala. Gadis durhaka itu hanya bisa menangis dan menangis menyesali perbuatannya. Sebelum kepala anaknya berubah menjadi batu, sang Ibu masih melihat air menetes dari kedua mata anaknya. Semua orang yang lewat di tempat itu juga ikut menyaksikan peristiwa itu. Tidak berapa lama, cuaca pun kembali terang seperti sedia kala. Seluruh tubuh Darmi telah menjelma menjadi batu. Batu itu kemudian mereka letakkan di pinggir jalan bersandar ke tebing. Oleh masyarakat setempat, batu itu mereka beri nama Batu Menangis. Batu itu masih tetap dipelihara dengan baik, sehingga masih dapat kita saksikan hingga sekarang.

    BalasHapus
  18. Gugurnya rombongan Sunda

    Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada. Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.

    Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukannya (Bhayangkara) ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu. Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Linggabuana, para menteri dan pejabat kerajaan Sunda, serta putri Dyah Pitaloka.

    Hayam Wuruk menyesalkan tindakan ini dan mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali - yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahan antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka - untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati yang menjadi pejabat sementara raja Negeri Sunda, serta menyampaikan bahwa semua peristiwa ini akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana (di Bali dikenal sebagai Geguritan Sunda) agar diambil hikmahnya.

    Akibat peristiwa Bubat ini, dikatakan dalam catatan tersebut bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri tetap menjabat Mahapatih sampai wafatnya (1364). Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran, yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit).

    BalasHapus
  19. Innes Irene Rarasingtyas XI P6 /24

    Naskah Drama Komedi
    “PERANG BUBAT”
    1. PROLOG
    Sang surya telah keluar dari bilik persembunyiannya. Seperti biasanya awan putih dan biru bagaikan kapas lembut, menjadi paduannya untuk menghiasi angkasa supaya terlihat terang dan meninggalkan kegelapan. Si kecil sedang bersantai ria sambil bernyanyi dengan suaranya yang merdu seirama dengan lagu Michael Jacson yaitu ‘You Are Not Alone’. Bahkan ada juga yang menari kesana kemari untuk mencari santapan pagi bagi anak-anak mereka yang mengeluh kelaparan. Bukan hanya teman kecil ini saja, namun serangga lain turut mengikuti jejak langkah si kecil merdu ini. Tetes embun dingin dan segar telah membasahi hijauan dedaunan dan batang pohonnya, terlihat sangat segar, bahkan layaknya sesegar kita apabila kita telah mandi. Suasana pagi yang amat menyenangkan.
    Seseorang yang berwibawa, tegas, ramah, sedang duduk di singgasana yang sangat megah. Terlihat dari benda yang bertengger manis dan pas dikepalanya itu. Sebuah mahkota emas dua puluh empat karat yang diukir sebagus mungkin dan seindah mungkin sehingga menampilkan kesan mewah dan mahal. Didampingi oleh mahapatihnya yang mahasetia, mahaganteng, maharahim dan apa lagi yah? Mahabaik deh pokoknya.
    Terlihat sebuah meja berukuran sedang yang terdapat berbagai buah-buahan yang tidak dapat disebutkan satu per satu bahkan dalam hitungan detik. Dan buah yang dapat di hitung dalam hitungan satu detik tanpa koma adalah ‘RUJAK’. Benar, rujak makanan khas Indonesia yang lezat itu memasuki daftar menu meja itu, bukan hanya rujak saja, namum berbagai makanan lainnya juga memenuhi meja tersebut untuk disantap seperti pecel, nasi uduk, tumpeng, opor ayam dan lainnya.
    Yah… Beliau adalah Hayam Wuruk. Raja dari kerajaan terkenal dan terhebat pada masa itu, yaitu Kerajaan Majapahit. Hayam Wuruk tidak sendiri, namun ditemani oleh seorang mahapatihnya bernama Kuda Mada, eh… salah! Maksudnya adalah Gajah Mada. Baru kali ini kita mendengar bahwa ada seorang gajah yang menjadi mahapatih kerajaan. Sepertinya perbincangan mereka ini sangat menarik untuk diperdengarkan…
    Hayam Wuruk : Mahapatih… Mahapatih… Mahapatih… (Ucapnya berteriak sambil menatap kanan kiri menunggu mahapatih)
    Gajah Mada : Ada apa yang mulia? (Sambil membungkukkan badan berlari kearah Hayam Wuruk). Mohon maaf yang mulia, tidak perlulah berteriak seperti itu, soalnya malu atuh didengerin kucing tetangga kerajaan kita. (Dengan raut muka heran. Protes dengan tangan berselempangkan didada).

    BalasHapus
  20. Hayam Wuruk : Terserah saya dong patih, suka-suka saya dong. Mau teriak kek, apa kek, kan semua itu hak-hak saya, kok malah kamu yang rebut? (Hayam Wuruk mengerutkan keningnya tanda heran dan berjalan kesana kemari).
    Gajah Mada : Oke, maaf deh! Ampun seribu ampun. Ampun deh baginda. (Dengan raut muka bersalah dan memejamkan mata serta menunduk hormat kepada Hayam Wuruk). Ngomong-ngomong, yang mulia mau berbicara apa dengan saya? (Kembali bersikap tenang).
    Hayam Wuruk : Saya dengar kalau masih ada kerajaan yang belum tunduk kepada kita. (Mengerutkan alis dan berkacak pinggang dengan muka serius)
    Gajah Mada : Memangnya yang mulia tahu informasi itu dari mana? Saya kan belum sempat memberi tahu yang mulia! (Terkejut dengan alis terangkat).
    Hayam Wuruk : Kamu itu gaptek banget sih. Alias gagap teknologi. Sekarang kan sudah jaman modern. Semua serba ada. Saya tau mengenai berita itu dari internet yang saya buka dari laptop saya. (Menyombongkan diri dengan tangan menepuk dada dan bertepuk tangan).
    Gajah Mada : Dia itu Inu Kencana, Noordin M. Top, atau soal UAN yang bocor? (Geleng-geleng kepala memikirkan sesuatu).
    Hayam Wuruk : Marshanda makan lodeh. Pokoknya ada deh. (Tertawa pelan dan melambaikan tangan).
    Gajah Mada : Kalau begitu, saya percaya deh dengan semua perkataan Yang Mulia Hayam Wuruk. By the way, berita itu memang benar yang mulia. Ada kerajaan yang belum tunduk pada kita yaitu Kerajaan Sunda di West Java itulah. (Suara keras dan merentangkan tangan).
    Hayam Wuruk : Apa?? (Terkejut dan melototkan mata). Kerajaan Sunda?
    Gajah Mada : Benar begitu baginda (Gajah Mada tersenyum tipis).
    Hayam Wuruk : Ngomong-ngomong West java apa itu? (Bingung). Apa obat masuk angin?
    Gajah Mada : Bukan baginda yang mulia, tapi Jawa Barat. Raja gimana sih, mengakunya raja terhebat sepanjang masa ini, dasar raja gak pernah ikut kursus bahasa inggris nih! Padahalkan Bahasa Inggris itu kan penting sekarang (mengejek dengan tersenyum sinis kepada Hayam Wuruk).
    Hayam Wuruk : Kamu ini gimana sih patih, aku saja belum lulus dari kursus Bahasa Jawa dari sepuluh tahun yang lalu. Gimana mau mengambil Kurusus bahasa apa tuh tadi? (Geleng-geleng kepala sambil duduk di kursinya yang megah itu).

    BalasHapus
  21. Gajah Mada : Yasudah kalau begitu yang mulia, Yang Mulia Hayam Wuruk tidak perlu khawatir, karena saya akan menundukkan kerajaan itu sesuai dengan sumpah saya (Mengajukkan tangaan dengan percaya diri).
    Hayam Wuruk : Sumpah yang mana? (Bingung). Kamu kan hobi sumpah-sumpah.
    Gajah Mada : Ah yang mulia masa gak ngerti sih? (Menatap heran sang raja).
    Hayam Wuruk : Yang mana ya? (Berfikir). Yes… I ingat kok. Jangan membuang sumpah sembarangan kan? Ya kan? (Menunjuk dengan tersenyum puas).
    Gajah Mada : Junjungan hambaku ini guanteng, teng, teng, (geleng-geleng kepala sambil menundukkan kepala) tapi kok buolot sih? Itu mah sampah, bukan sumpah raja! (Ucapnya berapi-api).
    Hayam Wuruk : Maksud kamu? (Tidak mengerti dan berdiri)
    Gajah Mada : Sumpah Palapa, aku tidak akan amukti palapa sebelum dapat menyatukan nusantara dibawah kaki Majapahit. Dan yang kedua…
    Gajah Mada hanya tersenyum tipis sambil menaikturunkan alisnya yang tebal itu. Sedangkan Hayam Wuruk yang disenyuminya hanya mengerutkan keningnya, hanya menganggukkan sesekali kepalanya.
    Hayam Wuruk : Yang kedua apa? Pasti Maya Puspita Sari kan? Ketua Umum OSIS/PPSK SMA Xaverius 1 yang cantik dan pintar itu kan? (Menebak dengan tawa yang lebar)
    Gajah Mada : Ya ammppuuunnnn!!!!! (Sambil menjerit) Ini raja agak telmi yah? Alias telat mikir. Maksudnya itu fullus (uang dalam Bahasa Arab). Yang mulia ini bodoh atau pura-pura gak tahu sih? (Mencibir dengan muka kesal).
    Hayam Wuruk : Oke, dua-duanya deh. Buat kamu apa sih yang enggak. (Tersenyum). Lebih baik kamu sekarang berusaha untuk menundukkan kerajaan itu. Dan kalau berhasil kamu akan mendapatkan Maya, Luna Maya, bahkan Marshanda pun akan kuserahkan padamu! (Menyolek lengan mahapatih).
    Gajah Mada : Baiklah yang mulia. Saya akan mencoba lagi walaupun kemarin saya telah menundukkan dengan cara diplomatik tidak berhasil alias gagal maning, saya akan mencobanya untuk terakhir kali. (Membusungkan dada tertawa dengan percaya diri).

    BalasHapus
  22. Hayam Wuruk : (Terkejut melihat gigi mahapatihnya dan menutup hidungnya). Amboiiii….. gigi lo kuning banget sih? (Berteriak dan jijik). Sikat gigi berapa kali sehari sih? (Heran).
    Gajah Mada : Aduh ampun baginda, kalau masalah sikat gigi saya lupa berapa kali sehari. Tidak perlu ditanya deh! (Merasa malu). Baiklah yang mulia, Saya akan melakukan tugas tersebut demi kejayaan kerajaan kita, Kerajaan Majapahit terbaik sepanjang masa! (Bersemangat dengan tangan kanan diangkat).
    Hayam Wuruk : Ya sudah kalau begitu, segera laksanakan amanat saya! (Menyuruh Gajah Mada pergi).
    Gajah Mada : Kalau begitu yang mulia, sebelum saya pergi, saya akan melakukan persiapan terlebih dahulu (Beranjak pergi namun tertahan oleh Hayam Wuruk).
    Hayam Wuruk : Memangnya persiapan apa sih? Bukannya persenjataan kita sudah sampai dari Amerika? Kan semuanya sudah lengkap! (Penasaran).
    Gajah Mada : Yang mulia, bukan itu, tapi facial, manicure, pedicure, cukur, mendengkur, supaya siap tempyur! (Dengan gaya centil meninggalkan Hayam Wuruk).
    Hayam Wuruk : Mau perang saja seperti mau ikutan lomba cover boy (Melambaikan tangan dan menyengrit heran kearah Gajah Mada).
    Gajah Mada : Ikan hiu melambai-lambai, See you bye-bye (Pergi)
    Pertemuan antara mahapatih dan rajanya pun berakhir. Sementara mahapatih melakukanpersiapannya seperti facial, manicure, pedicure, cukur, mendengkur, sang raja hanua sibuk membuka situs internet dilaptopnya untuk mendengarkan musik, yaitu lagu ‘Tak Gendong Kemana-mana’ Mbah Surip dan mengotak-atik google untuk mencari tahu mengenai Kerajaan Sunda, kerajaan yang akan ditakhlukannya. Namun, tiba-tiba ekspresi muka raja itu berubah karena melihat sesuatu yang ada dilaptopnya itu. Lalu ia tersenyum tipis (Namun perlu dikonfirmasikan bahwa Hayam Wuruk tidak melihat situs yana aneh-aneh). Kira-kira apakah yang sedang di lihatnya?

    BalasHapus
  23. Hayam Wuruk : Numpung sedang tidak ada patih yang koplo itu, lebih baik aku buka internet ah… (Membuka laptop dan mengetik sesuatu). Aku akan mencari situs kerajaan sundel bolong ini… (Terkejut dan tersenyum). Wow, kok ada gadis cantik disini. Siapa ya? (Mengutak-atik tombol). DI, di, YA h, yah. Diyah. PI pi, TA ta, LO lo, KA ka. Jadi Diyah Pitaloka. Wah… namanya bagus sekali. Anak siapa ya? (mengerutkan keningnya). Ku coba untuk cari biodatanya ah… (mengetik kembali). Tempat tanggal lahirnya, Sunda, tanggalnya gak jelas. Hobinya makan kemplang, semur jengkol, dan sambal calok (sambal terasi). (Menggeleng-gelengkan kepalanya). Wah… Cantik-cantik kok selera makannya ndeso begini. Hahaha (tertawa). Cowok idolanya raja ganteng, kuat nyalinya dan panajang akalnya juga bisa menyanyi seperi Raja Hayam Wuruk. (Terkejut dan mata melotot).
    Hayam Wuruk : Yaampun ternyata ia menyukai aku. Bagus kalau begitu. Tapi kayaknya dia memiliki syarat terakhir yang agak susah aku pecahkan nih (manggut-manggut dengan mengelus-elus dagunya). Biarkan aku pergi… Untuk cari istri… (Bernyanyi).
    ***

    BalasHapus
  24. Babak kedua :
    Setelah kejadian tersebut, Hayam Wuruk mengirimkan sebuah SMS kepada mahapatihnya yaitu Gajah Mada yang sedang pergi Kerajaan Sunda ditemani oleh para pengawalnya dari Majapahit. Dia datang tentunya untuk menakhlukan kerajaan tersebut, karena itu sudah menjadi tugas Gajah Mada. Kalau tidak dilaksanakan oleh Gajah Mada ia jelas bisa rugi besar, soalnya Gajah Mada sudah diberi sogokan berupa fullus. Ditengah perjalanan tepatnya di Daerah Garut, Gajah Mada dan rekannya membeli oleh-oleh berupa dodol garut untuk diberikannya kepada Sri Baduga Maharaja, Raja Kerajaan Sunda.
    Sri Baduga Maharaja sedang duduk di singgasananya yang tak kalah megah dengan singgasana Hayam Wuruk di Majapahit. Kemudian ia menoleh ke sekitar ruangannya.
    Sri Baduga : Dyah … Dyah Pitaloka anakku… (Memanggil Dyah dengan lembut. Namun tidak ada jawaban dari anaknya).
    Sri Baduga : Dyah Pitaloka sayang…
    Dyah Pitaloka : Naon papa? Kumaha atuh? (Ada apa papa?). (Berjalan mendekati ayahnya dengan tersenyum cantik).
    Sri Baduga : Papa perhatiin kamu daritadi kamu ini kok melamun terus sih! Kumaha sayang? Damang? (Ada apa sayang? Baik?).
    Dyah Pitaloka : Teh naon-naon pa (tidak ada apa-apa pa). (Sambil menggelengkan kepalanya).
    Sri Baduga : Kucing kurus kecebur di kolam. Kolam pancing banyak batu. Anak gadis kalau banyak diam. Pastilah dia memikirkan sesuatu. (Mengusapkan kepala Dyah).
    Dyah Pitaloka : Jalan-jalan ke pondok gede, tidak lupa membawa acar. Aku ini sudah gede, ngapo papa dak carikan aku pacar? (Merengut dan ngambek muka ditekuk).
    Sri Baduga : Hahahaha… (Tertawa). Kau ini rupanya sudah pingin pacar toh?
    Dyah Pitaloka : Iya dong pa, aku kan sudah sweet seventeen (muka ditekuk).
    Sri Baduga : Kamu ini persis sekali dengan mamamu neng jelis, kalau meminta seseuatu pasti cemberut. Namun, walaupun begitu, kamu tetan cantik neng jelis. (Merangkul Dyah dan tersenyum). Sudah kalau begitu kamu pilih siapa? David, Rio, Yofan, atau Joko? (Menaikkan kedua tangannya).
    Dyah Pitaloka : Pa… (Bergelanyut manja).
    Sri Baduga : Apa sayang? (tersenyum).
    Dyah Pitaloka : Semalam aku mimpi, ketemu dengan ayam jago, dia itu gagah perkasa dan ayam itu selalu mengikutiku pa… (merengek dengan manja).
    Sri Baduga : Jam berpa kau mimpi? (Membelakkan matanya)
    Dyah Pitaloka : Sekitar jam empat pagi
    Sri Baduga : Menurut para dukun, kalau mimpi jam empat pagi itu pertanda baik (mengangguk-anggukkan kepala dan tersenyum menggoda).
    Dyah Pitaloka : Maksud papa? (Mengerutkan kening).
    Sri Baduga : Ya, mimpimu akan menjadi kenyataan.
    Dyah Pitaloka : Jadi aku akan pacaran sama ayam, pa? Ih… Ogah deh! (terkejut dan merinding).
    Sri Baduga :Yah, gak tahulah. Kita lihat saja nanti sayang.

    BalasHapus
  25. Tiba-tiba ditengah percakapan antara Sri Baduga Maharaja dan putrinya Dyah Pitaloka, pengawal kerajaan mereka mengatakan bahwa mereka, khususnya Kerajaan Sunda terlah kedatangan tamu dari Keraajaan besar lain yaitu Kerajaan Majapahit. Kedatangan itu membuat Sri Baduga Maharaja dan Dyah Pitaloka kagum, takjub, sekaligus senang dan heran. Karena ini bukan biasanya dan tanpa perjanjian terlebih dahulu. Diliputi rasa penasaran dan heran, Sri Baduga Maharaja pun mempersilahkan tamunya untuk bertemu dengannya. Dan Dyah Pitaloka sendiri hanya bisa mengedipkan mata.
    Gajah Mada : Assalamwuaallaaiikuumm, permisi, excuse me, kulua nuon… (Berteriak histeris dan tertawa).
    Sri Baduga : Ya, sepatu… Siapa tu? (Terheran-heran sambil melirik putrinya).
    Gajah Mada : Perkenalkan, nama saya adalah Gajah Duduk (kemudian ia tersenyum. Setelah itu Sri Baduga beserta Dyah Pitaloka hanya menatapnya).
    Sri Baduga : Jadi kamu ini penjual sarung ya? (Masih merasa heran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya).
    Gajah Mada : Tentunya bukan. Saya adalah Gajah Mada, patih dari Kerajaan Majapahit yang tempo hari datang kesini (mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat Sri Baduga).
    Sri Baduga : Oh iya (tersenyum akan teringat sesuatu, lalu menjabat tangan Gajah Mada). Aku lupa, sekarang Gajah Mada tambah ganteng saja. Kalau begitu, mari atuh masuh, and sit down please (mempersilahkan Gajah Mada masuk keruangannya dan duduk bersama)
    Gajah Mada : Oh, oke. Gak masalah. Beli genteng di Kota Banuayu alias thanks you (sambil melirik-lirik sekitar ruangan dan melirik Dyah Pitaloka yang ternyata putri kerajaan yang cantik).
    Sri Baduga : Patih Majapahit ini pasti lulusan SMA Xaverius 1 ya?
    Gajah Mada : Memangnya kenapa? (Menyengrit heran).
    Sri Baduga : Bisa Bahasa Inggris dan pintar membuat pantun (lagi-lagi ia tersenyum).
    Gajah Mada : Pastinya, aku kan diajari oleh Mr. Novian dan Pak Kasdi, (Gajah Mada melihat sekeliling ruangan itu kembali)

    BalasHapus
  26. Terlihat mewah sekali kerajaan ini. Atap yang besar, dan hampir semua perabotan kerajaannya ini terbuat dari kayu jati asli. Keraton ini juga lumayan besar dengan halaman yang begitu luas, bahkan dapat untuk kesebelasan petandingan sepak bola dalam negeri, dan pentas seni. Super canggih memang, apalagi dengan desain ruangtamunya yang classic, bahkan tiap pintu dipasangi alaram juga ada laptop yang yang selalu on karena Kerajaan Sunda ini ternyata berlangganan internet. Belum lagi letaknya yang strategis dilihat dari letak geografisnya yaitu dekat Batavia dan Selat Sunda. Pokoknya top sekali. Namun yang menjadi sikap positif Gajah Mada, di Majapahit atau tempat mengabdinya ia pada Hayam Wuruk, tidak kalah megah dengan Kerajaan Sunda ini. Namun ia cukup senang kembali ke Kerajaan Sunda ini karena ia dijamu oleh banyak pelayan dari Kerjaan Sunda. Dengan berbagai makanan enak dan minuman segar pastinya.
    Gajah Mada : Tuan raja, pisangnya uenak tenan deh. Di Majapahit pisang sekecil ini sudah enggak ada (sambil menikmati dengan enak pisang itu).
    Sri Baduga : Kenapa ya?
    Gajah Mada : Alasannya, kepasar membeli tahu, aku tidak tahu (menggelengkan kepala dengan cueknya menikmati pisang itu). Maksud saya kemari untuk… (bersikap was-was).
    Sri Baduga : (Berdiri). Minta saya supaya untuk tunduk kepada Majapahit? Oh, No way, sekali saya berkata tidak tetap selamanya tidak!!!! (berapi-api dan hendak mengusir Gajah Mada keluar).
    Gajah Mada : Jangan naik darah dulu gitu raja, sabar-sabar… Saya kesini ingin menyampaikan puisi karya saya Raja Hayam Wuruk (Mengelus dada).
    Sri Baduga : Bagaimana itu bunyinya? Cepat bacakan! (berteriak, masih tidak terima dengan perkataan Gajah Mada).
    Gajah Mada : (Berdiri dengan tegas sambil memegang sebuah kertas). Pagi-pagi ayam jago berkokok, bagunkan putri nan ayu, sudah sebulan aku gak bisa jongkok, resah mencari permaisuri nan ayu (sambil tersenyum menatap Dyah Pitaloka).
    Sri Baduga : Tepuk tangan dong! (Menyuruh pengawalnya dan pelayan-pelayannya untuk bertepuk tangan). PLOK… PLOK… PLOK…
    Gajah Mada : Gadis kecil membeli boneka, sudah besar pandai menari, bolehkah hamba meminang Dyah Pitaloka, kan kujadikan permaisuri! (tersenyum kembali).
    Sri Baduga : Jadi Raja Hayam Wuruk yang kekuasaannya dari Jambi sampai Bali itu akan meminang putriku? (takjub dan tidak percaya dan Dyah Pitaloka pun tersenyum tersipu-sipu).

    BalasHapus
  27. Gajah Mada : Ya paduka, kalau tidak pecaya ini ada sms dari rajaku dan ini ada oleh-oleh dodol garut asli (menyerahkan dodol garut tersebut dan menunjukkan blackberry handphonenya ke Sri Baduga Maharaja).
    Gajah Mada memberikan kotak bingkisan dan Sri Baduga pun menerimanya dengan senang.
    Sri Baduga : Hmm… anda membawa apa lagi? (mengelus dagunya).
    Gajah Mada : Saya membawa pensil sekotak (memberikan kotak itu).
    Sri Baduga : Anakku sudah lulus UAN. Buat apa pensil itu? (menunjuk kotak itu).
    Gajah Muda : (Tertawa) Ya, untuk menulis undangan! Jangan lupa guru-guru SMA Xaverius 1 diundang ya?
    Sri Baduga : (Mengangguk-angguk) lha itu celana jeans untuk apa? (menunjuk celana Jeans disamping sekotak pensil itu ).
    Gajah Mada : Itu celana legendaries raja kami. Dengan celana inilah Hayam Wuruk awet muda (menaik-naikkan alisnya). Kalau tuan mau ambil saja (tersenyum).
    Sri Baduga : Cuaaauuaaappppeeee Ddddeeehhh!!! (menepuk keningnya). Dyah Pitaloka… (Berteriak).
    Dyah Pitaloka : Apa pa? (menghampiri ke Sri Baduga).
    Sri Baduga : Kau sudah mendengar sendiri kalau kamu akan menjadi seorang permaisuri Majapahit. Terima atau tidak. Kalau tidak rugi dong, soalnya papa akan punya menantu raja besar dan cucuku nanti akan menjadi raja besar juga (berdiri dengan semangat dan merentangkan tangan).
    Dyah Pitaloka : Aku belum pernah melihat orangnya, pa! mana fotonya? (Mengulurkan tangannya).
    Gajah Mada : Ini (menyerahkan sebuah foto dan melihatnya dengan seksama).
    Dyah Pitaloka : Hmm ganteng sekali (tersenyum sendiri dan bahagia). Mau deh, Pa. ayo kita berangkat pa… (beranjak pergi).
    Sri Baduga : Hey nanti dulu (menahan putrinya). Mentang-mentang sudah cocok, nyosor melulu! (menyengrit kepada Dyah).
    Sri Baduga : Gajah, eh sorri… Patih Gajah Mada, kalau memang itu kehendak Hayam Wuruk, aku sih oke-oke saja. Yang penting anakku menjadi permaisuri, bukannya menjadi cleaning service ( menepuk pundak Dyah).
    Gajah Mada : Saya tahu paduka. Kapan berangkat? (mengangkat tangan).
    Sri Baduga : Yah, setelah satu bulan lagya, soalnya menunggu anakku lulus UAN.
    Gajah Mada : Baiklah (beranjak berdiri), kalau begitu saya mohon pamit. Hanya pesan saya kalau mengantar pengantin jangan membawa prajurit banyak. Namun cukup satu saja. (menunjukkan telunjuknya dengan sinis).
    Sri Baduga : Mengapa? (membelakkan mata).
    Gajah Mada : Kalau pengantin bawa prajurit banyak kok seperti mau perang? Kita kan sudah damai (tersenyum sambil mengacungkan jarinya berbentuk V).
    Sri Baduga : Oke, kalau begitu aku setelah enam ( mengangguk).
    Gajah Mada : Maksudnya?
    Sri Baduga : Setujuh begok! (mengibaskan tangan).
    Gajah Mada : Baiklah tuan, kalau begitu assalamwualaikum dan good bye.. see you again okay? (pergi meninggalkan Sri Baduga dan Dyah Pitaloka).
    Sri Baduga : Tha… (melambaikan tangannya).

    BalasHapus
  28. Babak ketiga :
    Akhirnya lamaran Hayam Wuruk diterima oleh Sri Baduga Maharaja. Spanduk, iklan dipasang dimana-mana. Mulai dari Jalan Tol Jogorawi sampai Porong, Jawa Timur. Kala itu PT Lapindo belum berdiri dan masih berupa sumur kecil untuk mandi penduduk sekitar. Penyelenggaraan pesta pun telah dipersiapkan, mulai dari tanggal, baju pengantin, akad nikah, resepsi, makan yang akan disugujkan untuk para tamu, dan segalanya. Tinggal tunggu tanggal mainnya saja.
    Setelah menimbang, memutuskan, merasakan, mendengkur dan akhirnya menyelenggarakan, menurut UUK (Undang-Undang Kerajaan) yang telah diputuskan oleh kedua belah pihak, maka berangkatlah Sri Baduga Maharaja bersama putrinya Dyah Pitaloka, para pembesar, pengirirng kerajaan, dan menuju Majapahit.
    Sri Baduga : Sekarang kita telah berada di Desa Bubat (melihat sekitar).
    Dyah Pitaloka : Papa, aku sudah kepingin banget buat ketemu sama calon suamiku disana ( mengelus-elus tangan dan tersenyum).
    Sri Baduga : Sabar nak ( menepuk pelan pundak Dyah). Kalau jodoh juga pasti ketemu.
    Dyah Pitaloka : Bulan madunya dimana pa?
    Sri Baduga :Bali saja. Disana kan asyiik dan kamu bisa ketemu dengan orang bule. (merangkul Dyah Pitaloka).
    Terlihat rombongan Mahapatih Gajah Mada yang sedang menuju kearah mereka…
    Dyah Pitaloka : Pap, itu siapa sih? (menunjuk kerah Gajah Mada). Mahapatihnya Hayam Wuruk ya? (terkekeh dan tersenyum kecil).
    Sri Baduga : iya kayaknya (mengaanggukan kepalanya).
    Dyah Pitaloka : Waaawww!! Gila, cakep banget uy! (tergagap melihat Gajah Mada yang sedang berose).
    Sri Baduga : Udah, gak usah bawel (mengibaskan tangannya). Hayam Wuruk juga ganteng kok. Gak kalah deh sama papa kegantengannya itu. Papimu ini kan lebih ganteng dari calon suamimu itu! (menepuk pelan dadanya). Maklum, Coverboy 2008.
    Dyah Pitaloka : Tapi… (menggaruk kepalanya).
    Sri Baduga : Yaudahlah, gak usah pusing gitu.

    BalasHapus
  29. Dyah Pitaloka tersenyum penuh arti. Menandakan bahwa yang dibilang oleh papanya itu sangat benar. Bijak dan diplomatis. Gajah Mada, Mahapatih Majapahit yang super keren itu medekati Sri Baduga Maharaja dan Dyah Pitaloka. Hayam Wuruk sesekali tersenyum melihat putrid nan ayu yang cantik jelita itu bak bidadari yang turun dari atas lemari.
    Gajah Mada : What’s up man? How are you? (bertos ria dengan Sri Baduga).
    Sri Baduga : Fine, baek-baek.
    Gajah Mada : How are you, Pit? (mengulurkan tangan kanannya kearah Dyah Pitaloka).
    Dyah Pitaloka : I’m fine, thank you (tersenyum lebar).
    Sri Baduga : Mana menantu saya? (melihat sekeliling mencari Hayam Wuruk).
    Gajah Mada : Well, yang mulia, begini (was-was).
    Sri Baduga : Well? Apaan tuh? Kain pel? Dikerajaan kami banyak tuh kain pel. Ada sepuluh. (Mengacungkan kesepuluh jarinya).
    Gajah Mada : Ye… telat mikir ya raja. Itu Bahasa Prancis tau! (mengibaskan tangan). Begini yang mulia, Putri Dyah Pitaloka tetap akan menikah dengan raja kami, Hayam Wuruk.
    Sri Baduga : Lha iya dong. Kan sudah kubilang kemarin. Dyah Pitaloka akan menjadi permaisuri Majapahit. (tertawa).
    Gajah Mada : Posisi Dyah Pitaloka bukan sebagai permaisuri yang mulia, melainkan putri persembahan.
    Sri Baduga menjadi marah, ia gusar karena anaknya dinikahkan dengan Hayam Wuruk sebagai persembahan semata-mata untuk menundukkan Kerajaan Sunda. Kerajaan yang dipimpinnya.
    Sri Baduga : Itu artinya Raja Sunda telah mengaku kalah terhadap Majapahit? (marah).
    Gajah Mada : Ya kayaknya begitu (santai).
    Sri Baduga : Jadi kau ini ingkar janji (menunjuk Gajah Mada dengan telunjuknya).
    Gajah Mada : Mau gimana lagi? Nasi sudah dicampur sayur, sudah jadi bubur (mengangkat kedua tangannya).
    Sri Baduga : Tidak, aku tidak terima (marah dengan berteriak).
    Gajah Mada : Terserah yang jelas kau sekarang berada di Bubat, wilayah Majapahit. Jadi kau harus tunduk pada Majapahit (mengacungkan telunjuk kearah bawah).
    Prajurit Sunda : Gila atuh, masa neng putri harus dijadikan persembahan? Kumaha atuh kang iyek? Tidak terima kita mah! Nooo Waaayyy! (berteriak histeris).
    Prajurit Majapahit : Wah, perang dunia ketiga sudah akan dimulai (geleng-geleng kepala).
    Sri Baduga : SAYA TIDAK AKAN TERIMA, PRAJURIT… MMMAAAAJJJUUUU!!!!

    BalasHapus
  30. Babak keempt :

    Prajurit Sunda akhirnya bertempur dengan Prajurit Majapahit. Kemudian, pertanrungan itu sangat tidak terelakkan lagi. Keduanya telah bertumpah darah membentuk pro masing-masing. Setelah mengalami pertempuran yang panjang, Prajurit Sunda pun kalah. Dan Gajah Mada beserta Sri Baduga Maharaja pun turun kemedan perang. Tanpa disadari, Sri Baduga Maharaja pun mati.
    Dyah Pitaloka : Paaaaapppppaaaaaa!!! (berteriak histeris dan menangis). Gajah Mada kau ini kejam dan licik sekali. Kau ganteng, tapi hatimu licik sekali. Daripada aku menjadi putri persembahan, lebih baik aku mati saja! Kau punya tali gak? (mengulurakan tangannya ke Gajah Mada).
    Gajah Mada : Oh ada, nih! (menyerahkan talinya).
    Dyah Pitaloka mencoba bunuh diri… Namun tidak berhasil.
    Dyah Pitaloka : Aduh, kok gak mati-mati sih? (kesal dan membuang talinya). Gajah, ada alat lain gak?
    Gajah Mada : Aduh, tempe tahu beli di Tegal, kapan sih kamu meninggal? Kok lama banget? (melipatkan tangannya). Nih ada pisau! (menyerahkan sebuah pisaunya).
    Dyah Pitaloka : Bye semuanya, sampai ketemu di surga (melambaikan tangannya).
    Gajah Mada : Titi Dj ya! Alias, hati-hati di jalan!
    Kemudian, Dyah Pitaloka menancapkan pisau itu ke perutnya dan seketika ia tewas.
    Hayam Wuruk : Oh… (berlari kearah Dyah Pitaloka). Dyah sayang, kenapa kau mati secepat ini sayang? (menangis).
    Dyah Pitaloka : (Bangun lagi) Selamat tinggal Hayam Wuruk, aku sayang kamu! (kembali tidur).

    BalasHapus
  31. 2. Epilog

    Sepeninggal semuanya, Hayam Wuruk merasa begitu sedih. Karena ia telah kehilangan cinta pertamanya, Dyah Pitaloka. Apalagi, ia tidak jadi menikah dengan Dyah Pitaloka. Pupus sudah harapannya untuk memiliki istri dan sebuah keluarga dalam istananya. Bahkan harapan terbesarnya adalah untuk memiliki seorang keturunan atau anak. Karena keturunannyalah nanti yang akan meneruskan kejayaan Majapahit ini.
    Sebaliknya, dengan matinya Sri Baduga Maharaja dan Dyah Pitaloka, justru membuat Gajah Mada senang. Karena, Kerajaan Sunda telah berhasil dikuasainya berkat rencananya menjadikan Dyah Pitaloka putri persembahan bagi Majapahit. Peristiwa ini tejadi di Desa Bubat, sebelah utara Kerajaan Majapahit yang menimbulkan peperangan tragis. Sehingga dinamakan ‘Perang Bubat’.
    TAMAT

    BalasHapus
  32. Nama : Florensia Sukirman Salim
    Kelas : XI P6
    No. absen : 18

    Lutung Kasarung

    Pada jaman dahulu kala di tatar pasundan ada sebuah kerajaan yang pimpin oleh seorang raja yang bijaksana, beliau dikenal sebagai Prabu Tapak Agung.
    Prabu Tapa Agung mempunyai dua orang putri cantik yaitu Purbararang dan adiknya Purbasari.
    Pada saat mendekati akhir hayatnya Prabu Tapak Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. “Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta,” kata Prabu Tapa.
    Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. “Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya,” gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. “Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !” ujar Purbararang.
    Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, “Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri”. “Terima kasih paman”, ujar Purbasari.
    Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga –bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.
    Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.

    BalasHapus
  33. Nama : Florensia Sukirman Salim
    Kelas : XI P6
    No. absen : 18

    Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. “Apa manfaatnya bagiku ?”, pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.
    Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. “Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !”, kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.
    “Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku”, kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, “Jadi monyet itu tunanganmu ?”.
    Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.
    Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.
    Sumber : http://legendakita.wordpress.com/2008/08/22/lutung-kasarung/

    BalasHapus
  34. Nama : Florensia Sukirman Salim
    Kelas : XI P6
    No. absen : 18
    Babak 1
    Di sebuah Kerajaan di Sumatra Barat, terdapat seorang Raja yang bijaksana, perhatian, baik, pandai, ulet, kerja keras, dan lain sebagainya yang bernama Prabu Tapak Agung. Beliau memiliki dua orang puteri Nan cantik dan Imut bernama Purbabarang yang biasa dipanggil “Barang” dan Purbasari yang biasa dipanggil “Sari”.
    1. Raja Prabu : “Putri-putriku yang manis, ayahmu yang tampan ini ingin melihat kalian.”
    2. Sari : “Baik ayahanda.” (menunduk memberi salam kepada ayahnya)
    3. Raja Prabu : “Di mana kakakmu, Sari?”
    4. Barang : (masuk ke istana Raja dengan berpakaian ala modern) “ahoi, ayahanda, ada apa dikau mencari hamba?”
    5. Sari :”Kakak, sopanlah sedikit kepada ayah!”
    6. Barang : “Apa-apaan kamu? Mau melawan saya!” (mengeluarkan sarung tinju dari tas)
    7. Raja Prabu : “Hentikan kalian berdua! Huff… ayahmu ini sudah tua… sekarang ayahanda memanggil kalian karena suatu alasan. Sebenarnya, ayah… ingin mencari istri baru dan berwisata mancanegara”
    8. Sari dan Barang : “APA!”
    9. Raja Prabu : “ya begitulah sebenarnya alasan ayahanda memanggil kalian berdua. Karena itu ayah ingin menitipkan takhta kerajaan kepadaMu” (menunjuk Sari)
    10. Barang : “Whad?? Oh please deh! Masa takhta kerajaan di kasih ke kerdil ini?(menunjuk Sari), By the way ayahanda, Saya kan putri sulung, seharusnya kan saya yang lebih pantas jadi Ratu, githu lowww!”
    11. Raja Prabu : “Ya pokoknya ayah maunya Sari yang jadi Ratu (berwatak cengeng) Papa tidak mau tahu, yang penting apa yang telah papa kataka sudah menjadi perintah.”
    Perkataan Raja Prabu membuat Barang marah, sehingga Barang memutuskan untuk pergi dari Kerajaan

    BalasHapus
  35. Nama : Florensia Sukirman Salim
    Kelas : XI P6
    No. absen : 18

    Babak 2
    Akhirnya Barang pergi ke sebuah Gunung. Di sana ia menemui seorang nenek Lampir.
    12. Nenek lampir : “Ada apa nak engkau datang ke tempatku? Hihihihi…”
    13. Barang : “Nenek, saya ingin nenek mengutuk Purbasari saudara saya agar ia menjadi orang terjelek yang paling jelek dari yang terjelek sedunia.”
    14. Nenek Lampir : “Baiklah nak, tapi mana bayaran nenek?”
    15. Barang : “haaa! Baiklah, ni seribu rupiah buad nenek.” (mengeluarkan dari kantong)
    16. Nenek lampir : “eleee, kepiye toh, seribu ma tidak cukup kali buad jampi-jampi. Siniin semua duit lo!”
    17. Barang : waah nenek, gaul juga ya. Nenek, saya mohon jampi-jampiin Sari ya.” (Pergi meninggalkan gunung)
    18. Nenek Lampir : (memulai ritual) “ohm bala bala chiki-chiki bum-bum, Sari nan bullet chiki-chiki bum-bum, jadilah terjelek dan amit-amit bum-bum” (menari dengan tarian yang aneh)

    Babak 3
    Kemudian Barang kembali ke istana, di sana ia melihat ayahanda yang siap berlayar mancanegara dengan pakaian casualnya. Di sampingnya terdapat Sari yang mendampingi ayahnya dengan penuh perhatian.
    Esok harinya.
    17. Sari : “Tidaaakkkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!!!”
    18. Barang : “Kenapa Sari?! (syok melihat keadaan Sari) haaaaaa!”
    19. Sari : “Kak, kulitku menjadi sangat bersisik dan mukaku menjadi seekor ikan buntel, kak!”
    20. Barang : (Berbicara di dalam hati) “Ini kesempatanku untuk mengusir Sari.”
    (Pengawal istana masuk ke dalam kamar Sari)
    21. Pengawal : “Yang mulia Sari, kenapa bisa begini? Apa yang terjadi?”
    22. Barang : “Orang yang dikutuk seperti Sari tidak boleh menginjakkan kaki di istana ini. Pengawal, usir dia!”
    Para pengawal kemudian mengasingkan Ratu Sari ke sebuah Hutan.

    BalasHapus
  36. Nama : Florensia Sukirman Salim
    Kelas : XI P6
    No. absen : 18
    Babak 4
    Karena tubuh Sari yang begitu jelek dan menjijikan, sehingga semua pengawal meninggalkannya begitu saja di hutan belantara. Sari sangat sedih karena tidak ada seorang pun manusia dan binatang-binatang yang ingin menemaninya. Ia selalu merasa terkucilkan setiap harinya. Suatu hari, seekor monyet datang menghampiri Sari yang sangat kelaparan.
    23. Sari : “Terima kasih monyet, karena hanya engkaulah satu-satunya temanku di hutan ini.” (Menitikkan air mata dan FREEZE)
    24. Narator : “Hati sang monyet bergetar (Bergoyang-goyang ala matriks dan membaca dengan nada hiperbola) sang monyet tidak rela meninggalkan putri yang buruk rupa tersebut. Tersadarlah hati Sang monyet untuk menolong putrid nan pendek, bulad, jelek, bersisik, dan bermuka ikan tersebut. (Sari dan monyet keluar dari panggung, Barang dan pengawal lainnya masuk ke panggung) Kemudian di istana, suasana telah berubah.
    25. Barang : (berpesta ria dengan berdansa R&B) “hey kalian, mari kita berdansa ria! Hahahahaha….”
    26. Pengawal : “it’s fun. We like it man.”
    27. Barang : “hmmm.. aku mulai khawatir dengan keadaan Sari, aku ingin sekali melihat keadaan dia.”

    Babak 5
    Setiap hari di istana selalu mengadakan pesta-pesta modern, sehingga keadaan istana menjadi kacau. Di waktu yang sama, Sari selalu ditemani sang monyed, ia merasa sangat bahagia bila berada di sisi sang monyet.
    28. Sari : “Monyet, terima kasih karena engkau bersedia menemaniku hingga hari ini.”
    29. Monyet : “Nguk.nguk.nguk.nguk….” (menunjuk kearah danau)
    30. Sari : “kenapa nyed-nyed? Ada sesuatu yang anehkah di danau tersebut?” (pergi menuju ke danau)
    31. Monyed : (menceburkan Sari ke danau) “Nguikkkkk…”
    32. Sari : “kamu nakal sekali yah, menceburkan aku ke danau!” (jengkel dan akhirnya menarik monyet tersebut ke danau)
    33. Monyet : “nguk..nguk..nguk..” (perlahan-lahan wujud Sari berubah menjadi cantik dan Sang monyet berubah menjadi manusia)
    34. Sari : “huaaaaa! Siapa kamu???”
    Kemudian Barang berkunjung ke hutan dan melihat Sari yang telah berubah menjadi sangad cantik bersama seorang pria tampan di sebelahnya.
    35. Monyet : “kenalkan putri Sari, nama saya Lutung, LutungKasarung.”
    36. Barang : (memotong pembicaraan) “Apa-apaan ini? Aku hendak mengunjungimu Sari. Tapi yang kulihat. Kalian berdua sedang mandi bersama! (Kaget, dan mendadak sakit jantung kemudian meninggal)
    37. Sari : (mencekik kakaknya yang jatuh) “kakak, kakak salah paham! Huaaaaa…..”
    38. Pengawal : (semua pemain dalam posisi FREEZE kecuali pengawal) “Ya karena puteri Prabubarang telah meninggal maka dari itu sekarang takhta kerjaan berpindah alih ke puteri Prabusari.”
    39. Sari : “heeee???”
    40. Monyet : “Puteri terimalah takhta kerajaanmu dan perbaikilah seisi istana agar menjadi lebih baik.”
    41. Sari : “Terima kasih, Lutung.”

    Babak 6
    Setelah kematian kakaknya, Istana R&B berubah ,menjadi sebuah istana yang makmur dan damai. Putri Purbasari memimpin Kerajaan bersama dengan Lutung Kasarung, pria idamannya yang telah dibayangkan sejak kecil. Dan setelh itu mereka berdua hidup bahagia. Sedangkan Raja Prabu berhasil mendapatkan istri baru dan melanjutkan Wisata mancanegara mereka ke Puau Hawai untuk berbulan madu.

    BalasHapus
  37. Nama : Syelvi Alexander
    Kelas : XI IPA 6
    Nomor absent : 42

    Timun Mas

    Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang janda yang bernama Mbok Sirni, ia menginginkan seorang anak agar dapat membantunya bekerja. Suatu hari ia didatangi oleh raksasa yang ingin memberi seorang anak dengan syarat apabila anak itu berusia enam tahun harus diserahkan keraksasa itu untuk disantap.
    Mbok Sirnipun setuju. Raksasa memberinya biji mentimun agar ditanam dan dirawat setelah dua minggu diantara buah ketimun yang ditanamnya ada satu yang paling besar dan berkilau seperti emas. Kemudian Mbok Sirni membelah buah itu dengan hati-hati. Ternyata isinya seorang bayi cantik yang diberi nama timun emas.

    Semakin hari timun emas tumbuh menjadi gadis jelita. Suatu hari datanglah raksasa untuk menagih janji Mbok sirni amat takut kehilangan timun emas, dia mengulur janji agar raksasa datang 2 tahun lagi, karena semakin dewasa,semakin enak untuk disantap, raksasa pun setuju.

    Mbok Sirnipun semakin sayang pada timun emas, setiap kali ia teringat akan janinya hatinyapun menjadi cemas dan sedih. Suatu malam mbok sirni bermimpi, agar anaknya selamat ia harus menemui petapa di Gunung Gundul. Paginya ia langsung pergi. Di Gunung Gundul ia bertemu seorang petapa yang memberinya 4 buah bungkusan kecil, yaitu biji mentimun, jarum, garam,dan terasi sebagai penangkal. Sesampainya dirumah diberikannya 4 bungkusan tadi kepada timun emas, dan disuruhnya timun emas berdoa.

    Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. Timun emaspun disuruh keluar lewat pintu belakang untuk Mbok sirni. Raksasapun mengejarnya. Timun emaspun teringat akan bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun memakannya tapi buah timun itu malah menambah tenaga raksasa. Lalu timun emas menaburkan jarum, dalam sekejap tumbuhlah pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah raksasa terus mengejar. Timun emaspun membuka bingkisan garam dan ditaburkannya. Seketika hutanpun menjadi lautan luas. Dengan kesakitannya raksasa dapat melewati. Yang terakhit Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, akhirnya raksasapun mati.

    " Terimakasih Tuhan, Engkau telah melindungi hambamu ini " Timun Emas mengucap syukur. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia dan damai.

    Sumber : http://dongeng1001malam.blogspot.com/2005/03/timun-mas.html

    BalasHapus
  38. Naskah Drama
    Timun Emas

    Babak 1

    Narator : “Alkisah, pada zaman dahulu kala hiduplah seorang janda bernama Mbok Sirni di sebuah desa kecil. Ia bekerja sebagai petani kecil. Ia menginginkan seorang anak agar dapat membantu dan menemani ia bekerja.”

    Mbok Sirni : “Akhirnya, pekerjaanku di ladang hari ini sudah selesai. Seandainya saya memiliki seorang anak, pasti saya tidak selelah ini.”

    Narator : “Suatu hari, ia didatangi oleh seorang raksasa.”

    Raksasa : “Wahai petani kecil, jikalau engkau menginginkan seorang anak, akan kuberikan engkau seorang anak. Akan tetapi, dengan syarat apabila anak itu berusia enam tahun harus diserahkan kepadaku itu untuk disantap.”

    Mbok Sirni : “Baiklah tuan, saya setuju dengan persyaratan tuan.”

    Raksasa : “Ini biji mentimun , rawatlah biji ini di ladangmu.”

    Narator : “Setelah dua minggu, diantara buah ketimun yang ditanamnya ada satu yang paling besar dan berkilau seperti emas.”

    Mbok Sirni : “Wah, buah ini besar sekali!. Baiklah, akan ku belah buah itu dengan hati-hati.”

    Narator : “Ternyata, isi buah tersebut adalah seorang bayi cantik.”

    Bayi : “Oeek…….”

    Mbok Sirni : “Wah, cantik sekali kamu, nak. Mulai sekarang, ibu akan memanggilmu Timun Emas karena kamu berasal dari timun yang bewarna emas.”


    Babak 2

    Narator : “Semakin hari, Timun emas tumbuh menjadi gadis jelita yang rajin membantu ibunya.”

    Timun Emas : “Ibu, saya pergi mencari kayu bakar dulu ya.”

    Mbok Sirni : “Iya, hati-hati ya nak. Jangan pulang terlalu malam, nanti kamu tersesat.”

    Narator : “Beberapa saat kemudian, datanglah raksasa untuk menagih janji Mbok Sirni.”

    Raksasa : “Wahai petani kecil, saya datang kesini untuk menagih janjimu 6 tahun. Cepat serahkan anak itu ! Sekarang saya sangat ingin memakan seorang bocah.”

    Narator : “Karena Mbok Sirni amat ketakutan, maka ia mengulur janjinya.”

    Mbok Sirni : “Begini tuanku, saya punya saran. Maukah anda datang kesini dua tahun kemudian?. Saya yakin, bila semakin dewasa, anak ini pasti semakin enak untuk disantap.”

    Raksasa : “Mmm…. , bagus juga saranmu. Baiklah, saya akan datang kesini dua tahun kemudian untuk menagih janjimu.”


    Babak 3

    Narator : “Hari berganti hari, Mbok Sirni semakin sayang pada timun emas, namun setiap kali ia teringat akan janjinya, hatinyapun menjadi cemas dan sedih.”

    Timun Emas : “Bunda, ini sudah larut malam, kenapa bunda belum tidur? Dan, kenapa bunda tampak sedih, apakah bunda memiliki masalah?”

    Mbok Sirni : “Tidak, anakku. Bunda tidak memiliki masalah. Mari kita tidur, bunda akan menceritakan sebuah dongeng untukmu.”

    Timun Emas : “Hore, terima kasih bunda.”



    Babak 4

    Narator : “Suatu malam, Mbok Sirni bermimpi, agar anaknya selamat ia harus menemui petapa di Gunung Gundul. Paginya ia langsung pergi ke sana.”

    Mbok Sirni : “Timun Mas, bunda akan pergi ke Gunung Gundul untuk beberapa hari. Bila kamu lapar, ibu sudah menyiapkan nasi dan ikan asin goreng di dapur. Jangan kemana-mana ya, nanti kamu tersesat.”

    Timun Emas : “Bunda, bolehkah saya ikut?”

    Mbok Sirni : “Maaf, anakku. Kamu tidak dapat ikut bunda. Kamu harus menjaga rumah kita.”

    Timun Emas : “Baiklah bunda.”



    Babak 5

    Narator : “Setelah Mbok Sirni sampai di Gunung Kidul, ia menolong seseorang yang hampir terjatuh dalam anak sungai. Ternyata orang tersebut adalah seorang petapa.”

    Petapa : “Terima kasih engkau telah menolongku, ternyata engkau seorang yang murah hati. Ini kuberikan 4 buah bungkusan kecil ini, masing-masing didalamnya terdapat biji mentimun, jarum, garam,dan terasi untuk menyelamatkan anakmu dari raksasa.”

    Narator : “Namun, ketika Mbok Sirni mau mengucapkan terima kasih, petapa tersebut menghilang begitu saja.”

    BalasHapus
  39. Babak 6

    Narator : “Mbok Sirni pun pulang ke rumahnya. Sesampai dirumah, ia menceritakan semua yang telah terjadi kepada Timun Emas.”

    Timun Emas : “Bunda, saya amat takut dimakan oleh si Raksasa itu, dan juga saya takut berpisah dengan bunda.”

    Mbok Sirni : “Oh, anakku. Bunda sangat menyayangimu dan takut kehilanganmu. Ini, bungkusan ini bunda berikan untukmu. Gunakan ini saat kamu berhadapan si Raksasa itu. Sebelum itu, berdoalah kepada Sang Pencipta untuk diberi perlindungan dari-Nya.”

    Timun Emas : “Baiklah bunda, saya akan berusaha mengikuti saran bunda.”


    Babak 7

    Narator : “Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji.”

    Raksasa : “Wahai petani kecil, aku datang kesini untuk menagih janjimu! Cepat serahkan anak itu, aku amat ingin memakannya! Hahaha……”

    Mbok Sirni : “Anakku, cepat lari lewat pintu belakang rumah kita!”

    Timun Emas : “Baiklah bunda.”

    Narator : “Raksasapun mengejarnya. Timun emaspun teringat akan bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun memakannya tapi buah timun itu malah menambah tenaga raksasa. Lalu timun emas menaburkan jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah raksasa terus mengejar.Timun emaspun membuka bingkisan garam dan ditaburkannya. Seketika hutanpun menjadi lautan luas. Dengan kesakitannya raksasa dapat melewati. Yang terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, akhirnya raksasapun mati.”

    Timun Emas : “Terimakasih Tuhan, Engkau telah melindungi hambamu ini”

    Narator : “Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia dan damai.”

    BalasHapus
  40. Nama : Prima Magdalena D.
    Kelas : XI IPA 6 / 36

    Keong Emas

    Pada zaman dahulu di Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang disebut Kerajaan Daha. Di sana hiduplah dua orang putri yang sangat cantik jelita. Putri nan cantik jelita tersebut bernama Candra Kirana dan Dewi Galuh. Kedua putri Raja Kertamarta tersebut hidup sangat bahagia dan serba berkecukupan.
    Hingga suatu hari datanglah seorang pangeran yang sangat tampan dari Kerajaan Kahuripan ke Kerajaan Daha. Pangeran tersebut bernama Raden Inu Kertapati. Maksud kedatangannya ke Kerajaan Daha adalah untuk melamar Candra Kirana. Kedatangan Raden Inu Kertapati sangat disambut baik oleh Raja Kertamarta, dan akhirnya Candra Kirana ditunangkan dengan Raden Inu Kertapati.
    Pertunangan itu ternyata membuat Dewi Galuh merasa iri. Dewi Galuh merasa kalau Raden Inu Kertapati lebih cocok untuk dirinya. Oleh karena itu, Dewi Galuh lalu pergi ke rumah Nenek Sihir. Dia meminta agar nenek sihir itu menyihir Candra Kirana menjadi sesuatu yang menjijikkan dan dijauhkan dari Raden Inu. Nenek Sihir pun menyetujui permintaan Dewi Galuh, dan menyihir Candra Kirana menjadi Keong Emas, lalu membuangnya ke sungai.
    Suatu hari seorang nenek sedang mencari ikan dengan jala, dan keong emas terangkut dalam jalanya tersebut. Keong Emas itu lalu dibawanya pulang dan ditaruh di tempayan. Besoknya nenek itu mencari ikan lagi di sungai, tetapi tak mendapat ikan seekorpun. Kemudian Nenek tersebut memutuskan untuk pulang saja, sesampainya di rumah ia sangat kaget sekali, karena di meja sudah tersedia masakan yang sangat enak-enak. Si nenek bertanya-tanya pada dirinya sendiri, siapa yang membuat masakan ini.
    Begitu pula hari-hari berikutnya si nenek menjalani kejadian serupa, keesokan paginya nenek ingin mengintip apa yang terjadi pada saat dia pergi mencari ikan. Nenek itu lalu berpura-pura pergi ke sungai untuk mencari ikan seperti biasanya, lalu pergi ke belakang rumah untuk mengintipnya. Setelah beberapa saat, si nenek sangat terkejut. Karena keong emas yang ada di tempayan berubah wujud menjadi gadis cantik. Gadis tersebut lalu memasak dan menyiapkan masakan tersebut di meja. Karena merasa penasaran, lalu nenek tersebut memberanikan diri untuk menegur putri nan cantik itu. “Siapakah kamu ini putri cantik, dan dari mana asalmu?”, tanya si nenek. "Aku adalah putri kerajaan Daha yang disihir menjadi keong emas oleh nenek sihir utusan saudaraku karena merasa iri kepadaku", kata keong emas. Setelah menjawab pertanyaan dari nenek, Candra Kirana berubah lagi menjadi Keong Emas, dan nenek sangat terheran-heran.
    Sementara pangeran Inu Kertapati tak mau diam saja ketika tahu Candra Kirana menghilang. Akhirnya Raden Inu diberitahu dimana Candra Kirana berada, disuruhnya Raden itu pergi ke desa Dadapan. Setelah berjalan berhari-hari, sampailah ia di desa Dadapan. Ia menghampiri sebuah gubuk yang dilihatnya untuk meminta seteguk air karena perbekalannya sudah habis. Di gubuk itu ia sangat terkejut, karena dari balik jendela ia melihat Candra Kirana sedang memasak. Akhirnya sihir dari nenek sihir pun hilang karena perjumpaannya saat menolong kakek tua. Akhirnya Raden Inu membawa tunangannya beserta nenek yang baik hati tersebut ke istana, dan Raden Inu menceritakan perbuatan Dewi Galuh pada Baginda Kertamarta.
    Baginda meminta maaf kepada Candra Kirana dan sebaliknya. Dewi Galuh lalu mendapat hukuman yang setimpal. Karena Dewi Galuh merasa takut, maka dia melarikan diri ke hutan. Akhirnya pernikahan Candra kirana dan Raden Inu Kertapati pun berlangsung, dan pesta tersebut sangat meriah. Akhirnya mereka hidup bahagia.
    Cerita Rakyat “Keong Emas” ini diceritakan kembali oleh Kak Ghulam Pramudiana.

    Sumber :
    http://www.ceritaanak.org/index.php?option=com_content&view=article&id=59:keong-emas&catid=36:cerita-rakyat&Itemid=56

    BalasHapus
  41. NASKAH DRAMA

    KEONG EMAS

    Karya : Prima Magdalena D
    Kelas : XI IPA 6
    No. Absen : 36

    Babak 1
    Adegan 1
    Pada zaman dahulu, di Kerajaan Daha hiduplah dua orang putri yang sangat cantik jelita. Putri nan cantik jelita tersebut bernama Candra Kirana dan Dewi Galuh. Kedua putri Raja Kertamarta tersebut hidup sangat bahagia dan serba berkecukupan. Hingga suatu hari, datanglah seorang pangeran yang sangat tampan dari Kerajaan Kahuripan ke Kerajaan Daha. Pangeran tersebut bernama Raden Inu Kertapati. Maksud kedatangannya ke Kerajaan Daha adalah untuk melamar Candra Kirana. Kedatangan Raden Inu Kertapati itu sangat disambut baik oleh Raja Kertamarta dan akhirnya Candra Kirana ditunangkan dengan Raden Inu Kertapati.
    Candra Kirana : “Sayangku, kita akan menikah beberapa hari lagi.”
    Raden Inu : “Betul sekali, cintaku.”
    Candra Kirana : “Ada sesuatu yang mau aku tanyakan kepadamu.”
    Raden Inu : “Apa itu? Beritahu aku sekarang.”
    Candra Kirana : “Apakah kau benar-benar mencintaiku?”
    Raden Inu : “Sudah tentu, cintaku. Aku mencintaimu dengan segenap
    hatiku. Bagaimana dengan sayangku?”
    Candra Kirana : “Saya juga sangat mencintaimu.”

    Pada saat ada orang yang baik, selalu ada juga orang yang tidak baik. Dewi Galuh, saudara tirinya Candra Kirana sangat cemburu dan hatinya dipenuhi kebencian kepada Candra Kirana. Dewi Galuh benar-benar ingin menjadi istri Raden Inu. Oleh sebab itu, Dewi Galuh mencoba melakukan apa saja untuk menghilangkan Candra Kirana.

    Adegan 2

    Dewi Galuh : “Maafkan saya saudaraku sayang, saya mau berbicara
    denganmu sebentar.”
    Candra Kirana : “Baiklah.”
    Raden Inu : “Aku pikir lebih baik aku pergi sekarang. Besok aku akan
    pergi berburu selama lima hari sendirian.
    Candra Kirana : “Sendirian? Aku akan sangat khawatir padamu.”
    Raden Inu : “Jangan cemas, aku akan baik-baik saja, sayang!”


    Adegan3

    Dewi Galuh : “Aku dengar kamu dan Raden Inu akan segera menikah
    dalam beberapa hari ini, apakah itu benar?
    Candra Kirana : “Ya, betul! Kami akan segera menikah.”
    Dewi Galuh : “Oh, itu sangat bagus! Aku harap kamu akan bahagia dengan
    dia. Selamat ya!”
    Candra Kirana : “Terima kasih. Dapatkah kamu datang ke upacara pernikahanku?”
    Dewi Galuh : “Tentu saja, aku akan datang.”

    Babak 2

    Pada hari berikutnya, Dewi Galuh bertemu seorang penyihir tua untuk meminta bantuannya.

    Adegan 1

    Penyihir : “Ada apa Tuan Putri? Mengapa tiba-tiba Anda mau bertemu dengan saya?
    Dewi Galuh : “Dapatkah Anda membantuku, penyihir yang hebat dan baik hati?”
    Penyihir : “Apa yang dapat saya lakukan untukmu, Tuan Putri?”
    Dewi Galuh : “Aku ingin menghilangkan Candra Kirana dari sisi Raden Inu.”
    Penyihir : “Ah, hal itu mudah saja dilakukan. Mendekatlah ke sini Tuan Putri. Saya akan beritahukan caranya.”

    Penyihir lalu memberikan mantra ke Dewi Galuh sebagai kutukan untuk Galuh Candra.

    Adegan 2

    Penyihir : “Tuan putri Dewi Galuh harus menggunakan mantra ini
    hanya untuk Candra Kirana. Wahai Iblis Kegelapan, berilah
    kekuatan kutukanmu pada Candra Kirana agar menjadi
    keong emas.”
    Dewi Galuh : “Oh, itu mudah dilakukan. Sebelum dia menjadi keong emas,
    aku akan membuat dia menderita.”

    Dewi Galuh mengatur rencana untuk menghilangkan Candra Kirana dan berkata,

    Dewi Galuh : “Oh, betapa hebatnya penyihir itu. Dia dapat menjadikan
    Candra Kirana menjadi keong hanya dengan kutukan.
    Sebelum dia menjadi keong, aku akan membuang kamu,
    Candra Kirana. Sehingga kamu tak akan pernah kembali
    lagi. ( Candra Kirana tertawa puas ).

    BalasHapus
  42. Babak 3

    Candra Kirana dibuang jauh dari kerajaan oleh Dewi Galuh.
    Adegan 1

    Dewi Galuh : “Terimalah ini Candra Kirana! Ini adalah hasil yang harus
    kamu terima, karena kamu telah merebut sesuatu yang saya inginkan.”
    Candra Kirana : “Saudaraku, mengapa kamu membuangku? Begitu besarkah
    kebencianmu padaku?
    Dewi Galuh : “Ya, saya sangat membencimu!”
    Candra Kirana : “Mengapa kamu membenciku, saudaraku?”
    Dewi Galuh : “Mengapa? Karena kamu telah mendapatkan segalanya, tetapi aku sendiri? Apa yang kupunya? Saudaraku tercinta, bersiap-siaplah untuk mendapatkan segala sesuatu yang akan membuat kamu lebih menderita. Kamu akan menjadi keong emas. Oh, iblis kegelapan berilah kekuatanmu! Kutuklah Candra Kirana menjadi keong emas sekarang.”

    Setelah Dewi Galuh mengucapkan mantra, Candra Kirana berubah menjadi keong emas dan Dewi Galuh meninggalkan dia sendirian di pantai yang jauh dari istana.

    Candra Kirana : “Wahai Tuhan, mengapa Dewi Galuh sangat membenciku? Apakah aku telah melakukan sesuatu yang salah?” ( Candra Kirana berkata sambil terisak-isak ).

    Babak 4

    Ketika Candra Kirana disapu oleh air laut, tiba-tiba Candra Kirana melihat seorang nenek yang sedang berjalan-jalan di dekat pantai. Namanya Nyai Dadapan.

    Adegan 1

    Nyai Dadapan : “Oh, betapa panasnya hari ini! Wah, ada keong cantik!” (sambil mengangkat keong tersebut).

    Lalu Nyai Dadapan mengambil dan membawa keong tersebut ke pondoknya. Ketika tiba di pondok, keong itu ditaruh di dalam tempayan..

    Nyai Dadapan : “Tunggu sebentar disini anak kecil, aku akan pergi tidur.”

    Babak 5

    Hari selanjutnya Nyai Dadapan berencana memancing di laut.

    Adegan1

    Nyai Dadapan : “Jangan pergi ke mana-mana! Aku akan pulang dan membawa makanan untukmu.

    Kemudian Nyai Dadapan meninggalkan Candra Kirana sendirian di pondok tua itu.

    Candra Kirana : “Terima kasih Nenek telah membantuku. Aku akan membayar kembali kebaikanmu.”

    Oleh karena itu, Candra Kirana bekerja membersihkan pondok dan memasak makanan untuk nenek itu.

    Babak 6
    Beberapa saat kemudian, Nyai Dadapan kembali ke rumah tanpa membawa apa-apa.

    Adegan 1

    Nyai Dadapan : “Oh, betapa tidak beruntungnya aku hari ini! Aku tak mendapat ikan sama sekali.” (matanya membuka lebar melihat banyak sekali makanan lezat di meja makannya). “Hmm... Ada makanan yang lezat-lezat. Kebetulan sekali aku sedang lapar.”

    Tanpa berpikir dua kali, Nyai Dadapan langsung memakan makanan tersebut.
    Lalu dia baru teringat akan sesuatu.

    Nyai Dadapan : “Siapa yang telah memasak seluruh makanan ini?” (ia bertanya-tanya di dalam hati).

    Babak 7

    Pagi berikutnya, ia berencana bahwa ia akan pergi memancing.

    Nyai Dadapan : “Aku akan pura-pura memancing, lalu aku akan bersembunyi
    dengan cepat dibalik pintu.”

    Kemudian ia melihat keong emas itu merangkak keluar dari tempayan. Nyai Dadapan sangat terkejut ketika keong emas itu berubah menjadi seorang gadis yang cantik. Lalu Candra Kirana membersihkan pondok dan memasak makanan.

    Adegan 1

    Nyai Dadapan : “Hai! Siapa kamu gadis cantik?”
    Candra Kirana : (Candra Kirana terkejut ketika nenek tua itu melihat rupa aslinya). Saya Candra Kirana, putri dari Kerajaan Daha. Saya mempunyai saudara tiri yang bernama Dewi Galuh. Dia benar-benar membenci saya dan saya dikutuk menjadi keong emas.”

    Setelah berkata begitu, Candra Kirana berubah menjadi keong emas kembali.

    Nyai Dadapan : “Oh betapa malangnya! Dewi Galuh sangat kejam. Ya Tuhan,
    selamatkanlah putri ini dari setiap ujian yang dihadapinya.
    Hukumlah saudara tirinya.”

    BalasHapus
  43. Babak 8

    Kemudian Raden Inu tiba di istana dan ia tidak melihat tunangannya. Oleh karena itu, ia bertanya dengan Dewi Galuh.

    Adegan 1

    Raden Inu : “Dewi Galuh, dimanakah Candra Kirana? Aku tidak melihat Candra Kirana.”
    Dewi Galuh : “Ini bukan maksudku untuk menyakitimu, tetapi Candra Kirana telah berselingkuh dengan penjaga di kerajaan kita.”
    Raden Inu : “Benarkah? Bagaimana bisa dia melakukan itu? Dia berkata bahwa dia mencintaiku dan aku juga mencintainya.”
    Dewi Galuh : “Ya, aku tahu. Tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan yang kamu harapkan.”

    Babak 9

    Adegan 1

    Raden Inu tetap tidak percaya. Oleh karena itu, dia mencari informasi tentang tunangannya dan akhirnya dia tahu bahwa Candra Kirana tidak bersalah. Kemudian sang putra mahkota pergi menyusuri desa Dadapan dan dia mencari tunangannya.

    Raden Inu : “Cintaku... Candra Kirana!”
    Candra Kirana : “Sayangku, Raden Inu! Sedang apa kamu di sani?”
    Raden Inu : “Aku sedang mencarimu ke mana-mana, sayangku!”
    Candra Kirana : “Nyai Dadapan! Nyai Dadapan! Raden Inu datang menjemput saya.”
    Nyai Dadapan : “Yang Mulia datang ke sini untuk bertemu Candra Kirana, ya?
    Raden Inu : “Ya, benar sekali, Nek.”
    Nyai Dadapan : “Kalau begitu, saya akan membiarkan kalian berdua bercakap-cakap. Saya akan mengambil minuman.”
    Raden Inu : “Terimakasih, Bu.” (Nyai Dadapan pergi untuk mengambil minuman)

    Adegan 2

    Raden Inu : "Cintaku, apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
    Candra Kirana : "Sayangku, sebenarnya aku telah diusir oleh Dewi Galuh dan dia mengutuk aku menjadi keong emas. Dia sangat membenciku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."

    Kemudian Candra Kirana kembali menjadi keong emas.

    Adegan 3

    Nyai Dadapan : "Apa yang terjadi, Putra Mahkota?"
    Raden Inu : "Putri Candra Kirana telah berubah kembali menjadi keong emas. Bagaimana jika nenek ikut saya ke istana?"
    Nyai Dadapan : "Baiklah, Yang Mulia!"

    Babak 10

    Ketika tiba di istana, Raden Inu menerangkan semuanya kepada Raja Kertamarta.

    Adegan 1

    Raden Inu : “Dewi Galuh, mengapa kamu membenci Candra Kirana sehingga kamu telah mengutuk Candra Kirana menjadi keong emas?
    Candra Kirana : “Tidak, itu tidak mungkin, Yang Mulia. Itu semua omong kosong. Seseorang telah memfitnah saya. Saya tidak dapat melakukan itu semua terhadap saudara saya sendiri. Tetapi si penyihir yang telah melakukan itu semua.”
    Raden Inu : “Ah, kamu tidak perlu banyak berbohong lagi Dewi Galuh. Seluruh kejahatanmu telah terungkap karena tingkah lakumu yang jelek. Kamu akan dipenjara di bawah tanah sampai seumur hidupmu.”
    Dewi Galuh : “Tidak! Itu tidak mungkin!”
    Raden Inu : “Keluarlah dari sini Dewi Galuh!”

    Dewi Galuh bangkit berdiri lalu berlari, tetapi penjaga menangkapnya dan dia dipenjara seumur hidup.

    Babak 11

    Hari berikutnya Raden Inu bertemu penyihir tua itu.

    Adegan 1

    Penyihir : “Apa tujuanmu datang ke sini, Yang Mulia?”
    Raden Inu : “Aku datang untuk membunuhmu!”
    Penyihir : “Ha... ha... ha... ha... Anda tidak akan pernah bisa membunuh saya karena saya dapat hidup selamanya. Hahahaha.”

    Raden Inu mengambil keris pusaka dan membunuh penyihir jahat itu.
    Candra Kirana terbebas dari kutukan dan dia beralih kembali menjadi seorang putri yang cantik seperti sedia kala.

    Adegan 2

    Candra Kirana : “Terimakasih, sayangku. Paduka telah menyelamatkan hidupku dari kutukan.”
    Raden Inu : “Oh, tidak masalah, cintaku.”
    Raden Inu : “Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengembalikan kekasihku menjadi normal seperti sedia kala.

    Akhirnya Raden Inu hidup bersama bahagia selamanya karena bantuan Nyai Dadapan.

    BalasHapus
  44. Nama : Rachmad syahdu wijaya
    Kelas : XI P6
    No. absen : 37
    LEGENDA KEN DEDES

    BABAK I
    Sebuah Sungai di desa Wonopati, kabupaten Tumapel. Perempuan-perempuan mandi dan mencuci pakaian. Pagi buta itu adalah kegiatan mereka ngerumpi.
    Seiring lampu Fade in, terdengar tawa renyah mereka.
    Ken Memey : (menepuk pantat) Nih… panjat Jelo!
    Ken Siti : Alah. Ken memey ini, segitu aja bangga. Nih… Mungil, lincah dan seksi (menggerai rambut, lalu berpose) Paris Hilten, sang penggoda.
    Ken Taki : (datang) Spada… enibadi Hom…?
    Ken Siti segera mencipratkan air ke arah Ken Taki yang baru datang.
    Ken Taki : Ini apa-apaan ini, ada yang jelo ada yang Paris Hilten. Wong saya yang mirip Karmen Elektra aja nggak somby kok.
    Ken Memey : Heh,,, body kaya gitu Karmen Elektra? Bolam Elektra tahu nggak sih?
    Semua tertawa…
    Ken Royah : Eh. Mbak Ken Memey, gimana jadi nggak nikah sama pak Lurah.. udah 2 tahun janda lho kok tenang—tenang saja.
    Ken Memey : Hus! Sapa yang tenang Roy, tiap malem aku tuh menggelinjang sendiri. Nggak ada yang mau nangkep…
    Ken Taki : Alah.. pas kapan itu saya liat Pak Lurah baru mengendap-endap kaya mengetuk jendela Mbak Ken Memey. Kaya Agen CIA aja, nggak tahunya agen tabloid porno.
    Ken Memey : Heyy..heyy.. heyy.. are you speaking? Please deh.. yang agen-agenan gitu jangan di sebut. Itu karena pak Lurah perhatian sama rakyat. Jangan sampe aku yang janda semok ini digosipkan yang enggak-enggak. Aksi intip pak Lurah itu, Cuma buat mastiin, kalo Ik baik-baik aja dan terselimuti dengan hangat. just that. Itu aja… jangan dibesar-besarin dong.
    Ken Taki : Emang punya pak Lurah udah besar, nggak boleh dibesarin lagi…
    Semua tertawa ngikik…
    Ken Siti : sebenarnya gimana sih hubungan mbak Ken Memey sama Pak Lurah baru?
    Ken Memey : Hubungan kami? Ouugghh.. ya jelas hot berguling-guling. Dia kwalahan terus terima seranganku.. (terdiam) maksudmu hubungan…
    Ken Siti : maksud saya, serius pacaran apa cuma TTM aja?
    Ken Memey : Duuhh.. gimana ya? Dia tuh oke, tapi…
    Eh.. udah pada lihat si sales kuda itu belum?
    Ken Royah : Sales Kuda?
    Ken Memey : Sales Kuda. Itu tuh yang sekarang nginep di rumah Pak Lohgawe. Dia itu penjual Kuda. Sekarang dia jadi menejer pemasaran kuda di daerah Tumapel. Ngekos di rumah pak Lohgawe.
    Ken Taki : Oo.. si rambut pirang itu
    Ken Memey : Iya.. wuiihh cuakep banget. Perut nya six pack lho. Rambutnya pirang, bule Amrik, keren Boo…

    Ken Dedes Muda datang…
    Ken Siti : Nah.. ini nih yang cocok ama Kang sales Kuda. Siapa namanya ?
    Ken Taki : Ken Arok.
    Ken Royah : Dedes-Arok, cocok ya..
    Ken Taki : Wow… se level ama Rama-Sinta tapi ada yang lebih cocok lagi
    Ken memey : siapa?
    Ken taki : Taki-Arok
    Semua sigap menimpuki taki dengan baju-baju basah…
    Ken Memey : siapa tadi yang bilang Dedes cocok ma Arok? Alasannya apa?
    Ken Siti : Lho. Ya jelas yang cowok ganteng, yang cewek cantik.
    Ken Memey : denger ya! Belum ada undang-undang yang menyatakan cowok paling ganteng harus jodoh sama cewek paling cantik. And…Belum ada survey yang valid soal siapa yang paling cantik di Tumapel. You jangan menghembuskan gossip sembarang gossip okeyyy…?!!

    BalasHapus
  45. BABAK II
    Ken memey memandang Ken Dedes dengan sinis, Ken Dedes Cuma senyum dan melanjutkan kegiatan.
    Ken Arok diiringi penari berkuda. Mereka memasuki desa Wonopati dan hendak menemui Empu Purwa.

    Penunggang Kuda memarkir kudanya, lalu bergerombol berubah menjadi kumpulan gadis-gadis yang mengagumi kegantengan Ken Arok.
    Gadis-gadis tertawa cekikikan. Ken Arok jadi salah tingkah. Lalu Ken Dedes dan Ken Taki pulang dari sungai.
    Ken dedes : maaf, cari siapa?
    Ken Arok : Kamu,.. ehh.. kamu. Eeee.. cari.. kuda.. ya kuda.. eh saya punya kuda.. pria.. pria.. bapak.. ee siapa saja orang pria yang ada di rumah.. saya mau jualan kuda.
    Ken Taki : oo,,.. situ sales kuda to? Kok ga pake dasi. Sales-sales barang elektronik pada make dasi lho mas. Yang nggak pake dasi biasanya mendreng. Jualan alat-alat rumah tangga dengan bayaran dicicil.
    Ken Dedes : Taki!. Sebentar mas, saya panggilkan.
    Ken Dedes masuk rumah.
    Ken Taki : (pada gadis-gadis) stop! The End. Pertunjukan bule ini selesai. Dia ke sini bertamu. Otomatis harus masuk ruang tamu. End you-you semua harus off dari sini. Atau you baris jadi satu sama kuda?
    Ken Taki masuk rumah. Gadis-gadis pergi. Mpu Purwa keluar
    Mpu Purwa : OO.. mas …
    Ken Arok : Arok. Ken Arok.
    Mpu Purwa : Mangga-mangga ken Samrock.
    Ken Arok : What? Arok. Bukan Samrock. Samrock itu preman suka gulat.
    Mpu Purwa : Oo ya.. mari silakan duduk. Pak Lurah sudah cerita tentang kedatangan Anda.

    Ken Dedes keluar dengan minuman
    Mpu Purwa : di Texas sekarang musim apa Mas?.
    Ken Arok : Di tempat saya punya asal, sekarang sedang musim tembak-tembakan. Cowok menembak cewek. Dan sekarang cewek mulai berani menembak cowok. Di sini pak?
    Mpu Purwa : Di sini musim tenda. Di mana-mana banyak tenda mas. O ya. Kenalkan ini ken Dedes, putri saya semata wayang.
    Ken Arok : what?! Matanya kaya wayang?
    Mpu Purwa : bukan matanya kaya wayang. Semata wayang. Ontang-anting.
    Ken Arok : o.. I see- I see. Ontang anting. Boleh, boleh.
    Ken Taki : (menyusul dengan piring snack) boleh apanya mister koboi?
    Ken Arok : maksud saya, boleh saja beranak satu, dua juga boleh, tiga juga boleh. Sepuluh juga boleh.
    Mpu Purwa : Dedes… tolong ditemani sebentar. Romo mau ke lurah sebentar. Ngobrol sama anak saya dulu mas Ken Arok.
    Ken Arok. : Siap Romo.







    Mereka duduk ngobrol dari mulai canggung sampai sangat akrab. Bersamaan dengan itu musik mengalun. Penari bersliweran.

    Di rumah Ken Memey, rupany semalam Pak Lurah menginap di rumah Ken Memey. Pagi ini Pak Lurah bersiap berangkat bekerja.
    Lurah Baru : Tapi… kanapa sih. Kamu jadi sibuk ngurusin mereka. Biar saja. Ken Arok itu cuma penjual kuda. Dan kamu juga sudah janji sehidup-semati sama aku. Untuk apa ribut soal pacarannya Ken Arok dan Ken Dedes?
    Ken Memey : O my god! Sayangku. Sayanngku lupa ya. Yu itu lurah. Harus paham politik, harus paham spionase, harus paham tips dan trik. Lagian saya ini spionase. Ken Dedes adalah potensi yang harus diketahui Tunggul Ametung. Cewek se seksi Ken Dedes tidak boleh jatuh ke tangan pemuda berwatak jahat. En.. aku masih cukup manusiawi. Kalo sampe Ken dedes diambil Tunggul Ametung ketika dia sudah punya pacar, Yu bisa bayangin sendiri, gimana rasanya kalo pacar yu diambil orang. Nah, karena sampe hari ini Tunggul Ametung belum merespon. Tugasku adalah mengawasi supaya Ken Dedes tetap dalam status single.
    Lurah Baru : tapi apa mereka beneran pacaran?
    Ken memey : apapun itu. Yang jelas aku harus lakukan pencegahan. Aku juga dapet info kalo Ken Arok itu buronan di negaranya. Ada potensi dia ke sini untuk menggalang kekuatan dan merebut pemerintahan.
    Lurah : kamu terlalu jauh berpikir sayangku! Janga banyak nonton 007.
    Ken Memey : ney..ney..ney! ik tidak sedang menghayal. Ini bener-bener kenyataan sayangku.

    BalasHapus
  46. BABAK III

    Di rumah, Ken Dedes melamun, lalu Taki datang.
    Ken Taki : Kok keliatannya nggak ada smilenya nih, kenapa ndes? Eh Ken dedes.
    Ken Dedes : nggak tahu ki, rasanya nggak mood aja.
    Ken Takli : Huhuyy… jatuh cinta….
    Ken dedes : dah dari kemaren-kemaren (tersenyum simpul)
    Ken Taki : Rindu-rindu
    Ken dedes : dah dari kemaren-kemaren!
    Ken taki : Horny-horny…
    Ken dedes : (melempar sandal ke pantat ken Taki).
    Ken Taki : wow… anarkis! Knapa sih?
    Ken dedes tidak menjawab. Ia melanjutkan sesuatu yang sepertinya berputar di otaknya.
    Ken Dedes : Kok aku bisa suka sama dia ya? Menurutmu dia jahat nggak sih?
    Ken Taki : liat aja alis sama hidungnya. Itu jenis orang-orang bandel.
    Ken Dedes : bukan cuma bandel. Dia pemberontak. Pembangkang.
    Ken Taki : oh ya. Saya denger slenthingan, pak Lurah sedang mengawasi Ken Arok. Katanya dia dicurigai mata-mata dari negeri Sebrang.
    Ken dedes : Kurang kerjaan.
    Ken Taki : kenapa dia jauh-jauh ke sini. Hanya untuk jualan kuda.
    Ken Dedes : dia buron.
    Ken Taki : Buronan?! Pelecehan seksual?.
    Kan dedes : dia perampok,
    Ken Taki : Jabang bayi henpon mati! Ken dedes, kanapa suka sama orang buahaya kaya gitu? Perampok itu busyet keni…
    Ken Dedes : tapi dia perampok baik. Dia merampas orang-orang kaya lalu mengembara dan duitnya dibagi-bagi ke rakyat miskin. Dia sendiri bahkan tak pernah memikirkan punya rumah sendiri.
    Ken Taki : oo. I see, dia itu yang bernama Robinhood?
    Ken Dedes : Billy The Kid. Dia diburu dan satu persatu teman-temannya telah tewas.
    Ken Taki : Cinta memang aneh. Apa yang kamu suka dari dia.
    Ken Dedes : Dia pembangkang. Kelihatannya itu seksi. Keren. Dia nggak mudah nurut sama penguasan sekalipun. Toh penguasa juga nggak mesti bijak, banyak enggaknya malah.
    Ken Taki : Apa sih yang billy the kid itu sukai dari kamu.
    Mpu Purwa : (datang tiba-tiba) Karena putriku cantik.
    Dan itu juga kadang-kadang membuat aku khawatir.
    Ken Dedes : Kenapa Romo?
    Mpu Purwa : aku inget cerita-cerita jaman dulu. Dari Nefertiti istri Fir’aun, Yulaikha istri Yusuf, dan juga Cleopatra. Wanita agung seringkali membuat perselisihan. Kadang-kadang Negara bisa terguncang hanya karena seorang wanita. Dan pembunuhan pertama di muka bumi ini. Juga karena rebutan wanita.
    Ken dedes : wanita, memang selalu diukur dari sensual atau tidak, warna kulit, halus kasarnya, cara berjalannya, tutur katanya, lengak-lenggoknya, bahkan bau tubuhnya. Semua adalah segala yang bisa diindera. Semua itulah yang dibentuk oleh kaum lelaki kepada perempuan. Aku tunduk. Dan lebih dari itu, aku tunduk pada kodrat alam.
    Ken Taki : Apa ada yang mau ngrebut Ken Dedes?
    Mpu Purwa : Yang datang padaku belum ada. Tapi mungkin sudah ada rencana.
    Kern Dedes : Kalo memang harus begitu, bukan salah kami para wanita Romo. Jelas kami nggak bisa membelah diri jadi dua. Sementara orang-orang kuno memberi contoh laki-lakilah yang dibagi dengan beristri lebih dari satu. Tapi wanita? Dan kalo mereka para pria sampai berebut, tentu bukan salah kami. Kami memang harus tetap memilih salah satu. Sekali lagi, lebih dari sekedar tunduk pada kepemimpinan lelaki, aku tunduk pada kodrat alam.
    Mpu Purwa : ya…
    Ken dedes : Sebenernya itu sangat menyakitkan. Tapi apa boleh buat. Kami cuma wanita. Diperebutkan bukan sebagai junjungan, tetapi sebagai barang milik. Alangkah senangnya mereka yang tidak cantik. Yang kulitnya biasa-biasa aja. Yang dadanya tidak mencolok. yang wajahnya biasa-biasa aja. Mereka jauh dari ancaman ini.
    Ken Taki : tapi ada ancaman lain, seret jodoh...

    BalasHapus
  47. BABAK IV
    Tunggul Ametung : Bakar rumahnya, bunuh bapaknya dan bawa Ken dedes segera!

    Rombongan Tunggul Ametung pergi. Mpu Purwa baru saja pulang dari bertapa dan mengutuk Tunggul Ametung.
    Mpu Purwa : Tak akan tenang hidupmu nanti Tunggul Ametung. Kamu akan dibayang-bayangi ketakutan dari kecantikan anakku. Kau akan mati juga karena kecantikkan anakku Ken dedes. Tunggulah hari itu. Tunggulah Tunggul Ametuuuung…
    Tunggul Ametung : Untuk apa menunggu sampai esok hari. Sekarangpun waktu itu akan datang. Tapi sayang, kutukan itu justru jatuh padamu. (Tunggul Ametung menusuk Mpu Purwa. Lalu bergegas pergi)
    Ken Arok datang bersama Mpu Loh Gawe.
    Ken Arok : Romo…
    Mpu Purwa : Tunggul Ametung membawa Ken Dedes.
    Ken Arok : Romo, selamatkan empu Purwa.
    Mpu Purwa : Tidak perlu nak. Sia-sia. Racun keris ini sudah menjalar ke seluruh tubuh. Aku titipkan Ken Dedes padamu… Siapa temanmu ini?
    Ken Arok : Dia ayah angkatku.
    Mpu Lohgawe : Aku empu Lohgawe, Ken Arok anak angkatku. Salam hormatku mpu Purwa. Kedatanganku karena anakku ini memintaku untuk melamarkan putrimu.
    Mpu Purwa : Aku sudah merasa sejak pertama bertemu anak ini. Seorang pemuda sebrang yang akan mempersunting putriku. Aku terima nak. Tapi kau harus mengambilnya sendiri. (Mpu Purwa melepas kalung dari lehernya). Ini kalung ibunda Ken Dedes. Bawalah ini saat kau menemui Ken Dedes. Itu sebagai tanda kau telah memegang amanatku untuk membimbing hidupnya.
    Ken Arok : Ini pasti kalung sakti, fungsinya seperti surat sakti.
    Mpu Lohgawe : Trima kasih Mpu, aku dan anakku akan menjalankan amanatmu.
    (Mpu Purwa meninggal)
    Ken Arok : Romo! Romo!...
    Mpu Lohgawe : Pergilah ke istana Tunggul Ametung.
    Ken Arok : Tapi dia juga memburuku.
    Mpu Lohgawe : Ubah penampilanmu, ganti namamu. Namamu Ra Bumi. Menghadaplah ke Tunggul Ametung, lalu tantanglah pimpinan prajurit kabupaten. Kalo kamu menang, Tunggul Ametung akan menerimamu.

    BalasHapus
  48. BABAK V
    Taman Boboji. Tempat wisata khusus Ken Dedes yang sudah menjadi isteri Tunggul Ametung. Suatu pagi, mereka berdua tampak mesra berjalan mengitari taman.
    Ken Dedes : (menyanyi)
    Bunga Indah, segar sang angin
    Kadang aku tak mau pulang
    Seperti kasih memelukku
    Taman ini begitu damai

    Tunggul Ametung : (menyanyi)
    Ribuan bunga ku semai di sini
    Hanya untuk permaisuri
    Sampai kapanpun engkau mau
    Tak seorang berani mengusik

    Ken Dedes : Tapi Kanda akan pergi ke Pangjalu, berapa lama.
    Tunggul Ametung : Tak sampai hitungan bulan.
    Ken Dedes : Jika boleh, aku minta kanda di sini saja. Tak ada bedanya kita takluk atau tidak pada Pangjalu. Negara itu tak mampu memberi pengayoman rakyat Tumapel. Sebaliknya, kanda Tunggul Ametunglah raja kecil di sini.
    Tunggul Ametung : Aku hanya tidak ingin Pangjalu curiga. Kita memang tak pernah lagi mengirim upeti. Dan para brahmana yang dimusuhi Kertajaya banyak tinggal di pegunungan-pegunungan Tumapel.
    Ken Dedes : Apakah kanda juga ingin memusuhi para brahmana?
    Tunggul Ametung : Tidak. Aku tidak ingin memusuhi keduanya.
    Ken Dedes : Aku sedang mengandung, jangan sampai bayiku terpengaruh rasa permusuhan di hati kanda.
    Tunggul Ametung memeluk perut Ken Dedes, Kebo ijo menjatuhkan pistol ke lantai. Tunggul Ametung menoleh.
    Tunggul Ametung : Kenapa Kebo Ijo?
    Kebo Ijo : Nggak apa-apa boss. Heheh.. ngantuk.
    Tunggul Ametung : semalem ngapain aja kamu.
    Kebo Ijo : Anu.. anak saya ospek boss. Minta dibantu buat macem-macem tugas. Tugasnya aneh-aneh boss. Masa....
    Tunggul Ametung : Wiss.wiss.. itu bukan urusanku. Yang penting kamu digaji disuruh kerja. Jangan lengah, istriku sedang mengandung, dan besok aku berangkat ke Pangjalu beberapa hari. Cuma kamu yang kuandalkan untuk keamanan Tumapel.
    Kebo Ijo : Saya paham Gusti. Jangan khawatir.]
    Tunggul Ametung : Oh, ya. Gimana si Ra Bumi. Kalian nggak ada masalah kan?
    Kebo Ijo : oo.. netral boss.
    Tunggul Ametung : Ra Bumi itu berbahaya sekaligus berguna. Kamu bantu aku bikin dia tetap jinak.
    Kebo Ijo : Siap boss. Pokoknya dijamin netral.
    Tunggul Ametung : Sekarang, menyingkirlah sebentar. Kami ingin berdua dulu sebentar.
    Kebo Ijo : (Diam menunduk, lalu pelan-pelan mengangkat kepala menatap Ken Taki)
    Tunggul Ametung : Ke mana telingamu Kebo Ijo?!
    Kebo Ijo : E.. Iya boss. Saya disuruh apa?
    Tunggul Ametung : Menyingkir sebentar! Tadi nggak dengar ya?
    Kebo Ijo : Maaf gusti. Saya melamun. (bergegas pergi, sambil melirik Ken Taki)
    Ken Dedes : Taki, temani Kebo Ijo, kamu kan sahabatnya.
    Ken Taki : giliran kebo dikasih aku, kalo pejabat aja diembat sendiri. (sambil berlalu)

    BalasHapus
  49. BABAK VI
    Taman Boboji,Tunggul Ametung sedang ada di Pangjalu, Ra Bumi mengajari Ken Dedes naik kuda. Pada saat turun dari kuda, Kain Ken Dedes tersingkap sehingga Ra Bumi sempat melihat daerah kewanitaan Ken Dedes yang bercahaya.

    Ken Arok (Ra Bumi) menemui Empu Lohgawe, menanyakan makna cahaya dari kemaluan Ken Dedes.
    Mpu Lohgawe : Kamu lepas dari ibumu sejak kecil. Kamu butuh kasih seorang ibu. Itu tersimpan di alam bawah sadar. Ketika kamu bertemu sama wanita yang punya sifat keibuan, lembut, cantik, dan perangainya halus. Kamu pasti jatuh cinta. Itu adalah untuk memenuhi kehausan kasih ibu.
    Ken Arok : Apa jeleknya?
    Mpu Lohgawe : Tidak ada jeleknya. Cuma jangan dijadikan istri. Biarkan seperti ini. Jadilah pemuja rahasia saja. Kamu pengawal kabupaten sehingga bisa setiap hari melihatnya. Tak perlu memilikinya.
    Ken Arok : Aku minta 2 alasan.
    Mpu Lohgawe : Ada sepuluh malah. Tapi oke, akan aku sebut dua.
    Ken Arok : Satu
    Mpu Lohgawe : Satu. Dia sudah punya suami.
    Ken Atok : Dua
    Mpu Lohgawe : Dua dia sedang hamil
    Ken Arok : Tiga
    Mpu Lohgawe : Kamu cuma minta dua.
    Ken Arok : Kamu bilang ada sepuluh, tiga.
    Mpu Lohgawe : Tiga agak panjang. Cintamu padanya adalah kehausan akan kasoh sayang seorang ibu. Sementara sejak kecil kau hidup tanpa ibu. Maka ada kemungkinan kamu menyalahkan ibumu atas ketidakhadirannya dalam hidupmu. Alam bawah sadarmu membenci kata “ibu”. Kembali ke depan cintamu pada Ken dedes adalah kehausan akan ibu. Jadi kamu bisa menjadi seperti schizoprenia. Separuh dirimu mencintainya, separuh dirimu ingin membalas dendam padanya.
    Ken Arok ; Dendam atas apa?
    Mpu Lohgawe : Atas ketidakhadiran ibumu dalam hidup masa kecilmu. Understand?
    Ken Arok : (tersenyum nyengir karena tak bisa mengerti) ah.. mbuuh…
    Hiiii…,hii.. (gemes sambil mengucek-ucek rambutnya).
    Mpu Lohgawe : Rok, sebenarnya apa angan-anganmu.
    Ken Arok : Nggak tahu
    Mpu Lohgawe : Yang kamu tahu saja.
    Ken Arok : Aku ingin jadi raja. Suatu hari harus jadi.
    Mpu Lohgawe : Prabu Kertajaya di Pangjalu, sudah…
    Ken Arok : Stop. Belum selesai…
    Mpu Lohgawe : Apanya?
    Ken Arok : Curhatnya.
    Mpu Lohgawe : oo yaah… tapi ini kopinya habis, sana bikin lagi.
    Ken Arok : Ngakalin! Aku terus. Pingsut.
    Ken Arok kalah Pingsut, dia masuk mengejok kopi. Dari dalam ia melanjutkan curhatnya.
    Ken ARok : Kemaren aku melihat sesuatu yang aneh Pak Dhe Empu.
    Mpu Lohgawe : Di mana
    Ken Arok : Di taman Baboji.
    Mpu Lohgawe : Keanehan apa?
    Ken Arok : Waktu aku ngajarin Ken Dedes naik kuda keliling taman. (muncul lagi) lalu selesai dan aku turun duluan untuk membantu ken Dedes turun dari kuda. Waktu itu, dia mengangkat kakinya dan aku melihat…
    Mpu Lohgawe : Ahh… Ndesoo..!!
    Ken Arok : Sebentar Pak Dhe...
    Mpu Lohgawe : Kamu lihat kulitnya to?
    Ken ARok : Iya
    Mpu Lohgawe : Lihat pahanya to?
    Ken Arok : Iya
    Mpu LOhgawe : Lihat kemaluannya to?
    Ken Arok : Iya
    Mpu LOhgawe : Trus kamu terangsang to?
    Ken Arok : Iya
    Mpu Lohgawe : Lha iya itu namanya Mental Ndesso!
    Ken Arok : Sebentar pak dhe. Waktu itu..
    Mpu Lohgawe : Ra mutu! Kesatria itu ya nggak plotat plotot cari kesempatan nglaba kaya gitu Rok, Rok.
    Ken Arok : Anunya itu bersinar Dhe….
    Mpu Lohgawe terkejut.
    Mpu Lohgawe : Apanya?
    Ken Arok : Kemaluannya bersinar. Sumpah! Aku sampe silau. Dhe…
    Mpu Lohgawe : (mendadak duduk dan menerawang jauh)
    Apa kamu yakin?
    Ken Arok : Sumpah! Itu beneran dhe.
    Mpu Lohgawe : (mengambil sebuah kitab tebal) Di sini disebutkan. Akan ada seorang putri desa yang dianugrahi wahyu. Ia akan menurunkan raja-raja di nusantara. Tanda-tanda wanita itu adalah kewanitaannya bercahaya.

    BalasHapus
  50. BABAK VII

    Rumah Mr. Gardner. Seorang pendatang yang ahli membuat senjata Api. Ken Arok mengambil pistol yang sudah dipesannya.
    Mr gardner : Silahkan duduk Ra Bumi
    Ken Arok : Bagaimana Mister. Apakah pistol pesananku sudah jadi.
    Mr. Gardner : Bukankah sudah aku jelaskan. Aku tidak mau sembarangan mempercepat pengerjaan dengan taruhan kualitas. Di nota kan juga sudah ada tanggal jadinya. 5 tahun setelah pemesanan. Sekarang baru 5 bulan. Goblok!
    Ken Arok : Lho! Mister!, Ini gimana sih?
    Mr. Gardner : Gimana apanya?
    Ken Arok : Aku juga sudah bilang. Aku ga peduli sama bentuk atau ukirannya. Ga perlu dikrom. Warna juga ga pengaruh. Yang pentiing jangkauan dan kecepatan tembak. Itu saja. Aduuhh.. ! sekarang sampai mana
    Mr. Gardner : (memperlihatkan).
    Ken Arok : Aduhh… Ya sudah. Ini aku ambil sekarang.
    Mr. Gardner : Coba dulu.
    Ken Arok : Tentu saja. Dan kepalamu yang akan dibuat percobaan.
    Mr. gardner : Ra Bumi... Apa-apaan ini?.
    Ken Arok : Ini teguran untuk maen-maen sama Ra Bumi !!
    Kamu pikir kamu siapa Ha! Jagoan?! Ya? Bisa bikin pistol trus sembarangan sama orang?!
    Mr. Gardner : Pistol itu belum punya karakter. Kalo kau nekat membawanya. Dia akan mendorongmu menjadi rakus…
    Ken Arok : Hhahaha.. ada pistol bisa bikin aku rakus… oo jadi dia ini cacing perut, atau obat perangsang?
    Mr. gardner : Terserah apa katamu. Pistol itu…
    (ken Arok keburu menembaknya. Bahunya tertembus)
    Mr. Gardner : Ra Bumi! Dengar anak muda brengsek! Aku bersumpah.
    Siapa menabur perbuatan, akan menabur kebiasaan
    Menabur kebiasaan, akan menuai karakter
    Menabur karakter menuai nasib
    Ken Arok : Hua..ha..ha.. Tukang pistol seperti kamu, paham kata-kata itu? Jadi kamu penganut 7 habbit of higly effective people. Terimakasih telah mengingatkan aku. Aku harus menjadi efektif people. Huh.. (ken Arok menembak kepala Gardner)
    Mr. Gardner : (bangkit lagi setelah terjatuh) Baiklah.. kau sendiri yang memanggil nasib buruk. Kelak kau akan mati oleh pistol itu. Dan 7 raja akan mengalaminya (gardner mati)

    BalasHapus
  51. Nama : Amanda Rizky
    Kelas : XI IPA 6
    Nomor absent : 03

    ASAL MULA LOMBA BIDAR

    Lomba bidar adalah lomba mendayung perahu yang dinamai ‘bidar’. Seni ini sudah ada sejak dahulu kala.

    Konon,menurut cerita lomba bidar bermula dari peristiwa Putri Dayang Merindu. Seorang gadis cantik jelita yang tinggal di hulu kota Palembang. Ia adalah anak tunggal,dari ayah yang bernama Syah Denar. Syah Denar memiliki teman sekampung yang sama-sama seorang saudagar bernama Tuan Andil yang memiliki anak bernama Dewa Jaya,yang merupakan teman sejak kecil Dayang Merindu.

    Beranjak dewasa,Dewa Jaya dikirim orang tuanya ke beberapa negeri lain untuk menuntut ilmu bela diri. Bertahun-tahun menuntut ilmu,akhirnya ia kembali pulang.

    BABAK I
    Dewa Jaya : (mengetuk pintu rumah Dayang Merindu)..”Assalamualaikumm..”
    Dayang Merindu : “Wa’alaikum salam..eh,kang Dewa…Kapan kembali pulang ke sini?”
    Dewa Jaya : “Barusan kemarin, akang pulang…”
    Dayang Merindu : “Oh..Silahkan masuk,kang…saya sudah tidak sabar ingin mendengar cerita atas perjalanan akang…”(mengajak Dewa Jaya masuk)

    Terjadilah percakapan hangat antara Dewa Jaya dan Dayang Merindu. Sepulangnya dari rumah Dayang merindu,Dewa Jaya mengutarakan maksud ingin melamar Dayang Merindu menjadi istrinya,kepada ayah ibunya. Ayah ibunya langsung setuju dan esoknya,pergi ke rumah Dayang Merindu,membicarakan perkawinan yang dimaksud. Naming,begitu ditanya demikian, Dayang Merindu langsung menolak dengan halus maksud Tuan Ali dan istrinya itu.

    Dayang Merindu : “mohon ampun pada ayah dan bunda. Belum tersirat rasa cinta di hati saya terhadapnya. Oleh karena itu,saya belum mau mengatakan bersedia menjadi istrinya. Namun, saya tidak akan durhaka pada orang tua”

    Syah Denar dan istrinya berpendapat,mungkin karena Dayang Merindu baru berusia Sembilan belas tahun,belum ada hasrat bercintaan dengan pemuda. Ketika Tuan Adil dating melamar, Syah Denar menerimanya sebagai ikatan pertunangan.

    BalasHapus
  52. BABAK II

    Sementara itu,di hilir sungai musi, ada seorang pemuda bernama Kemala Negara,anak keluarga petani miskin di tepi sungai musi. Selama merantau mencari nafkah ke negeri lain,dia banyak belajar ilmu bela diri. Pada suatu hari,kemala Negara berenang bersama teman-temannya di sungai musi, saat mereka melihat sebuah cawan tembaga kecil hanyut terapung di tengah sungai. Mereka pun mengambilnya.

    Teman 1 : “biasanya cawan dan bunga serta minyak yang wangi seperti ini adalah bahan keramas cuci rambut wanita”
    Kemala Negara : “Benar. Apakah sebabnya benda seanggun dan semahal ini hanyut?mungkin ada pria jahat yang mengganggu wanita yang sedang keramas itu. Kita harus mengembalikannya”
    Teman 2 : “Benar,coba lah kau cari siapa pemiliknya, Kemala..mana tahu nasib baik, pemiliknya seorang gadis cantik. Sepadan dengan engkau..”

    Kemala Negara setuju dengan pendapat temannya. Disimpannya cawan itu tanpa mengusik isinya. Hari itu juga, dia sendiri berperahu menghulu ke sungai musi.
    Dua hari berperahu menghulu,terus bertanya dan bersua dengan seorang gadis yang sedang mengambil air. Gadis itu tersenyum menjawab,ssat ditanyai pemilik cawan tersebut.

    Gadis : “Benar,tuan muda. Ini cawan keramas milik temanku. Namanya adalah dayang merindu. Tiga hari yang lalu,kami mandi beramai-ramai. Dia keramas mencuci rambutnya. Diletakannya cawan ini di rakit dan kami mandi bermain simbur-simburan. Dia sangat risau karena cawannya hanyut”
    Kemala Negara : “ Terima kasih..tolong Adik kembalikan padanya..”
    Gadis : “Tuan muda sendirilah yang mengembalikannya. Itu rumahnya di hulu siu. Pasti dia sangat berterima kasih pada tuan..”
    Kemala Negara : “ah..tolonglah adik yang kembalikan..saya khawatir nanti dia mengira cawannya saya yang ambil..”
    Gadis : (tersenyum)..”Tidak,Tuan uda. Dayang Merindu adalah gadis paing cantik di kampong ini. Sangat rendah hati dan ramah. Tuan muda sudah menemukan dan dua hari berturyt-turut mengantarkannya ke sini.
    Kemala Negara : “Tolonglah, dik..”
    Gadis : (tertegun)..”baiklah..sebentar lagi saya akan ke rumahnya. Kami akan mandi ramai-ramai petang ini. Nanti saya akan menceritakan semua kepadanya. Tuan muda tunggu kami di tepi semak jalan tepian mandi. Serahkan langsung padanya”

    Kemala Negara menyetujuinya.

    BalasHapus
  53. BABAK III
    Kemala Negara menunggu seperti yang gadis tadi suruh. Ketika dilihatnya gadis tadi dating bersama empat gadis,dapatlah dia menduga yang mana gerangan Dayang Merindu. Ketika saling pandang dari jarak yang jauh dengan Kemala Negara, pertama kali dalam hidupnya,Dayang merindu merasakan debaran jantungnya berdebar tidak karuan. Ia kagum akan Kemala Negara yang bertubuh kekar dan tampan. Kemala Negara membungkuk tanda hormat. Dayang merindu langsung berujar

    Dayang Merindu : “ temanku ini sudah menceritakan semuanya. Alangkah tingginya baik budi tuan, telah menemukan dan bersusah payah mengembalikannya pada saya. Bagaimana saya bisa berterima kasih?”
    Kemala Negara : “ Maaf, puteri jelita..terimalah cawan ini..saya ikhlas mengembalikannya pada pemiliknya kembali..apalagi,pemiliknya seorang gadis cantin nan jelita seperti mu..”
    Dayang Merindu : (tersipu malu)..”ah, tuan ini bisa saja..panggil saja saya Dayang Merindu”
    Kemala Negara : “Nama saya Kemala Negara..panggil saja saya Kemala..”

    Keduanya saling merasakan api cinta pertama yang bergelora dalam dada.
    Dayang Merindu : “Saya ingin mandi bersama teman-teman saya..Bolehkah kita bersua lagi?”
    Kemala Negara : “ Saya juga ingin berkata begitu. Saya akan menunggu di jalan ini..setelah Engkau selesai mandi..”
    Mereka pun berjanji dalam hatinya masing-masing.

    BalasHapus
  54. BABAK IV

    Kemala Negara dan Dayang Merindu menjadi akrab sekalia, dan mereka saling mencintai satu sama lain. Tiga hari lamanya kemala Negara berada di kampong itu. Begitu pulang ke kampungnya, ia langsung mengatakan keinginannya untuk memperistri Dayang Merindu kepada kedua orang tuanya. Tapi, begitu orang tua Kemala Negara dating melamar Dayang merindu..Namun,alangkah kecewanya mereka, ketika Syah Denar menolak lamaran mereka dengan alasan Dayang Merindu sudah dipertunangkan dengan Dewa Jaya.
    Kemala Negara sangat marah pada Dewa Jaya. Didatanginya kediaman Dewa Jaya.

    Kemala Negara : “HAI DEWA JAYA!!KELUAR KAU!!
    Dewa Jaya : (keluar dari rumah)..”ada apa teriak-teriak?
    Kemala Negara : :AKU MENANTANG ENGKAU BERTANDING!!SATU LAWAN SATU..JIKA KAU KALAH, DAYANG MERINDU AKAN MENJADI MILIKKU,DAN JIKA AKU KALAH,KAU BEBAS MEMILIKI DAYANG MERINDU!!

    Dewa Jaya setuju karena ia begitu mencintai Dayang Merindu dari kecil. Diumumkanlah ke seluruh kampong akan diadakan pertandingan. Seluruh penduduk pun berkumpul menyaksikan. Hanya Dayang Merindu yang tak mau keluar rumah. Dia cemas kalau Kemala Negara kalah.
    Setengah hari penuh,diadakanlah pertandingan pencak silat. Ternyata,tak ada yang kalah. Oleh karena itu, datuk desa memutuskan, pertandingan dialihkan ke peretandingan bidar,salah satu pertandingan yang merupakan keramat bagi desa itu. Siapa yang lebih dahulu sampai finish,dial ah yang menang,dan berhak menjadi suami Dayng merindu.
    Pada hari yang ditentukan,seluruh penduduk menyaksikan di tepi sungai musi. Kedua pemuda itu mendapat sebuah perahu kecil,lenmgkap dengan dayungnya. Seluruh penduduk berdebar-debar menyaksikan siapa yang menang. Namun, ketika Kemala Negara dan Dewa Jaya bersamaan masuk finish, mereka terkapar di perahu masing-masing. Ketika di temui, mereka sudah tidak bernyawa lagi.

    BalasHapus
  55. BABAK V

    Mendengar berita akan tewasnya kedua pemuda itu, dayang merindu langsung meninggalkan rumahnya dan menuju pendopo, tempat mayat Kemal Negara dan Dewa Jaya dibaringkan. Dayang Merindu langsung berkata pada datuk yang duduk di kursi kehormatan dekat kedua mayat tersebut.

    Dayang Merindu : “ saya dan Kemala Negara saling mencintai. Akan tetapi, saya juga tahu bahwa Dewa Jaya juga mencintai saya.. maka saya ingin berlaku adil untuk keduanya. Saya mohon pada datuk untuk membelah tubuh saya menjadi dua. Yang sebelah, mohon dikuburkan bersama Kemala Negara, dan sebelahnya lagi dikuburkan bersama Dewa Jaya..”

    Para hadirin dan datuk tercengang pada Dayang Merindu. Sebelum semuanya sempat berkata apa-apa, Dayang merindu menusukkan sebilah pisau yang sudah dilumuri racun ke dada nya dan mati seketika.
    Konon, para penduduk setempat sangat menghormati Dayang merindu yang sudah berlaku adil pada orang yang dicintainya dan mencintainya. Mereka mengadakan acara untuk memperingti Dayang merindu, dan acara tersebut dinamakan lomba bidar.

    TAMAT

    BalasHapus
  56. Nama : Adriana Wijaya
    Kelas : XIP6
    No : 1

    Riwayat Pulau Paku


    Konon, tersebutlah riwayat perkawina Opu Daeng Celak Yang Dipertuan Muda Riau II, dengan Tengku Mandak saudara perempuan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah. Bertempat di istana Dalam Besar kota lama Ulu Bintan. Terlalu ramilah jemputan mudik ke hulu, meyaksikan pertunjukan kesenian, memriahkan malam perkawinan putri raja orang berbangsa itu. bergendang-beregung, tandak-joget wayang topeng menari, sembilan puluh malam lamanya.
    Riuh-rendah suara orang ebrsuka-ria di istana Ulu Bintan itu sehingga terdengar hingga ke hilir sungai, muara teluk Bintan. Di situlah pula perahu dan smapan hilir mudik. Ada yang datang dan ada pula yang menyeberang pulang ke kampung halamannya. Kaum bangasawan di istana pun lalu-lalang dari Bintan ke bandar Singapura, untuk berebelanja perlengakapan pesta dan juga berbeli-belah. Emas-perak pakaian pengantin silih berganti, baik mempelai perempuan maupun mempelai laki-lakinya.
    Ketika itu pula menurut yang empunya cerita, seangkatan perampok Lanun sedang menunggu-nunggu mangsa rompakannya di perairan barat Pulau Bintan. Mereka bersiap-siap mencegat setiap perahu tumpangan orang, baik yang akan ke udik memenuhi undangan raja maupun ke ilir kembali ke tempat perhelatan besar itu.
    “Mereka pasti memakai perhiasan emas-perak, intan-berlian.” kata kepala rombak kepada para pengikutnya, Lanun ganas sedang meraja-lela di laut dan selat-melat pada masa sezaman.
    “Yeak, itulah tambang emas kita, heh-huuui...” perampok Lanun itu bersorak-sorak. “Kita akan dapat durian runtuh... heh-huuui,” jerit mereka bila malam tiba.
    Konon, disuatu malam, untuk menyambanag dan mengintai orang keluar-masuk dilingkungan Teluk Pulau Bintan itu, perahu perampok Lanun itu berlabuh di beting pasir antara Teluk Keriting dan Pulau Penyengat.

    BalasHapus
  57. “Yah, hui,” mereka berada di atas angin, tidak ada seorang pun yang ebrani menghalangai niatnya. Dan memang benar, ketika itu pula kelihatan sebuah perahu pencalang masuk ke Teluk Bintan melewati alur pualu Los, dari arah Galang. Perahu kenaikan Orang Kaya Mepar yang datang dari Daik-Lingga, hendak mengudik ke Ulu Bintan. Karena air tohor untuk ke udik tengah malam, maka sementara menunggu pasang naik di waktu subuh. Berlabuhlah perahu Orang Kaya Mepar itu di pasir Beting berdekatan perahu perampok Lanun yang sedari tadi menunggu disitu.
    “Ohoi sahabat! Panggil kepala rampok. “Bolehkah kami minta api?” katanya berpura-pura. “Hendak memasak air tetapi tidak punya api di perahu kami ini.”
    “Silahkan himpit ke perahu kami, sahabat,” sahut Orang Kaya Mepar. “Sekedar emminta api apa salanhya. Kemarilah.”
    “Husy... ada rezeki, cepat himpit ke perahu yang berlabuh itu, bsiik kepala perampok. Para Lanun itupun memindahkan labuhan perahunya langsung menghimpit ke perahu Orang Kay Mepar.
    “Apa memang sebenarnya, Tuan datang selaku sahabat?” tanya Orang Kaya Mepar tatkala melihat perahu orang meminta api untuk memasak air itu merapat. “Benarkah datangs elaku sahabat?”
    “Ya kami datang selaku sahabat,” sahut kepala rompak Lanun, seraya naik ke perahu Orang Kaya Mepar. “Yeak, datang kami selaku sahabat Orang Kaya.”
    “Kalau datang selaku sahabat, kenapa Tuan-tuan bersuluhkan ulu keris?” tanya Orang Kaya Mepar pula. “Ehm, elok nian adat Tuan.”
    “Yeak, minta api,” kepala rompak tertawa menyeringai, terkekeh-kekeh. “Hah-hah... minta api,” ia berkata seraya memilin-milin kumisnya. Bibirnya tebal di bawah kumis melenting kasar, bengis kelihatannya.
    Tukang masah di perahu Orang Kaya Mepar jadi ketakutan, dan dengan tangan menggil ia menununjuk bara api yang sedang menyala setempurung.
    “Ini Tuan,” katanya dengan hormat.
    “Iyuh!” kepala rompak meraup bara api dalam tempurung itu, dingin-dingin saja kelihatannya. Bara api itu pun padam di telapak tangannya.
    “Heh-heh...hiuuuh!” Lanun itu semakin kasar, bangga dengan kekebelan tahan api. “Ehm..dinhin ya, api Orang Kaya?”
    Orang Kaya Mepar Cuma tersenyum, mengangguk-angguk hormat. Kepala rompak semakin kasar, akrena menyangka sosok di hadapannya itu takut padanya.
    “Yeak, kami hendak makan sirih,” kata Lanun itu.
    “Tak punya sirih,” sahut Orang Kaya Mepar.

    BalasHapus
  58. “Tak sirih, minta bakik!” segah Lanun semakin beringas. “Ehm, kami hendak makan bakik!” ia menyeringai.
    “Nah...ini bakik di negeri kami,” sahut Orang Kaya Mepar seraya menyerahkan paku kasar, tiga batang banyaknya.
    “Ini bakik orang Lingga, makanlah.” Orang Kaya Mepar menyilakan kepala rompak itu mengunyah paku yang disuguhkan. “Silakan.”
    Kepala rompak terperangah. Agak gugup ia minta gubik sirih. “Minta gubik. Ehm...minta gubik,”suaranya tertelan-telan gugup.
    “Ini gubik kami orang riuh-riau.” kata Orang Kaya Mepar seraya mengunyah-ngunyah paku senggengam di tangannya. “Grup...graaap-griiip...,” hingga paku itu hancur, lumat dalam mulut Orang Kaya Mepar.
    “Minta ampun....,” pekik kepala rompak Lanun ketakutan, ketika melihat kekuatan Orang Kaya Mepar sedang menguyah paku itu.
    “Berangkat...ohoui....” jerit segala Lanun, dan tiga abtang paku ditangan rompak itu pun langsung terlepas. Semua jatuh ke beting pasir tempat perahu-sampan itu berlabuh.
    “Sumpah, tujuh keturunan, kami tak hendak ke negeri riuh-riau...,” jerit segala Lanun seraya berkayuh, melayari perahunya ke tengah laut. “Huk-hak..hu-hak...hu-hak kabilak ampuk!”
    Sejak itulah beting karang berpasir antara Pulau Penyengat dan Binatn itu disebut Pulau Paku. Pulau yang timbul sebatas permukaan laut ditumbuhi dua-tiga batang pokok perepat, terkadang gundul sama sekali tergantung pada musim. Masyarakat nelayan di lingkungan itu menandainya sebagai beting pasir bertuah. Pulau paku dijadikan pertanda zaman kemenangan.

    BalasHapus
  59. Naskah Drama Riwayat Pulau Paku

    Babak 1
    Dahulu kala, hidupalah Opu Daeng Celak , Raja Muda Riau II. Suatu hari, ia meminta izin kepad ibunya untuk mepersunting Tengku Mandak.
    Opu Daeng Celak : “Ibunda, adina ingin memperkenalkan calon istri adinda.”
    Ratu : “Siapa dia? Kenapa adinda tidak pernah memperkenalkan kepada ibunda sebelumnya?
    Opu Daeng Celak : “Maafkan adinda. Adinda terlalu takut untuk memperkenalkannya.”
    Ratu : “Mengapa? Apakah dia tidak pantas untuk ibunda kenal?”
    Opu Daeng Celak : “Tentu tidak. Adinda hanya takut hubungan kami tidak berjalan lama. Maafkan adinda, ibunda”
    Ratu : “Baiklah, ibunda maafkan. Siapa gadis cantik itu?”
    Opu Daeng Kelak : “Perkenalkan ibunda, dia Tengku Mandak, saudara perempuan Sultan
    Sulaiman Badrul Alam Syah.”
    Tengku Mandak : “Perkenalkan ibunda, saya Tengku Mandak.”
    Ratu : “Senang mengenal adinda.”
    Tengku Mandak : “Terima kasih ibunda.”
    Opu Daeng Kelak : “Ibunda, bolehkan saya memeperistri Tengku Mandak?”
    Ratu : “Tentu boleh. Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah berasal dari keluarga terpandang dan berpendidikan.”
    Opu Daeng Kelak : “Terima kasih ibunda.”
    Tengku Mandak : “Ibunda, adinda permisi pulang.”
    Ratu : “Hati-hati dijalan.”

    Babak 2
    Setelah Tengku Mandak pulang, Opu Daeng Kelak dan Ratu membicarakan persiapan melamar Tengku Mandak.
    Opu Daeng Kelak : “Ibunda, kapan ibunda akan mempersunting Tengku Manda untuk adinda.”
    Ratu : “Tiga hari lagi. Ibunda akan mempersiapkan semuanya terlebih dahulu untuk mempersunting Tengku Mandak.”
    Opu Daeng Kelak : “Baiklah. Apakan ada yang bisa adinda bantu.”

    BalasHapus
  60. Ratu : “Tidak, ibunda akan mempersiapkannya sendiri. Pelayan.”
    Pelayan : “Ada apa ratu?”
    Ratu : “Tiga hari lagi, saya akan melamar Tengku Mandak untuk Tuan Muda. Siapkan semuanya!”
    Pelayan : “Baik ratu.”

    Babak 3
    Sejak itu, istanapun menjadi sibuk. Semua orang mempersiapkan segala sesuatu untuk melamar Tengku Mandak. Tiga hari pun berlalu tanpa terasa. Hari ini, tibalah saat untuk me;amar Tengku Mandak.
    Ratu : “Sultan Sulaiman, saya hendak melawar adik Anda untuk putra saya.”
    Sultan Sulaiman : “Hamba senang dengan lamaran ini. Tapi semuanya tetap ada ditangan
    adik hamba. Bagimana dinda?”
    Tengku Mandak : “Dinda setuju kakanda. Apakah kakanda mengizinkan?”
    Sultan Sulaiman : “Tentu saja dinda. Jika itu memang membuat dinda senang.”
    Ratu : “Baiklah, kita tentukan hari baiknya.”
    Sultan Sulaiman : “Hamba terserah pada ratu. Tentulah ratu akan mencari hari yang terbaik.”
    Ratu : “Baiklah, saya telah mencari ahri baik. Hari itu satu minggu dari sekarang. Apakah kalian semua setuju?”
    Sultan Sulaiman : “Hamba setuju. Bagaimana Tuan Muda dan dinda?”
    Opu Daeng Kelak : “Saya juga setuju.”
    Tengku Mandak : “Dinda juga setuju kakanda.”

    Babak 4
    Pernikahan Opu Daeng Kelak dengan Tengku Mandak diselenggarak besar-besaran selama sembilan puluh malam. Keluarga dari mempelai pria maupun manita banyak yang hilir mudik ke Singapura untuk membeli baju dan perhiasan. Kemeriahan pesta pernikahan itu, terdengar hingga ke hilir dungai, muara teluk Bintan. Di situ, terdapat perampok yang hendak merampok.
    Perampok 1 : “Terdengar kabar, keluarga mempelai hilir mudik ke Singapura. Kita akan mencari waktu yang tepat untuk merampok.”

    BalasHapus
  61. Perampok 2 : “Saya menurut saja pada kakak. Kakak lebih berpengalaman.”
    Perampok 3 : “Saya juga demikian.”
    Perampok 1 : “Baiklah. Kita harus mengawasi mereka dari sini.”

    Babak 5
    Setelah menunggu cukup lama, akhirnya para perampok itu menemukan kesempatan untuk menjalankan aksinya.
    Perampok 1 : “Lihat, mereka sedang menepi. Cepat dekati mereka! Saya akan berpura-pura meminta api.”
    Perampok 3 : “Baiklah.”
    Perampok 1 : “Ohoi sahabat, bolehkah kami minta api. Hendak memasak air tetapi tidak punya api di perahu kami.”
    Orang Kaya Mepar: “Silahkan himpit ke perahu kami. Sekedar meminta api apa salahnya. Kemarilah!”
    Perampok 1 : “Cepat himpit.”
    Perampok 2 : “Mangsa sudah di depan mata.”
    Perampok 3 : “Benar, kita tinggal menunggu saat yang tepat.”

    Babak 6
    Perahu perampok segera mendekati perahu Orang Kaya Mepar. Mereka dilayani dengan baik oelh Orang Kaya Mepar. Hal ini membuat perampok besar kepala.
    Tukang Masak : “Tuan, hamba memiliki firasat tidak baik dengan mereka.”
    Orang Kaya Mepar: “Tenang, ada Tuan disini. Benarkah Tuan datang selaku sahabat?”
    Perampok 1 : “Benar.”
    Orang Kaya Mepar: “Kalau Tuan datang selaku sahabat, mengapa Tuan bersuluhkan ulu-keris? Elok niat adat Tuan.”
    Perampok 1 : “Oh ini memang biasa kami pakai.”
    Tukang Masak : “Tuan, silahkan ambil apinya.”
    Perampok 1 : “Api orang kaya begitu dingin.”
    Tukang Masak : “Maaf, mengapa Tuan matikan apinya? Apakah tangan Tuan tidak panas?”

    BalasHapus
  62. Nama : Sylvia chandra
    Kelas : XI P 6
    No. : 43

    Batu Menangis

    Legenda Rakyat Kalimantan.

    Darmi memandangi wajahnya lewat cermin yang tergantung di dinding kamarnya.
    “Ah aku memang jelita,” katanya. “Lebih pantas bagiku untuk tinggal di istana raja daripada di gubuk reot seperti ini.”
    Matanya memandang ke sekeliling ruangan. Hanya selembar kasur yang tidak empuk tempat dia tidur yang mengisi ruangan itu. Tidak ada meja hias yang sangat dia dambakan. Bahkan lemari untuk pakaian pun hanya sebuah peti bekas. Darmi mengeluh dalam hati.

    Darmi memang bukan anak orang kaya. Ibunya hanya seorang janda miskin. Untuk menghidupi mereka berdua, ibunya bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam. Pekerjaan apapun dia lakukan. Mencari kayu bakar di hutan, menyabit rumput untuk pakan kambing tetangga, mencucikan baju orang lain, apapun dia kerjakan untuk bisa memperoleh upah. Sebaliknya Darmi adalah anak yang manja. Sedikit pun dia tidak iba melihat ibunya bekerja keras sepanjang hari. Bahkan dengan teganya dia memaksa ibunya untuk memberinya uang jika ada sesuatu yang ingin dibelinya.
    “Ibu, ayo berikan uang padaku! Besok akan ada pesta di desa sebelah, aku harus pergi dengan memakai baju baru. Bajuku sudah usang semua,” katanya.
    “Nak, kemarin kan kau baru beli baju baru. Pakailah yang itu saja. Lagipula uang ibu hanya cukup untuk makan kita dua hari. Nanti kalau kau pakai untuk membeli baju, kita tidak bisa makan nak!” kata ibunya mengiba.
    “Alah itu kan urusan ibu buat cari uang lagi. Baju yang kemarin itu kan sudah aku pakai, malu dong pakai baju yang itu-itu lagi. Nanti apa kata orang! Sudahlah ayo berikan uangnya sekarang!” kata Darmi dengan kasar.
    Terpaksa sang ibu memberikan uang yang diminta anaknya itu. Dia memang sangat sayang pada anak semata wayangnya itu.

    Begitulah, hari demi hari sang ibu semakin tua dan menderita. Sementara Darmi yang dikaruniai wajah yang cantik semakin boros. Kerjaannya hanya menghabiskan uang untuk membeli baju-baju bagus, alat-alat kosmetik yang mahal dan pergi ke pesta-pesta untuk memamerkan kecantikannya.

    Suatu hari Darmi meminta ibunya untuk membelikannya bedak di pasar. Tapi ibunya tidak tahu bedak apa yang dimaksud.
    “Sebaiknya kau ikut saja ibu ke pasar, jadi kau bisa memilih sendiri,” kata ibunya.
    “Ih, aku malu berjalan bersama ibu. Apa kata orang nanti. Darmi yang jelita berjalan dengan seorang nenek yang kumuh,” katanya sambil mencibir.
    “Ya sudah kalau kau malu berjalan bersamaku. Ibu akan berjalan di belakangmu,” ujar ibunya dengan sedih.
    “Baiklah, ibu janji ya! Selama perjalanan ibu tidak boleh berjalan di sampingku dan tidak boleh berbicara padaku!” katanya.
    Ibunya hanya memandang anaknya dengan sedih lalu mengiyakan.

    BalasHapus
  63. Akhirnya mereka pun berjalan beriringan. Sangat ganjil kelihatannya. Darmi terlihat sangat cantik dengan baju merah mudanya yang terlihat mahal dan dibelakangnya ibunya yang sudah bungkuk memakai baju lusuh yang penuh tambalan. Di tengah jalan Darmi bertemu dengan teman-temannya dari desa tetangga yang menyapanya.
    “Hai Darmi, mau pergi kemana kau?” sapa mereka.
    “Aku mau ke pasar,” jawab Darmi.
    “Oh, siapa nenek yang di belakangmu itu? Ibumu?” tanya mereka.
    “Oh bukan! Bukan!. Mana mungkin ibuku sejelek itu. Dia itu cuma pembantuku,” sahut Darmi cepat-cepat.
    Betapa hancur hati ibunya mendengar anak kesayangannya tidak mau mengakuinya sebagai ibunya sendiri. Namun ditahannya rasa dukanya di dalam hati.

    Kejadian itu berulang terus menerus sepanjang perjalanan mereka. Semakin lama hati si ibu semakin hancur. Akhirnya dia tidak tahan lagi menahan kesedihannya. Sambil bercucuran air mata dia menegur anaknya.
    “Wahai anakku sebegitu malunyakah kau mengakui aku sebagai ibumu? Aku yang melahirkanmu ke dunia ini. Apakah ini balasanmu pada ibumu yang menyayangimu?”
    Darmi menoleh dan berkata, “Hah aku tidak minta dilahirkan oleh ibu yang miskin sepertimu. Aku tidak pantas menjadi anak ibu. Lihatlah wajah ibu! Jelek, keriput dan lusuh! Ibu lebih pantas jadi pembantuku daripada jadi ibuku!”
    Usai mengucapkan kata-kata kasar tersebut Darmi dengan angkuh kembali meneruskan langkahnya.

    Ibunya Darmi sambil bercucuran air mata mengadukan dukanya kepada Tuhan. Wajahnya menengadah ke langit dan dari mulutnya keluarlah kutukan, “Oh Tuhanku! Hamba tidak sanggup lagi menahan rasa sedih di hatiku. Tolong hukumlah anak hamba yang durhaka. Berilah dia hukuman yang setimpal!”

    Tiba-tiba langit berubah mendung dan kilat menyambar-nyambar diiringi guntur yang menggelegar. Darmi ketakutan dan hendak berlari ke arah ibunya. Namun dia merasa kakinya begitu berat. Ketika dia memandang ke bawah dilihatnya kakinya telah menjadi batu, lalu kini betisnya, pahanya dan terus naik ke atas. Darmi ketakutan, dia berteriak meminta pertolongan pada ibunya. Tapi ibunya hanya memandangnya dengan berderai air mata.

    “Ibu, tolong Darmi bu! Maafkan Darmi. Aku menyesal telah melukai hati ibu. Maafkan aku bu! Tolong aku…” teriaknya. Ibu Darmi tidak tega melihat anaknya menjadi batu, tapi tidak ada yang bisa dilakukannya. Nasi sudah menjadi bubur. Kutukan yang terucap tidak bisa ditarik kembali. Akhirnya dia hanya bisa memeluk anaknya yang masih memohon ampun dan menangis hingga akhirnya suaranya hilang dan seluruh tubuhnya menjadi batu.

    (SELESAI)

    BalasHapus
  64. Perampok 1 : “Tentu tidak. Sudah biasa bagi kami. Minta sirih. Kami ingin makan.”
    Orang Kaya Mepar: “Tak punya sirih.”
    Perampok 1 : “Tak sirih, minta bakik.”
    Orang Kaya Mepar: “Pelayan, ambilkan bakik.”

    Babak 7
    Pelayan segera menyiapkan bakik khas negeri Riuh-Riau. Bakik itu bukan sirih, melainkan paku. Perampok terkejut melihat bakik paku dimakan dengan renyah oelh Orang Kaya Mepar. Mereka ketakukan dan melarikan diri.
    Orang Kaya Mepar: “Ini bakik di negeri kami.”
    Perampok 1 : “Minta gubik sirih.”
    Orang Kaya Mepar: “Tidak ada. Ini lah gubik orang Lingga. Makanlah!”
    Perampok 2 : “Kak, sebaiknay kita segera pergi.”
    Perampok 1 : “Ampun. Cepat kabur.”

    Babak 8
    Perampok 2 segera mengkayuh perahu. Paku yang dipegang perampok 1 terjatuh di beting pasir. Sejak itu, para perampok itu tidak datang lagi ke Riau.
    Perampok 1 : “Sumpah, tujuh keturunan, kami tak hendak ke negeri riuh-riau.”
    Perampok 2 : “Benar. Mereka kelihatannya ramah, ternyata mereka lebih benggis daripada kita.”
    Perampok 1 : “Harta belum dapat, kita justru ketemu mereka.”
    Perampok 3 : “Sudah, sudah. Untung saja nyawa kita masih selamat.”
    Sejak itulah beting karang berpasir antara Pulau Penyengat dan Binatn itu disebut Pulau Paku. Pulau yang timbul sebatas permukaan laut ditumbuhi dua-tiga batang pokok perepat, terkadang gundul sama sekali tergantung pada musim. Masyarakat nelayan di lingkungan itu menandainya sebagai beting pasir bertuah. Pulau paku dijadikan pertanda zaman kemenangan.

    BalasHapus
  65. Nama : Fifin Sunarlie
    Kelas : XI P 6 / 17

    KISAH LORO JONGRANG

    Alkisah, pada dahulu kala terdapat sebuah kerajaan besar yang bernama Prambanan. Rakyatnya hidup tentram dan damai. Tetapi, apa yang terjadi kemudian? Kerajaan Prambanan diserang dan dijajah oleh negeri Pengging. Ketentraman Kerajaan Prambanan menjadi terusik. Para tentara tidak mampu menghadapi serangan pasukan Pengging. Akhirnya, kerajaan Prambanan dikuasai oleh Pengging, dan dipimpin oleh Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso seorang yang suka memerintah dengan kejam. "Siapapun yang tidak menuruti perintahku, akan dijatuhi hukuman berat!", ujar Bandung Bondowoso pada rakyatnya.

    Bandung Bondowoso adalah seorang yang sakti dan mempunyai pasukan jin. Tidak berapa lama berkuasa, Bandung Bondowoso suka mengamati gerak-gerik Loro Jonggrang, putri Raja Prambanan yang cantik jelita sedang berjalan seorang diri di hutan. "Cantik nian putri itu. Aku ingin dia menjadi permaisuriku," pikir Bandung Bondowoso.

    Esok harinya, Bondowoso mendekati Loro Jonggrang yang berada didalam istananya. "Kamu cantik sekali, maukah kau menjadi permaisuriku ?", Tanya Bandung Bondowoso kepada Loro Jonggrang. Loro Jonggrang tersentak, mendengar pertanyaan Bondowoso. "Laki-laki ini lancang sekali, belum kenal denganku langsung menginginkanku menjadi permaisurinya", ujar Loro Jongrang dalam hati. "Apa yang harus aku lakukan ?". Loro Jonggrang menjadi kebingungan. Pikirannya berputar-putar. Jika ia menolak, maka Bandung Bondowoso akan marah besar dan membahayakan keluarganya serta rakyat Prambanan.

    Untuk mengiyakannya pun tidak mungkin, karena Loro Jonggrang memang tidak suka dengan Bandung Bondowoso. "Bagaimana, Loro Jonggrang ?" desak Bondowoso. Akhirnya Loro Jonggrang mendapatkan ide. "Saya bersedia menjadi istri Tuan, tetapi ada syaratnya," Katanya. "Apa syaratnya? Ingin harta yang berlimpah? Atau Istana yang megah?". "Bukan itu, tuanku, kata Loro Jonggrang. Saya minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah. "Seribu buah?" teriak Bondowoso. "Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu semalam." Bandung Bondowoso menatap Loro Jonggrang, bibirnya bergetar menahan amarah.

    Sejak saat itu Bandung Bondowoso berpikir bagaimana caranya membuat 1000 candi. Akhirnya ia bertanya kepada penasehatnya. "Saya percaya tuanku bisa membuat candi tersebut dengan bantuan Jin!", kata penasehat. "Ya, benar juga usulmu, siapkan peralatan yang kubutuhkan!" Setelah perlengkapan di siapkan. Bandung Bondowoso berdiri di depan altar batu. Kedua lengannya dibentangkan lebar-lebar. "Pasukan jin, Bantulah aku!" teriaknya dengan suara menggelegar. Tak lama kemudian, langit menjadi gelap. Angin menderu-deru. Sesaat kemudian, pasukan jin sudah mengerumuni Bandung Bondowoso. "Apa yang harus kami lakukan Tuan ?", tanya pemimpin jin. "Bantu aku membangun seribu candi," pinta Bandung Bondowoso. Para jin segera bergerak ke sana kemari, melaksanakan tugas masing-masing.

    Dalam waktu singkat bangunan candi sudah tersusun hampir mencapai seribu buah. Sementara itu, diam-diam Loro Jonggrang mengamati dari kejauhan. Ia cemas, mengetahui Bondowoso dibantu oleh pasukan jin. "Wah, bagaimana ini?", ujar Loro Jonggrang dalam hati. Ia mencari akal. Para dayang kerajaan disuruhnya berkumpul dan ditugaskan mengumpulkan jerami. "Cepat bakar semua jerami itu!" perintah Loro Jonggrang. Sebagian dayang lainnya disuruhnya menumbuk lesung. Dung... dung...dung! Semburat warna merah memancar ke langit dengan diiringi suara hiruk pikuk, sehingga mirip seperti fajar yang menyingsing.

    BalasHapus
  66. Pasukan jin mengira fajar sudah menyingsing. "Wah, matahari akan terbit!" seru jin. "Kita harus segera pergi sebelum tubuh kita dihanguskan matahari," sambung jin yang lain. Para jin tersebut berhamburan pergi meninggalkan tempat itu. Bandung Bondowoso sempat heran melihat kepanikan pasukan jin. Paginya, Bandung Bondowoso mengajak Loro Jonggrang ke tempat candi. "Candi yang kau minta sudah berdiri!". Loro Jonggrang segera menghitung jumlah candi itu. Ternyata jumlahnya hanya 999 buah!. "Jumlahnya kurang satu!" seru Loro Jonggrang. "Berarti tuan telah gagal memenuhi syarat yang saya ajukan".

    Bandung Bondowoso terkejut mengetahui kekurangan itu. Ia menjadi sangat murka. "Tidak mungkin...", kata Bondowoso sambil menatap tajam pada Loro Jonggrang. "Kalau begitu kau saja yang melengkapinya!" katanya sambil mengarahkan jarinya pada Loro Jonggrang. Ajaib! Loro Jonggrang langsung berubah menjadi patung batu. Sampai saat ini candi-candi tersebut masih ada dan terletak di wilayah Prambanan, Jawa Tengah dan disebut Candi Loro Jonggrang.

    Sumber : http://alkisah.ateonsoft.com/2008/12/kisah-loro-jonggrang.html

    BalasHapus
  67. Nama : Fifin Sunarlie
    Kelas : XI P 6 /17

    Naskah Drama :
    Kisah Loro Jongrang

    Babak 1
    Alkisah, pada dahulu kala terdapat sebuah kerajaan besar yang bernama Prambanan. Rakyatnya hidup tentram dan damai. Tetapi, apa yang terjadi kemudian? Kerajaan Prambanan diserang dan dijajah oleh negeri Pengging. Ketentraman Kerajaan Prambanan menjadi terusik. Para tentara tidak mampu menghadapi serangan pasukan Pengging. Akhirnya, kerajaan Prambanan dikuasai oleh Pengging, dan dipimpin oleh Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso seorang yang suka memerintah dengan kejam.
    Bandung Bondowoso : "Siapapun yang tidak menuruti perintahku, akan dijatuhi hukuman berat!" (ia berkata pada rakyatnya).

    Babak 2
    Bandung Bondowoso adalah seorang yang sakti dan mempunyai pasukan jin. Tidak berapa lama berkuasa, Bandung Bondowoso suka mengamati gerak-gerik Loro Jonggrang sedang berjalan seorang diri di hutan, ia adalah putri Raja Prambanan yang cantik jelita.
    Bandung Bondowoso : "Cantik nian putri itu. Aku ingin dia menjadi permaisuriku.Esok harinya, Bondowoso mendekati Loro Jonggrang.

    Babak 3
    Esok harinya, Bondowoso mendekati Loro Jonggrang yang berada didalam istananya.
    Bandung Bondowoso : "Kamu cantik sekali, maukah kau menjadi permaisuriku ?"
    Loro Jonggrang tersentak, mendengar pertanyaan Bondowoso.
    Loro Jongrang : "Laki-laki ini lancang sekali, belum kenal denganku langsung menginginkanku menjadi permaisurinya.” (ia bergumam dalam hati).
    Loro Jongrang : "Apa yang harus aku lakukan ?"(Loro Jonggrang menjadi kebingungan).
    Pikirannya berputar-putar. Jika ia menolak, maka Bandung Bondowoso akan marah besar dan membahayakan keluarganya serta rakyat Prambanan.
    Untuk mengiyakannya pun tidak mungkin, karena Loro Jonggrang memang tidak suka dengan Bandung Bondowoso.
    Bandung Bondowoso : "Bagaimana, Loro Jonggrang ?"
    Akhirnya Loro Jonggrang mendapatkan ide.
    Loro Jongrang : "Saya bersedia menjadi istri Tuan, tetapi ada syaratnya.
    Bandung Bondowoso : "Apa syaratnya? Ingin harta yang berlimpah? Atau Istana yang megah?".

    Babak 4
    Loro Jongrang ingin dibuatkan 1000 candi di halaman belakang rumahnya.
    Loro Jongrang : "Bukan itu. Saya minta dibuatkan candi, jumlahnya harus seribu buah .”
    Bandung Bondowoso : "Seribu buah?"(ia terkejut).
    Loro Jongrang : "Ya, dan candi itu harus selesai dalam waktu semalam."
    Bandung Bondowoso menatap Loro Jonggrang, bibirnya bergetar menahan amarah.
    Sejak saat itu Bandung Bondowoso berpikir bagaimana caranya membuat 1000 candi.

    BalasHapus
  68. Babak 5
    Setelah sampai di istananya, Bandung Bondowoso akhirnya bertanya kepada penasehatnya.
    Penasihat Bandung Bondowoso : "Saya percaya tuanku bisa membuat candi tersebut dengan bantuan Jin!"
    Bandung Bondowoso: "Ya, benar juga usulmu, siapkan peralatan yang kubutuhkan!"

    Babak 6
    Setelah perlengkapan di siapkan. Bandung Bondowoso berdiri di depan altar batu yang berada di tengah-tengah istananya, kedua lengannya dibentangkan lebar-lebar.
    Bandung Bondowoso : "Pasukan jin, Bantulah aku!" (teriaknya dengan suara menggelegar). Tak lama kemudian, langit menjadi gelap. Angin menderu-deru. Sesaat kemudian, pasukan jin sudah mengerumuni Bandung Bondowoso
    Pemimpin Jin : "Apa yang harus kami lakukan Tuan ?"
    Bandung Bondowoso : "Bantu aku membangun seribu candi."

    Babak 7
    Para jin segera bergerak ke sana kemari, melaksanakan tugas masing-masing di halaman belakang istana Loro Jongrang. Dalam waktu singkat bangunan candi sudah tersusun hampir mencapai seribu buah. Sementara itu, diam-diam Loro Jonggrang mengamati dari kejauhan. Ia cemas, mengetahui Bondowoso dibantu oleh pasukan jin.
    Loro Jongrang : "Wah, bagaimana ini?"
    Ia mencari akal. Para dayang kerajaan disuruhnya berkumpul dan ditugaskan mengumpulkan jerami.
    Loro Jongrang : "Cepat bakar semua jerami itu!"
    Sebagian dayang lainnya disuruhnya menumbuk lesung. Dung... dung...dung! Semburat warna merah memancar ke langit dengan diiringi suara hiruk pikuk, sehingga mirip seperti fajar yang menyingsing. Pasukan jin mengira fajar sudah menyingsing.
    Pemimpin Jin : "Wah, matahari akan terbit!, Kita harus segera pergi sebelum tubuh kita dihanguskan matahari."
    Para jin tersebut berhamburan pergi meninggalkan tempat itu. Bandung Bondowoso sempat heran melihat kepanikan pasukan jin. Paginya, Bandung Bondowoso mengajak Loro Jonggrang ke tempat candi.
    Bandung Bondowoso : "Candi yang kau minta sudah berdiri!".
    Loro Jonggrang segera menghitung jumlah candi itu. Ternyata jumlahnya hanya 999 buah!.
    Loro Jongrang : "Jumlahnya kurang satu!, Berarti tuan telah gagal memenuhi syarat yang saya ajukan".
    Bandung Bondowoso terkejut mengetahui kekurangan itu.
    Bandung Bondowoso : "Tidak mungkin...,Kalau begitu kau saja yang melengkapinya!" Ajaib! Loro Jonggrang langsung berubah menjadi patung batu. Sampai saat ini candi-candi tersebut masih ada dan terletak di wilayah Prambanan, Jawa Tengah dan disebut Candi Loro Jonggrang.

    BalasHapus
  69. Sumber: Syamsuddin, 1998, Cerita Rakyat dari Bintan. Jakarta : PT Grasindo

    BalasHapus
  70. Nama : Andre Hasiholan Pangaribuan
    Kelas : XI IPA 6 / 05

    Bawang Merah & Bawang Putih

    Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.

    Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikahi saja ibu Bawang merah supaya Bawang putih tidak kesepian lagi. Maka ayah Bawang putih kemudian menikah dengan ibu Bawang merah. Mulanya ibu Bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada Bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.

    Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.

    Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwa salah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.

    BalasHapus
  71. “Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”

    Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.”
    “Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.
    “Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri tepi sungai.
    Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
    “Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
    “Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.
    “Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
    “Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
    “Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.
    “Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.
    Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba.
    “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.

    Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
    “Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
    Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.

    BalasHapus
  72. Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.

    Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.

    Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.

    Sumber :
    http://folktalesnusantara.blogspot.com/2008/12/bawang-merah-bawang-putih.html

    BalasHapus
  73. Naskah Drama

    Nama : Andre Hasiholan Pangaribuan
    Kelas : XI IPA 6 / 05


    Bawang Merah dan Bawang Putih


    Babak 1 :

    Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.

    Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol.

    Ibu Bawang Merah : ”Ini ada sedikit makanan. Dimakan, ya.”
    Ayah : ”Oh, terima kasih. Baik sekali anda.”

    Inilah awal pertemuan dari Ayah Bawang Putih dan Janda, Ibu dari Bawang Merah. Sejak saat itu mereka menjadi pasangan mengobrol yang sangat dekat.

    BalasHapus
  74. Babak 2 :

    Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikahi saja ibu Bawang merah supaya Bawang putih tidak kesepian lagi. Maka ayah Bawang putih kemudian menikah dengan ibu Bawang merah. Mulanya ibu Bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada Bawang putih. Tapi lama kelamaan sifat asli mereka muncul.
    Mereka kerap memarahi Bawang Putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayahnya sedang berdagang.

    Bawang Merah : ”Cepat bersihkan kamarku!” (dengan berteriak)
    Ibu Bawang Merah : ”Setelah itu kuras bak mandi sana!”
    Bawang Putih : ”Baik, Ibu.” (dengan tergesa-gesa)

    Tentunya sang Ayah tidak mengetahuinya karena Bawang Putih diancam untuk tidak memberitahukan kepada ayahnya. Semakin lama mereka semakin terbiasa dengan semua hal itu dengan membebankan semua pekerjaan rumah kepada Bawang Putih dan mereka hanya duduk-duduk saja di dalam rumah dengan santai.

    Babak 3 :

    Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.

    Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya.

    Bawang Putih : ”Aku adalah anak gembala selalu riang.........”

    Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwa salah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.

    Ibu Tiri : ”Dasar ceroboh. Pasti kau tadi sengaja, kan, membuang baju kesayanganku itu ke sungai. Pokoknya aku tidak mau tahu. Harus kau cari hingga dapat! Jangan pernah pulang bila kau belum mendapatkannya!” (sembari mengusir Bawang Putih dan menutup pintu dengan kerasnya)

    BalasHapus
  75. Babak 4 :

    Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibu tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya.

    Bawang Putih : ”Paman. Boleh saya bertanya?”
    Penggembala : ”Ada apa anakku?”
    Bawang Putih : ”Apa paman melihat baju merah yang hanyut di sungai tadi? Aku harus membawanya pulang, karena kalau tidak aku tidak bisa pulang ke rumahku.”
    Penggembala : ”Ya, tadi saya lihat, nak. Mungkin kau akan menemukannya apabila kau mengejarnya cepat-cepat, nak.”
    Bawang Putih : ”Baiklah. Terima kasih, pak” (lalu berlari menyusuri pinggir sungai)

    Babak 5 :

    Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih melihat dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.

    Bawang Putih : ”Permisi.” (sembari mengetuk pintu)
    Nenek : ”Siapa kamu, nak? Ada apa?” (membuka pintu yang reot)
    Bawang Putih : ”Saya Bawang Putih, Nek. Saya tadi mencari baju ibuku yang hanyut di sungai, tapi sekarang sudah malam. Bolehkah saya menginap di tempat Nenek ini?” (dengan muka kelelahan)
    Nenek : ”Boleh, Nak. Apakah baju yang kamu cari tadi itu berwarna merah?”
    Bawang Putih : ”Ya, Nek. Apa….. Emmm, apa Nenek menemukannya?” (kembali bersemangat dengan penuh harapan)
    Nenek : ”Ya, tadi tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku sangat menyukai baju itu. Baiklah, aku akan mengembalikannya, tapi dengan satu syarat.”
    Bawang Putih : ”Apa syaratnya, Nek?”
    Nenek : ”Kamu harus menemaniku di sini selama seminggu. Sudah lama aku tidak punya teman untuk mengobrol.”
    Bawang Putih : ”Emmm.” (berpikir sejenak dan melihat Nenek yang terlihat kesepian itu)
    Nenek : ”Bagaimana, Nak?”
    Bawang Putih : ”Baiklah, Nek. Asal Nenek tidak bosan denganku saja.” (tersenyum kecil)

    Babak 6:

    Selama seminggu ini Bawang Putih tinggal dengan Nenek itu. Selama seminggu itu pula Bawang Putih mengerjakan semua pekerjaan rumah Nenek itu. Tentu saja dia sangat senang. Hingga akhirnya genap seminggu sudah Bawang Putih tinggal bersama Nenek itu. Lalu Nenek itu memanggil Bawang Putih.

    Nenek : ”Bawang Putih.”
    Bawang Putih : ” Iya, Nek. Ada apa?”
    Nenek : ”Hari ini sudah genap seminggu kau tinggal denganku dan kau sudah sangat rajin dan berbakti. Untuk itu aku akan mengembalikan baju ibumu itu.” (mengeluarkan baju merah milik ibu Bawang Putih itu)
    Bawang Putih : ”Terima kasih, Nek.” (sambil menerima baju merah dari Nenek itu)
    Nenek : ”Ah, tunggu sebentar. Aku ada tanda terima kasih untukmu”. (ke belakang dan kembali dengan membawa dua buah labu)
    Bawang Putih : ”Apa itu, Nek?”
    Nenek : ”Pilihlah satu, Nak.” (menyodorkan dua buah labu)
    Bawang Putih : ”Tidak perlu, Nek. Saya ikhlas membantu Nenek.” (menolak dengan halus)
    Nenek : ”Ambilah satu, Nak.”
    Bawang Putih : ”Baiklah, Nek. Saya pilih yang kecil saja. Saya takut tidak kuat mengangkatnya. Terima kasih, Nek.” (mengambil labu yang kecil)
    Nenek : ”Baiklah, Nak. Selamat tinggal.”

    BalasHapus
  76. Babak 7 :

    Tibalah akhirnya Bawang Putih di rumahnya dan langsung menyerahkan baju merah milik Ibu Tirinya itu.

    Ibu Tiri : ”Bagus. Apa yang kau bawa itu?! Sepertinya lezat. Cepat buatkan aku sesuatu dengan labu itu. Aku lapar!”
    Bawang Merah : ”Ya, aku juga lapar! Cepat sedikit!” (dengan nada tinggi)
    Bawang Putih : ”Baik, Bu, Kak.” (segera ke dapur)

    Saat sampai di dapur Bawang Putih langsung membelah labu itu dan alangkah terkejutnya dengan yang didapati dari dalam labu itu. Langsung memekik karena saking senangnya.

    Bawang Putih : ”ASTAGA! Ibu... Kakak... (berteriak)
    Bawang Putih & Ibu Tiri : ”Ada apa? Mengapa kau berteriak-teriak!” (marah-marah)
    Bawang Putih : ”Ibu! Kak! Lihat apa yang aku temukan dalam labu ini. Emas! Permata!
    (mata berbinar-binar)
    Bawang Merah : ”WAW. Indah sekali pasti permata-permata ini. Pasti cocok denganku! (langsung mengambil permata-permata indah itu)
    Ibu Tiri : ”Ya. Betul. Pasti cocok denganmu anakku yang cantik. Emasnya pun akan lebih cocok dengan kita berdua daripada denganmu Bawang Putih. Berikan pada kami! (merampas emas dan permata dari Bawang Putih)
    Bawang Putih : ”Baik, Ibu, Kak.” (tetap tersenyum)
    Bawang Merah : ”Lalu yang aku ingin tahu, darimana kau mendapatkan semua itu?! Cepat beritahu!” (memaksa)
    Bawang Putih : ”Baiklah, Kak.” (menceritakan sejujur-jujurnya)

    Babak 8:

    Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Lalu setelah seminggu dia bekerja, dia bertanya.

    Bawang Merah : ”Bukankah kalau aku sudah menemanimu di sini aku akan mendapatkan hadiah! Mana hadiahku?”
    Nenek : ”Ini. Pilihlah.” (dengan muka tidak terlalu senang)
    Bawang Merah : ”Aku pilih ini.” (mengambil labu yang paling besar dan langsung berlari pulang)

    Babak 9 :

    Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai.

    Bawang Merah : ”Bawang Putih!!! Cepat pergi ambil air ke sungai!”
    Bawang Putih : ”Bukankah masih ada persediaan air di belakang, Kak?”
    Bawang Merah : ”Sudahlah! Tadi aku pakai untuk mandi. Kau ambil lagi sana di sungai.”
    Bawang Putih : ”Baiklah, Kak.”

    Lalu, setelah Bawang Putih pergi ke sungai. Bawang merah lalu segera memanggil Ibunya untuk membelah labu besar yang mereka anggap berisikan emas dan permata.

    Bawang Merah : ”Ibu! Kemarilah. Aku akan segera membelah labu yang baru aku dapat dari Nenek Tua itu.”
    Ibu Tiri : ”Ahahahahhhaha! Kita akan kaya raya.” (tertawa keras dengan angkuh)

    Ternyata saat membelah labu yang mereka dapati adalah binatang-binatang beracun yang langsung menggigit mereka dan pada saat itu juga mereka langsung mati. Akhirnya Bawang Putih mendapatkan harta itu dan hidup berkecukupan.

    Ketamakan akan membawa seseorang ke dalam kesialan sedangkan dengan kita menerima apa adanya dan selalu bersyukur kita akan mendapat kebahagiaan pada akhirnya.

    BalasHapus
  77. Nama : Maya Puspita Sari
    Kelas : XI IPA 6 / 31

    Putri Pandan Berduri, Asal-Mula Persukuan di Pulau Bintan


    Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Pulau Bintan berdiam sekumpulan orang Sampan atau orang Suku Laut. Mereka dipimpin oleh seorang Batin yang gagah perkasa. Batin Lagoi namanya. Untuk masuk ke kawasan Batin Lagoi itu, harus melalui sebuah betung yang ditumbuhi semak belukar yang rimbun.

    Pada suatu hari, Batin Lagoi menyusuri pantai. Tengah berjalan santai, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara tangisan bayi dari arah semak-semak pandan. Dengan perasaan takut, ia menerobos semak pandan itu dengan hati-hati. Tak berapa lama, didapatinya seorang bayi perempuan tergeletak beralaskan daun di antara semak pandan itu.

    Setelah menengok ke sekelilingnya, Batin Lagoi tidak melihat tanda-tanda ada orang di sekitarnya. Karena ia tidak mempunyai anak, timbullah keinginan untuk mengangkat bayi itu sebagai anak. Dengan hati-hati, diambilnya bayi itu dan dibawanya pulang. Bayi itu kemudian ia beri nama Putri Pandan Berduri. Ia memelihara Putri Pandan Berduri dengan penuh kasih-sayang seperti memelihara seorang putri raja. Setiap hari Batin Lagoi juga memberinya pelajaran budi pekerti yang luhur.

    Waktu terus berjalan. Putri Pandan Berduri tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Tutur bahasa dan sopan-santunnya mencerminkan sifat seorang putri raja. Kecantikan dan keelokan perangai Putri Pandan Berduri mengundang decak kagum para pemuda di Pulau Bintan. Namun, tak seorang pun pemuda yang berani meminangnya, karena Batin Lagoi menginginkan putrinya menjadi istri seorang anak raja atau anak megat.

    Sementara itu, di Pulau Galang, tersebutlah seorang Megat yang mempunyai dua orang anak laki-laki. Anak yang tua bernama Julela dan yang muda bernama Jenang Perkasa. Sejak mereka kecil, Megat itu mendidik kedua anaknya agar saling membantu dan saling menghormati.

    Setelah keduanya beranjak dewasa, Megat menginginkan Julela sebagai batin di Galang. Hal ini kemudian membuat Julela menjadi sombong. Ia sudah tidak peduli dengan adiknya, sehingga hubungan mereka menjadi tidak harmonis lagi. Mereka pun menjalani hidup masing-masing secara terpisah.

    Dari hari ke hari kesombongan Julela semakin menjadi-jadi. Ia sering mencaci dan memusuhi adiknya tanpa sebab. Pada suatu hari, Julela berkata kepada adiknya, “Hei, Jenang bodoh!” Kelak aku menjadi batin di kampung ini, maka kamu harus mematuhi segala perintahku. Jika tidak, kamu akan aku usir dari kampung ini.”

    Jenang Perkasa sangat sedih mendengar ucapan abangnya itu. Ia merasa tidak lagi dianggap sebagai saudara. Hal ini menyebabkan Jenang Perkasa merasa semakin terasing dari keluarga. Oleh karena itu, timbullah keinginannya untuk meninggalkan Pulau Galang.

    Keesokan harinya, secara diam-diam, Jenang Perkasa berlayar tak tentu arah. Setelah berhari-hari mengarungi lautan luas, sampailah ia di Pulau Bintan. Di sana, ia tidak mengaku sebagai anak seorang megat. Ia selalu bertutur kata lembut kepada setiap

    BalasHapus
  78. orang yang diajaknya berbicara. Sikap dan perilaku Jenang Perkasa itu telah menarik perhatian Batin Lagoi.

    Pada suatu hari, Batin Lagoi mengadakan perjamuan makan bersama orang-orang Suku Sampan lainnya. Tak ketinggalan pula Jenang Perkasa diundang dalam perjamuan itu. Jenang Perkasa pun pergi memenuhi undangan itu. Saat jamuan makan akan dimulai, ia memilih tempat yang agak jauh dari kawan-kawannya, agar air cuci tangannya tidak jatuh di hidangan yang ia makan. Tanpa disadarinya, ternyata sejak ia datang sepasang mata telah memerhatikan perilakunya, yang tak lain adalah Batin Lagoi. Tingkah laku dan budi pekerti Jenang Perkasa itu sungguh mengesankan hati Batin Lagoi.

    Usai perjamuan, Batin Lagoi menghampiri Jenang Perkasa. “Wahai, Jenang Perkasa! Aku sangat terkesan dan kagum dengan keelokan budi pekertimu. Bersediakah engkau aku nikahkan dengan putriku, Pandan Berduri?” tanya Batin Lagoi. “Dengan segala kerendahan hati, saya bersedia menerima putri tuan sebagai istri saya,” jawab Jenang Perkasa dengan sopannya.

    Rupanya, Batin Lagoi sudah lupa dengan cita-citanya untuk menikahkan putrinya dengan anak raja atau megat. Meskipun sebenarnya Jenang Perkasa adalah anak seorang megat, tetapi Batin Lagoi tidak mengetahui tentang hal itu. Ia sungguh-sungguh tertarik dengan perangai Jenang Perkasa yang baik itu.

    Seminggu kemudian, Jenang Perkasa pun dinikahkan dengan Putri Pandan Berduri. Pernikahan mereka dilangsungkan sangat meriah. Aneka minuman dan makanan dihidangkan. Tari-tarian juga dipergelarkan menghibur para pengantin dan para undangan. Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri pun hidup bahagia.

    Tak berapa lama kemudian, Batin Lagoi mengangkat Jenang Perkasa sebagai Batin di Bintan untuk menggantikan dirinya. Jenang Perkasa memimpin rakyat Bintan dengan bijaksana sesuai dengan adat yang berlaku di Bintan.

    Kepemimpinan Jenang Perkasa yang bijaksana itu terdengar oleh masyarakat Galang. Hingga suatu hari, datanglah sekumpulan orang dari Galang ke Pulau Bintan. “Wahai, Jenang Perkasa! Kami sudah mengetahui tentang kepemimpinanmu di Pulau Bintan ini. Maksud kedatangan kami ke sini untuk mengajak engkau kembali ke Galang mengggantikan abang Engkau yang sombong itu sebagai Batin,” kata salah seorang dari mereka. Namun, Jenang Perkasa menolaknya. Ia lebih memilih menjadi Batin di Pulau Batin. Sekumpulan orang dari Galang itu pun kembali dengan tangan hampa.

    Sementara Jenang Perkasa hidup berbahagia bersama Putri Pandan Berduri. Mereka mempunyai tiga orang putra, yang sulung dinamakan Batin Mantang, yang tengah Batin Mapoi, dan yang bungsu Batin Kelong.

    Jenang Perkasa mendidik ketiga anaknya dengan baik, agar mereka tidak menjadi orang yang sombong. Ia berharap kelak mereka akan menjadi pemimpin suku yang bertanggung jawab. Maka pada ketiga anaknya diadatkannya dengan adat suku Laut, dan dinamakan dengan adat Kesukuan.

    Setelah beranjak dewasa, ketiga anaknya tersebut memimpin suku mereka masing-masing. Batin Mantang membawa berhijrah ke bagian utara Pulau Bintan, Batin Mapoi dengan sukunya ke barat, dan Kelong dengan sukunya ke timu Pulau Bintan. Ketiga suku tersebut kemudian menjadi suku terbesar dan termasyhur di daerah Bintan. Jika mereka mengalami kesulitan, mereka kembali kepada yang pertama, yaitu kepada adat Kesukuan.

    Tak lama kemudian, Jenang Perkasa meninggal dunia, disusul Putri Pandan Berduri. Walaupun keduanya telah tiada, tetapi anak-cucu mereka banyak sekali, sehingga adat Kesukuan terus berlanjut. Hingga kini, Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri tetap dikenang karena dari merekalah lahir persukuan di Teluk Bintan. Suku Laut atau Suku Sampan ini masih banyak ditemukan berdiam di perairan Pulau Bintan.

    * * *

    Sumber:
    http://folktalesnusantara.blogspot.com/2009/02/putri-pandan-berduri-asal-mula.html

    BalasHapus
  79. Naskah drama

    Putri Pandan Berduri, Asal-Mula Persukuan di Pulau Bintan


    Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Pulau Bintan terdapat sekelompok orang Sampan atau orang Suku Laut. Pemimpin Suku Laut atau Suku Sampan ini sangat gagah perkasa, Batin Lagoi namanya.

    Babak 1
    Suatu hari, ketika Batin Lagoi sedang menyusuri pantai dengan berjalan santai, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara tangisan bayi dari arah semak-semak pandan.

    Bayi :”oek....oek....oek...”
    Batin Lagoi :”Suara apa itu? Saya mendengar seperti ada bayi yang sedang menangis. Apakah mungkin cuma perasaan Saya saja? Sepertinya mustahil jika ada bayi di sekitar sini.”

    Tapi, suara bayi menangis yang terdengar itu semakin kuat dan histeris.

    Bayi :”oek..oek...oek....(dengan suara yang lebih keras)”
    Batin Lagoi :”Sepertinya memang benar ada bayi di sekitar sini. Suaranya terdengar jelas di telingaku. Lebih baik saya mencari sumber suaranya saja untuk memastikan.”

    Batin Lagoi mencari sumber suara itu.

    Batin Lagoi :”Hm.. Sepertinya suara tangisan bayi itu terdengar dari semak-semak pandan ini.”

    Ternyata firasat Batin Lagoi benar, ia menemukan seorang bayi perempuan tergeletak di antara semak pandan dengan beralaskan daun.

    Batin Lagoi :”Anak siapa gerangan? Mengapa berada di sini? Orang tuanya ke mana?”

    Setelah melihat ke sekelilingnya, Batin Lagoi tidak melihat tanda-tanda ada orang di sekitarnya.

    Batin Lagoi :”Daripada anak ini dibiarkan di semak-semak pandan ini, lebih baik Saya bawa saja ia pulang ke rumah dan Saya akan mengangkatnya sebagai anak. Mungkin ini adalah petunjuk dari Tuhan karena Saya tidak mempunyai anak. Sebelum Saya membawa anak ini pulang, Saya akan memberinya nama terlebih dahulu. Karena Saya menemukannya di antara semak-semak pandan, maka Saya akan memberi nama anak ini Putri Pandan Berduri.”

    Lalu, dengan hati-hati diambilnya bayi itu dari semak-semak Pandan dan dibawanya pulang. Ia merawat dan menjaga Putri Pandan Berduri dengan penuh kasih sayang seperti layaknya membesarkan putri raja.

    Babak 2
    Setelah Putri Pandan Berduri beranjak dewasa, Batin Lagoi memberinya pelajaran budi pekerti yang luhur kepada Putri Pandan Berduri.

    Batin Lagoi :”Pandan, kamu harus mengingat baik-baik apa yang Ayah ajarkan kepadamu ini.”
    Putri Pandan :”Apakah kiranya yang akan hendak Ayah ajarkan kepadaku?”
    Batin Lagoi :”Sebelum ayah memulainya, hendaknya kamu mengingat dan melaksanakan dengan baik apa yang Ayah katakan.”
    Putri Pandan :”Tentu saja Ayah. Ayah tidak perlu kuatir akan hal tersebut.”
    Batin Lagoi :”Tapi bukan hanya hal itu saja anakku. Engkau juga harus bertutur kata sopan dan bertingkah laku baik kepada semua orang, baik itu kepada orang tua bahkan orang yang sebaya denganmu.”
    Putri Pandan :”Baik ayah. Nasehat ayah akan selalu Pandan laksanakan.”

    Putri Pandan Berduri tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Tutur bahasa dan sopan-santunnya seperti sifat para putri-putri raja.

    BalasHapus
  80. Babak 3
    Kecantikan dan keelokan tingkah laku daripada Putri Pandan Berduri mengundang kekaguman dari para pemuda di Pulau Bintan.

    Pemuda 1:”Lihatlah betapa cantiknya Putri Pandan Berduri itu. Tak hanya cantik Ia juga sangat sopan. Alangkah bahagianya pria yang dapat meminangnya.”
    Pemuda 2 :”Setiap pria pasti akan mengagumi Putri Pandan Berduri itu. Namun, mengapa sampai sekarang tidak ada seorang pria pun yang berani mendekatinya?”
    Pemuda 1 :”Tidakkah engkau berpikir bahwa sosok sempurna seperti Putri Pandan Berduri itu jugalah yang menyebabkan tidak ada pemuda yang berani mendekatinya?”
    Pemuda 2 :”Mengapa demikian?”
    Pemuda 1 :”Karena tentunya tidak ada pemuda yang merasa dirinya pantas untuk wanita seperti Putri Pandan Berduri itu. 1 hal lagi penyebabnya, yaitu karena ada kabar bahwa Batin Lagoi menginginkan agar Putri Pandan Berduri itu menjadi istri seorang anak raja atau anak Megat.”

    Babak 4
    Sementara itu, di Pulau Galang, terdapat seorang Megat yang mempunyai dua orang anak laki-laki. Anak yang tua bernama Julela dan yang muda bernama Jenang Perkasa. Dari mereka kecil, Megat itu mendidik kedua anaknya agar saling membantu dan saling menghormati satu dengan yang lain.

    Setelah keduanya beranjak dewasa, Megat menginginkan Julela yang menjadi pemimpin di Galang. Hal ini kemudian membuat Julela menjadi sombong dan angkuh. Ia sudah tidak lagi peduli dengan adiknya, hal ini menyebabkan hubungan mereka menjadi tidak harmonis dan rukun lagi. Lalu, mereka pun menjalani hidup masing-masing secara terpisah. Dari hari ke hari kesombongan Julela semakin menjadi-jadi. Ia sering mencaci dan memusuhi adiknya tanpa sebab.

    Julela :“Hai, adikku yang bodoh! Engkau tahu bahwa kelak yang akan menjadi pemimpin di kampung ini adalah aku. Jadi sekarang aku mengingatkan kamu bahwa kamu harus mematuhi segala perintahku. Jika kamu tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepada kamu, maka aku tidak akan ragu-ragu untuk mengusir kamu dari kampung ini! Kamu mengerti?”

    Jenang Perkasa yang mendengar hal tersebut dari kakaknya menjadi sangat sedih.

    Jenang P:”Mengapa kakak kandungku sendiri mengatakan hal sekejam itu terhadapku? Apa salahku kepadanya? Mengapa sikapnya berubah semenjak dia ditunjuk untuk menjadi pemimpin di Pulau Galang ini? Apakah aku ini tidak lagi dianggapnya sebagai adik? Mengapa aku merasa terasing di keluarga kandungku sendiri? Daripada seperti ini, lebih baik aku meninggalkan Pulau Galang ini secara diam-diam agar aku tidak mendapat cacian dari kakak kandungku.”

    Babak 5
    Keesokan harinya, secara diam-diam, Jenang Perkasa berlayar dengan arah yang tidak menentu. Setelah berhari-hari Ia mengarungi lautan yang luas, akhirnya sampailah ia di Pulau Bintan.

    Penduduk 1 :”Engkau sepertinya bukan penduduk kampung ini. Kalau boleh tahu darimanakah engkau?”
    Jenang P :”Saya dari Pulau Galang di seberang sana.
    Penduduk 2 :”Mengapa anda bisa sampai ke pulau ini?
    Jenang P :”Itu karena Saya sedang bermaksud untuk bertualang mengarungi lautan. Lalu, setelah berhari-hari Saya berada di lautan, tiba-tiba Saya melihat Pulau ini. Oleh karena itu saya tertarik pada keindahan Pulau ini dan bermaksud untuk tinggal beberapa saat di pulau ini.”

    Sikap dan perilaku Jenang Perkasa itu telah menarik perhatian Batin Lagoi.

    BalasHapus
  81. Babak 6
    Pada suatu hari, Batin Lagoi mengadakan perjamuan makan dengan mengundang orang-orang Suku Sampan, tidak ketinggalan Batin Lagoi juga mengundang Jenang Perkasa untuk datang dalam perjamuan itu.

    Batin Lagoi :”Wahai Jenang Perkasa, besok malam di rumahku akan diadakan perjamuan makan bersama orang-orang Suku Sampan Lainnya. Aku ingin engkau juga datang, karena aku sudah menganggapmu sebagai bagian dari suku ini.”
    Jenang P :”Baik tuanku. Besok malam hamba akan datang ke rumah tuanku untuk memenuhi undangan dari tuanku.”
    Batin Lagoi :”Baiklah, sampai bertemu besok malam. Kutunggu kedatanganmu.”
    Jenang P :”Baik tuanku. Terima kasih akan undangan dari tuanku.”

    Babak 7
    Esoknya, Jenang Perkasa datang untuk memenuhi undangan tersebut. Saat jamuan makan akan dimulai, Jenang Perkasa memilih tempat yang agak jauh dari teman-temannya. Ia melakukan hal itu agar air cuci tangannya tidak jatuh di hidangan yang akan ia makan. Tanpa disadarinya, sejak ia datang sepasang mata telah memerhatikan perilakunya, yang tak lain dan tidak bukan adalah Batin Lagoi. Tingkah laku dan budi pekerti Jenang Perkasa itu sungguh mengesankan hati Batin Lagoi.

    Usai perjamuan, Batin Lagoi menghampiri Jenang Perkasa.

    Batin Lagoi :“Wahai, Jenang Perkasa! Sungguh,aku sangat terkesan dan kagum dengan kesopanan dan keelokkan budi pekertimu. Apakah Engkau bersedia apabila aku menikahkan kamu dengan putriku, Pandan Berduri?”
    Jenang P :“Permintaan tuan dengan segala kerendahan hati saya terima. Saya bersedia menerima putri tuan sebagai istri saya.”
    Batin Lagoi :”Baik sekali. Kapan kiranya engkau akan meminang putriku?”
    Jenang P :”Terserah tuanku. Kapan hari baik yang menurut tuanku layak untuk dilaksanakan pernikahan?”
    Batin Lagoi :”Bagaimana apabila kita melaksanakan pernikahannya minggu depan, anak muda?”
    Jenang P :”Pilihan tuanku memang sangat tepat. Baiklah tepat minggu depan saya akan meminang putri tuanku.”
    Batin Lagoi :”Tapi Jenang, karena Putri Pandan Berduri merupakan putriku satu-satunya, aku ingin pesta pernikahannya dilaksanakan dengan meriah. Apakah engkau keberatan?”
    Jenang P :”Tentu saja saya tidak keberatan tuanku. Namun, pesta seperti apa yang tuanku inginkan jika hamba boleh tahu?”
    Batin Lagoi :”Pesta dengan minuman dan makanan yang beranekaragam, dan dengan menampilkan segala macam tari-tarian daerah untuk menghibur para tamu undangan.”
    Jenang P :”Baik tuanku, dengan senang hati akan hamba adakan acara pernikahan seperti yang tuanku harapkan.”

    Seminggu kemudian, Jenang Perkasa pun dinikahkan dengan Putri Pandan Berduri. Pernikahan mereka dilangsungkan sangat meriah. Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri pun hidup bahagia.

    Babak 8
    Tak berapa lama kemudian, Batin Lagoi berfikir untuk segera mengangkat Jenang Perkasa sebagai Pemimpin di Bintan untuk menggantikan dirinya.

    Batin Lagoi :”Wahai menantuku ada hal penting ingin aku bicarakan kepadamu.”
    Jenang P :”Apakah hal penting itu,jika boleh saya tahu ayahanda?”
    Batin Lagoi :”Aku ingin agar kamu segera mengantikan aku untuk menjadi pemimpin di Pulau Bintan ini. Aku merasa saat ini adalah saat yang tepat untuk mengangkat engkau menjadi pemimpin Pulau ini. Apakah kamu bersedia?”
    Jenang P :”Dengan segala kerendahan hati hamba bersedia ayahanda.”
    Batin Lagoi :”Keputusan yang baik, acara pengangkatanmu akan segera kita laksanakan. Namun, aku ingin agar engkau memimpin rakyat Bintan dengan bijaksana sesuai dengan adat yang berlaku di Bintan. Apakah engkau mengerti, Jenang?”
    Jenang P :”Baik saya mengerti, ayah. Semua nasehat ayah akan saya ingat selalu.”

    Setelah Jenang Perkasa diangkat menjadi pemimpin di Pulau Bintan, Ia memimpin rakyat Bintan dengan sangat bijaksana.

    BalasHapus
  82. Babak 9
    Pada suatu siang ketika Jenang Perkasa sedang beristirahat di kamarnya, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.Jenang Perkasa yang mendengar pintu kamarnya diketuk segera membukakanya.

    Pelayan :”Maaf mengganggu istirahat tuanku.”
    Jenang P :”Tidak apa-apa. Ada hal apa gerangan yang membuat engkau datang kepadaku?”
    Pelayan :”Begini tuanku, di luar ada sekelompok orang yang ingin bertemu dengan tuanku.”
    Jenang P :”Siapakah kiranya sekelompok orang tersebut? Tentunya engkau sudah menanyai mereka bukan?”
    Pelayan :”Tentu saja tuanku. Mereka berkata bahwa mereka adalah masyarakat dari Pulau Galang. Mereka juga mengatakan bahwa ada hal penting yang ingin mereka bicarakn dengan tuanku. Apakah tuanku ingin bertemu dengan mereka, atau tuanku sedang tidak ingin diganggu ?”
    Jenang P :”Saya akan menemui mereka. Tolong katakan kepada mereka untuk menunggu saya sebentar lagi.”
    Pelayan :”Baik tuanku, hamba permisi dulu.”

    Babak 10
    Jenang perkasa menemui para tamunya.

    Orang 1 :”Selamat siang. Maaf kiranya kami telah mengganggu istirahat tuanku Jenang Perkasa.”
    Jenang P :”Tidak apa-apa. Kiranya ada perlu apa yang membuat kalian datang ke sini? Apakah telah terjadi sesuatu hal yang buruk di Pulau Galang sehingga kalian datang ke tempatku?”
    Orang 2 :”Tenang saja Tuanku, tidak terjadi sesuatu hal yang buruk di Pulau Galang.”
    Jenang P :”Kalau begitu, hal apakah yang membuat kalian datang kemari?”
    Orang 3 :“Kami datang kesini karena kami mendengar bahwa Tuanku menjadi pemimpin di Pulau Bintan ini. Selain itu, kami juga mengetahui tentang cara kepemimpinan tuanku di Pulau ini. Maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk mengajak tuanku kembali ke Galang, dan mengggantikan kakak tuanku yang sombong itu sebagai Pemimpin di Galang. Apakah kiranya tuanku bersedia?”
    Jenang P :”Maaf, bukan maksudku untuk menolak maksud baik kalian. Namun, sekarang aku sudah menjadi pemimpin di Pulau Bintan ini. Aku tidak dapat meninggalkan pulau ini begitu saja.”
    Orang 2 :”Apakah tuanku tidak merasa kasihan kepada penduduk Pulau Galang karena kepemimpinan kakak tuanku? Kami tahu Tuanku dahulu adalah penduduk dari Pulau kami, oleh karena itu hendaknya Tuanku bersedia membantu kami dengan cara menjadi pemimpin Pulau Galang.”
    Jenang P :”Dahulu aku memang penduduk dari Pulau Galang, tetapi kini aku sudah menjadi penduduk Pulau Bintan ini. Lagipula sudah menjadi tanggung jawabku untuk memimpin Pulau Bintan yang sangat kucintai ini. Aku tidak bisa melepaskan tanggung jawabku begitu saja. Sekali lagi maafkan aku,tapi aku tidak bisa menerima permintaak kalian.”

    Akhirnya sekumpulan orang dari Galang itu pun kembali dengan tangan hampa. Sementara Jenang Perkasa hidup berbahagia bersama Putri Pandan Berduri. Mereka mempunyai tiga orang putra, yang sulung dinamakan Batin Mantang, yang tengah Batin Mapoi, dan yang bungsu Batin Kelong.

    BalasHapus
  83. Babak 11
    Jenang Perkasa mendidik ketiga anaknya agar mereka tidak menjadi orang yang sombong.

    Jenang P :”Anak-anakku yang kukasihi. Aku selalu ingatkan kepada kalian nantinya kalian akan memimpin Pulau ini menggantikan Aku. Aku berharap kelak kalian akan menjadi pemimpin suku yang bertanggungjawab dan tidak sombong. Karena masa depan rakyat ada di tangan kalian, maka kalian harus benar-benar menjadi anak yang bertanggungjawab.”

    Maka pada ketiga anaknya diadatkannya dengan adat suku Laut, dan dinamakan dengan adat Kesukuan.

    Setelah beranjak dewasa, ketiga anaknya tersebut memimpin suku mereka masing-masing. Batin Mantang membawa berhijrah ke bagian utara Pulau Bintan, Batin Mapoi dengan sukunya ke barat, dan Kelong dengan sukunya ke timu Pulau Bintan. Ketiga suku tersebut kemudian menjadi suku terbesar dan termasyhur di daerah Bintan. Jika mereka mengalami kesulitan, mereka kembali kepada yang pertama, yaitu kepada adat Kesukuan.

    Tak lama kemudian, Jenang Perkasa meninggal dunia, disusul Putri Pandan Berduri. Walaupun keduanya telah tiada, tetapi anak-cucu mereka banyak sekali, sehingga adat Kesukuan terus berlanjut. Hingga kini, Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri tetap dikenang karena dari merekalah lahir persukuan di Teluk Bintan. Suku Laut atau Suku Sampan ini masih banyak ditemukan berdiam di perairan Pulau Bintan.

    BalasHapus
  84. Nama : Rio Wijaya
    Kelas/absen : XIP6/38


    Legenda Pulau Kapal


    Dahulu, ada sebuah keluarga miskin bertempat tinggal di dekat sungai Cerucuk. Kehidupan keluarga tersebut sangatlah miskin. Mereka hidup dari mencari dedaunan maupun buah-buahan yang dalam hutan. Hasil pencahariannya dijual di pasar.

    Keluarga tersebut mempunyai seorang anak laki-laki bernama Si Kulup. Si Kulup senang membantu orang tuanya mencari nafkah. Mereka saling membantu. Meskipun mereka hidup berkekurangan namun tidak pernah merasa menderita.

    Suatu ketika, ayah Si Kulup pergi ke hutan untuk mencari rebung yang masih muda. Rebung itu dijadikan sayur untuk makan bertiga. Saat menebang rebung, terlihatlah oleh ayahnya Si Kulup sebatang tongkat yang berada pada rumpun bambu. Pak Kulup demikian orang menyebut ayah Si Kulup mengamati tongkat tersebut. Semula tongkat itu akan dibuang, tetapi setelah diperhatikan betul tongkat tersebut bertabur dengan intan permata, dan merah delima. Akhirnya tongkat itu diambilnya.

    Pak Kulup berucap dalam hati karena gembiranya: “Ini pertanda baik! Apakah ini tongkat Nabi Sulaiman atau harta karun? Aduhai... Saya jadi kaya mendadak sekarang ini.”

    Rebung tidak jadi dibawa pulang. Pak Kulup dengan perasaan was-was, takut membawa tongkat pulang ke rumah. Sesampai di rumah, didapatinya Si Kulup sedang tiduran sedang istrinya berada di rumah tetangga.

    Si Kulup disuruh memanggil ibunya, tapi pemuda itu tidak mau. Ia baru saja pulang mendorong kereta. Badannya masih terasa lelah. Ia tidak tahu bahwa ayahnya membawa tongkat yang bertabur intan permata.

    Pak Kulup pergi menyusul istrinya yang sedang bertandang di rumah tetangga. Pak Kulup dan Mak Kulup terlihat asyik bercerita menuju rumahnya. Sampai di rumah, mereka bertiga berunding tentang tongkat yang ditemukan tadi siang.

    Pak Kulup mengusulkan supaya tongkat itu disimpan saja. Mungkin nanti ada yang mencarinya. Mak Kulup menjawab: “Mau disimpan di mana. Kita tidak punya lemari.” Kemudian Si Kulup pun usul: “Lebih baik dijual saja, supaya kita tidak repot menyimpannya.”

    Akhirnya mereka bertiga bersepakat untuk menjual tongkat temuannya. Si Kulup ditugasi untuk menjual tongkat tersebut ke negeri lain. Si Kulup pergi meninggalkan desanya. Tidak lama kemudian tongkat itupun telah terjual dengan harga yang sangat mahal.

    Setelah Si Kulup menjadi kaya, ia tidak mau pulang ke rumah orang tuanya. Ia tetap tinggal di rantauan. Karena ia selalu berkawan dengan anak-anak saudagar paling kaya di negeri tersebut.

    Si Kulup sudah beristri. Mereka hidup serba berlebihan. Si Kulup sudah lupa akan kedua orang tuanya yang menyuruh menjual tongkat.

    Setelah bertahun-tahun mereka hidup dirantau, oleh mertuanya si Kulup disuruh berdagang ke negeri lain bersama istrinya. Si Kulup lalu membeli sebuah kapal besar. Ia juga menyiapkan anak buahnya yang diajak serta berlayar. Mereka berdua minta doa restu kepada orang tuanya agar selamat dalam perjalanan dan berhasil mengembangkan dagangannya.

    Mulailah mereka berlayar meninggalkan daerah perantauannya. Saat itu Si Kulup teringat kembali akan kampung halamannya. Ketika sampai di muara sungai Cerucuk mereka berlabuh. Suasana kapal sangat ramai karena suara dari binatang perbekalannya, seperti ayam, itik, angsa, burung.

    BalasHapus
  85. Kedatangan Si Kulup di desanya terdengar oleh kedua orang tuanya. Sangatlah rindu kedua orang tuanya, terlebih-lebih emaknya. Emaknya menyiapkan makanan kesukaan si Kulup. Kedua orang tuanya datang di kapal sambil membawa makanan kesukaan anaknya.

    Sesampainya di kapal kedua orang tua itu mencari anaknya Si Kulup. Si Kulup sudah menjadi saudagar kaya melihat kedua orang tuanya merasa malu, maka diusirnyalah kedua orang tuanya. Buah tangan yang dibawa oleh emaknya pun dibuang. Saudagar kaya itu marah sambil berucap “Pergi! Lekas pergi. Aku tidak punya orang tua seperti kalian. Jangan kotori tempatku ini. Tidak tahu malu, mengaku diriku sebagai anakmu. Apa mungkin aku mempunyai orang tua miskin seperti kau. Enyahlah, engkau dari sini!”

    Pak Kulup dan istrinya merasa terhina sekali. Mereka cepat-cepat meninggalkan kapal. Putuslah harapannya bertemu dan mendekap anak untuk melepas rindu. Yang mereka terima hanyalah umpatan caci maki dari anak kandungnya sendiri.

    Setibanya di darat, emak Si Kulup tidak dapat menahan amarahnya. Ia benar-benar terpukul hatinya melihat peristiwa tadi. Ia berucap “Kalau saudagar itu benar-benar anakku Si Kulup dan kini tidak mau mengaku kami sebagai orang tuanya, mudah-mudahan kapal besar itu karam.”

    Selesai berucap demikian itu, ayah dan emak Si Kulup pulang ke rumahnya dengan rasa kecewa. Tidak berapa lama terjadi suatu keanehan yang luar biasa, tiba-tiba gelombang laut sangat tinggi menerjang kapal saudagar kaya. Mula-mula kapal itu oleng ke kanan dan ke kiri, menimbulkan ketakutan yang luar biasa pada seluruh penumpangnya. Akhirnya kapal itu terbalik, semua penumpangnya tewas seketika.

    Beberapa hari kemudian di tempat karamnya kapal besar itu, muncul sebuah pulau yang menyerupai kapal. Pada waktu-waktu tertentu terdengar suara binatang bawaan saudagar kaya. Maka hingga sekarang pulau itu dinamakan “Pulau Kapal”.

    BalasHapus
  86. Nama : Rio Wijaya
    Kelas/Absen : XIP6/38

    Naskah Drama

    Legenda Pulau Kapal

    Alkisah, ada sebuah keluarga miskin bertempat tinggal di dekat sungai Cerucuk. Kehidupan keluarga tersebut sangatlah miskin. Mereka hidup dari mencari dedaunan maupun buah-buahan yang ada di dalam hutan. Keluarga tersebut mempunyai seorang anak laki-laki bernama Si Kulup. Si Kulup senang membantu orang tuanya mencari nafkah.

    Babak1
    Suatu ketika, Ayah si kulup pergi ke hutan untuk mencari rebung yang masih muda untuk dijadikan sayur. Saat menebang rebung, terlihatlah oleh ayahnya Si Kulup sebatang tongkat yang berada pada rumpun bambu. Semula tongkat ini akan dibuang, tetapi setelah diperhatikan betul tongkat tersebut bertabur dengan intan permata, dan merah delima. Akhirnya tongkat itu ambilnya.

    Pak Kulup : "Ini pertanda baik!Apakah ini tongkat Nabi Sulaiman atau harta karun?Aduhai...Saya jadi kaya mendadak sekarang ini."(sambil berucap sendirian karena gembiranya)

    Babak2
    Pak Kulup dengan perasaan was-was, takut membawa tongkat pulang ke rumah. Sesampainya di rumah didapatinya Si Kulup sedang tiduran sedangkan istrinya berada di rumah tetangga.

    Pak Kulup :"Kulup...Kulup..."
    Si Kulup :"Ada apa,pak?"
    Pak Kulup :"Ibu lagi kemana?"
    Si kulup :"Di rumah tetangga,pak. Memang ada apa?"
    Pak Kulup ;"Tidak ada apa-apa. Cepat kamu panggil Ibu kamu."
    Si Kulup :"Aku habis mendorong kereta. Badanku masih terasa lelah. Aku mau istirahat dulu,pak."
    Pak Kulup :"Baiklah, kamu istirahat saja. Bapak sendri yang akan memanggil Ibumu."

    Babak3
    Pak Kulup pergi menyusul istrinya yang sedang bertandang di rumah tetangga.

    Pak Kulup :"Istriku...Istriku..."
    Mak Kulup :"Ada apa,pak?"
    Pak Kulup :"Ada yang mau aku bicarakan. Ayo pulang ke rumah."

    Pak Kulup dan Mak Kulup terlihat asyik bercerita menuju rumahnya.

    Mak Kulup :"Ada masalah apa,suamiku? sepertinya penting sekali."
    Pak Kulup :"Begini...Ketika aku mencari rebung tadi di hutan, aku menemukan sebatang tongkat yang bertabur intan permata dan merah delima. Tongkat ini semulanya aku akan buang tetapi setelah aku amati tongkat ini sangat berharga."
    Mak Kulup :"Wah...Benar sekali,suamiku,tongkat ini sangat berharga. Ayo cepat kita pulang ke rumah sebelum orang lain melihat tongkat ini."

    Babak4
    Sampai di rumah, Pak Kulup, Mak Kulup dan Si kulup berunding tentang tongkat yang ditemukan tadi siang.

    Pak Kulup :"Kulup...Kulup..."(teriakan kegembiraan)
    Si Kulup :"Ada apa,pak?"(sambil berbicara pelan dan bangun dari istirahatnya.
    Pak Kulup :"Begini...Ketika bapak mencari rebung tadi di hutan, bapak menemukan sebatang tongkat yang bertabur intan permata dan merah delima. Tongkat ini semulanya bapak akan buang tetapi setelah bapak amati tongkat ini sangat berharga. Apakah kita lebih baik menyimpan tongkat ini?"
    Mak Kulup :"Mau disimpan dimana? Kita tidak punya lemari."
    Si Kulup :"Lebih baik dijual saja, supaya kita tidak repot menyimpannya."
    Pak Kulup :"Ide bagus...Kulup cepat bereskan barang-barangmu dan pergi ke negeri lain untuk menjual tongkat ini."

    Akhirnya mereka bertiga sepakat untuk menjual tongkat temuannya. Si Kulup ditugasi untuk menjual tongkat tersebut ke negeri lain. Si Kulup pergi meninggalkan desa dan tak lama kemudian tongkat itu terjual dengan harga yang sangat mahal.

    Babak5
    Setelah Si Kulup menjadi kaya, ia tidak pulang ke rumah orang tuanya. Ia tetap tinggal di rantaun dan berkawan dengan saudagar-saudagar kaya. Si kulup pun sudah beristri. Mereka hidup serba berlebihan. Setelah mereka bertahun-tahun hidup dirantau, oleh mertuanya Si Kulup disuruh berdagang ke negeri lain bersama istrinya.

    Mertua Kulup :"Kulup, sini kamu!"
    Si Kulup :"Ada apa,bu?"
    Mertua Kulup :"Aku tugaskan kamu untuk berdagang ke negeri lain bersama istrimu untuk mengembangkan dagangan kita."
    Si Kulup :"Baiklah,bu. Aku akan mengikuti perintah Ibu dan aku akan menyiapkan sebuah kapal besar dan anak buah untuk diajak berlayar.

    BalasHapus
  87. Babak6
    Keesokan harinya, setelah Si Kulup dan istrinya sudah siap untuk berdagang.

    Si Kulup :"Bu, kami pergi dulu. Kami meminta doa restu agar selamat dalam perjalanan dan berhasil mengembangkan dagangan."
    Mertua Kulup :"Baiklah kalau begitu. Ibu akan selalu berdoa untuk kalian. Berhati-hatilah."

    Babak7

    Mulailah mereka berlayar meninggalkan daerah perantauannya. Saat itu Si Kulup teringat kembali akan kampung halamannya. Ketika sampai di muara sungai Cerucuk mereka berlabuh. Kedatangan Si Kulup di desanya terdengar oleh kedua orang tuanya.

    Mak Kulup :"Pak, Si Kulup pulang."
    Pak Kulup :"Akhirnya dia pulang juga. Kirain dia sudah lupa dengan kita, orang tua kandungnya sendiri."
    Mak Kulup :"Sudahlah,pak. Jangan berpikiran seperti itu. Aku akan menyiapkan makanan kesukaan Si Kulup dulu."

    Kedua orang tuanya datang ke kapal sambil membawa makanan kesukaan anaknya. Sesampainya di kapal, kedua orang tua itu mencari anaknya Si Kulup. Si Kulup sudah menjadi saudagar kaya. Dia melihat kedua orang tuanya merasa malu, maka diusirnyalah kedua orang tuanya. Buah tangan yang dibawa oleh emaknya pun dibuang.

    Si Kulup :" Pergi! Lekas pergi. Aku tidak punya orang tua seperti kalian. Jangan kotori tempatku ini. Tidak tahu malu, mengaku diriku sebagai anakmu. Apa mungkin aku mempunyai orang tua seperti kau. Enyalah, engkau dari sini!"
    Pak Kulup :"Kurang ajar kamu. Anak tidak tahu diri."
    Si Kulup :"Pengawal...Cepat usir kedua gembel itu."

    Setibanya di darat, emak Si Kulup tidak dapat menahan amarahnya. Ia benar-benar terpukul hatinya melihat peristiwa tadi.

    Mak Kulup :"Kalau saudagar itu benar-benar anakku Si Kulup dan kini tidak mau mengaku kami sebagai orang tuanya, mudah-mudahan kapal besar itu karam.
    Pak Kulup :"Sudahlah istriku. Ia akan menerima karmanya sendiri atas perbuatan yang telah ia lakukan.

    Selesai berucap demikian itu, ayah dan mak Si Kulup pulang ke rumahnya. Tidak berapa lama terjadi keanehan yang luar biasa, tiba-tiba gelombang laut sangat tinggi menerjang kapal saudagar kaya. Akhirnya, kapal itu terbalik, semua penumpangnya tewas seketika.
    Beberapa hari kemudian di tempat karamnya kapal besar itu, muncul sebuah pulau yang menyerupai kapal. Maka hingga sekarang pulau itu dinamakan "Pulau Kapal".

    BalasHapus
  88. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  89. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  90. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  91. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  92. SEMANGKA EMAS
    CERITA RAKYAT MELAYU SAMBAS


    Pada zaman dahulu kala, di Sambas hiduplah seorang saudagar yang kaya raya. Saudagar tersebut mempunyai dua orang anak laki-laki. Anaknya yang sulung bernama Muzakir, dan yang bungsu bernama Dermawan. Muzakir sangat loba dan kikir. Setiap hari kerjanya hanya mengumpulkan uang saja. Ia tidak perduli kepada orang-orang miskin. Sebaliknya Dermawan sangat berbeda tingkah lakunya. Ia tidak rakus dengan uang dan selalu bersedekah kepada fakir miskin.

    Sebelum meninggal, saudagar tersebut membagi hartanya sama rata kepada kedua anaknya. Maksudnya agar anak-anaknya tidak berbantah dan saling iri, terutama bila ia telah meninggal kelak.

    Muzakir langsung membeli peti besi. Uang bagiannya dimasukkan ke dalam peti tersebut, lalu dikuncinya. Bila ada orang miskin datang, bukannnya ia memberi sedekah, melainkan ia tertawa terbahak-bahak melihat orang miskin yang pincang, buta dan lumpuh itu. Bila orang miskin itu tidak mau pergi dari rumahnya, Muzakir memanggil orang gajiannya untuk mengusirnya. Orang-orang miskin kemudian berduyun-duyun datang ke rumah Dermawan.

    Dermawan selalu menyambut orang-orang miskin dengan senang hati. Mereka dijamunya makan dan diberi uang karena ia merasa iba melihat orang miskin dan melarat. Lama kelamaan uang Dermawan habis dan ia tidak sanggup lagi membiayai rumahnya yang besar. Ia pun pindah ke rumah yang lebih kecil dan harus bekerja. Gajinya tidak seberapa, sekedar cukup makan saja. Tetapi ia sudah merasa senang dengan hidupnya yang demikian. Muzakir tertawa terbahak-bahak mendengar berita Dermawan yang dianggapnya bodoh itu. Muzakir telah membeli rumah yang lebih bagus dan kebun kelapa yang luas. Tetapi Dermawan tidak menghiraukan tingkah laku abangnya.

    Suatu hari Dermawan duduk-duduk melepaskan lelah di pekarangan rumahnya. Tiba-tiba jatuhlah seekor burung pipit di hadapannya. Burung itu mencicit-cicit kesakitan "Kasihan," kata Dermawan. "Sayapmu patah, ya?" lanjut Dermawan seolah-olah ia berbicara dengan burung pipit itu. Ditangkapnya burung tersebut, lalau diperiksanya sayapnya. Benar saja, sayap burung itu patah. "Biar kucoba mengobatimu," katanya. Setelah diobatinya lalu sayap burung itu dibalutnya perlahan-lahan. Kemudian diambilnya beras. Burung pipit itu diberinya makan.

    Burung itu menjadi jinak dan tidak takut kepadanya. Beberapa hari kemudian, burung itu telah dapat mengibas-ngibaskan sayapnya, dan sesaat kemudian ia pun terbang. Keesokan harinya ia kembali mengunjungi Dermawan. Di paruhnya ada sebutir biji, dan biji itu diletakkannya di depan Dermawan. Dermawan tertawa melihatnya. Biji itu biji biasa saja. Meskipun demikian, senang juga hatinya menerima pemberian burung itu. Biji itu ditanam di belakang rumahnya.

    BalasHapus
  93. Tiga hari kemudian tumbuhlah biji itu. Yang tumbuh adalah pohon semangka. Tumbuhan itu dipeliharanya baik-baik sehingga tumbuh dengan subur. Pada mulanya Dermawan menyangka akan banyak buahnya. Tentulah ia akan kenyang makan buah semangka dan selebihnya akan ia sedekahkan. Tetapi aneh, meskipun bunganya banyak, yang menjadi buah hanya satu. Ukuran semangka ini luar biasa besarnya, jauh lebih dari semangka umumnya. Sedap kelihatannya dan harum pula baunya. Setelah masak, Dermawan memetik buah semangka itu. Amboi, bukan main beratnya. Ia terengah-engah mengangkatnya dengan kedua belah tangannya. Setelah diletakkannya di atas meja, lalu diambilnya pisau. Ia membelah semangka itu. Setelah semangka terbelah, betapa kagetnya Dermawan. Isi semangka itu berupa pasir kuning yang bertumpuk di atas meja. Ketika diperhatikannya sungguh-sungguh, nyatalah bahwa pasir itu adalah emas urai murni. Dermawan pun menari-nari karena girangnya. Ia mendengar burung mencicit di luar, terlihat burung pipit yang pernah ditolongnya hinggap di sebuah tonggak. "Terima kasih! Terima kasih!" seru Dermawan. Burung itu pun kemudian terbang tanpa kembali lagi.

    Keesokan harinya Dermawan memberli rumah yang bagus dengan pekarangan yang luas sekali. Semua orang miskin yang datang ke rumahnya diberinya makan. Tetapi Dermawan tidak akan jatuh miskin seperti dahulu, karena uangnya amat banyak dan hasil kebunnya melimpah ruah. Rupanya hal ini membuat Muzakir iri hati. Muzakir yang ingin mengetahui rahasia adiknya lalu pergi ke rumah Dermawan. Di sana Dermawan menceritakan secara jujur kepadanya tentang kisahnya.

    Mengetahui hal tersebut, Muzakir langsung memerintahkan orang-orang gajiannya mencari burung yang patah kaki atau patah sayapnya di mana-mana. Namun sampai satu minggu lamanya, seekor burung yang demikian pun tak ditemukan. MUzakir sungguh marah dan tidak dapat tidur. Keesokan paginya, Muzakir mendapat akal. Diperintahkannya seorang gajiannya untuk menangkap burung dengan apitan. Tentu saja sayap burung itu menjadi patah. Muzakir kemudian berpura-pura kasihan melihatnya dan membalut luka pada sayap burung. Setelah beberapa hari, burung itu pun sembuh dan dilepaskan terbang. Burung itu pun kembali kepada Muzakir untuk memberikan sebutir biji. Muzakir sungguh gembira.

    Biji pemberian burung ditanam Muzakir di tempat yang terbaik di kebunnya. Tumbuh pula pohon semangka yang subur dan berdaun rimbun. Buahnya pun hanya satu, ukurannya lebih besar dari semangka Dermawan. Ketika dipanen, dua orang gajian Muzakir dengan susah payah membawanya ke dalam rumah karena beratnya. Muzakir mengambil parang. Ia sendiri yang akan membelah semangka itu. Baru saja semangka itu terpotong, menyemburlah dari dalam buah itu lumpur hitam bercampur kotoran ke muka Muzakir. Baunya busuk seperti bangkai. Pakaian Muzakir serta permadani di ruangan itu tidak luput dari siraman lumpur dan kotoran yang seperti bubur itu. Muzakir berlari ke jalan raya sambil menjerit-jerit. Orang yang melihatnya dan mencium bau yang busuk itu tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan dengan riuhnya.

    BalasHapus
  94. Naskah Drama

    Pada zaman dahulu kala, di Sambas hiduplah seorang saudagar yang kaya raya. Anaknya yang sulung bernama Muzakir, dan yang bungsu bernama Dermawan. Sebelum meninggal, saudagar tersebut membagi hartanya sama rata kepada kedua anaknya.

    Muzakhir: “Wah, Saya harus cepat membeli peti besi untuk menyimpan uang warisan ayah dan menguncinya.” (sambil tergesa-gesa)

    Suatu saat ada pengemis dating ke rumah muzakhir.

    Pengemis: “Tuan, kasihanilah saya. Saya belum makan sejak kemarin”

    Muzakhir: “Dasar pengemis buta dan pincang! Jangan pikir kamu akan mendapatkan uang di sini!” (sambil tertawa)

    Pengemis: “Saya mohon, tuan. Kasihanilah saya.” (nada memelas)

    Muzakhir: “Pengawal! Cepat usir pengemis ini! Dia mengotori rumahku saja.”

    Orang-orang miskin kemudian berduyun-duyun datang ke rumah Dermawan.

    Pengemis: “Permisi, tuan. Tolong berikan saya sedikit uang atau makanan, dari kemarin saya belum makan.”

    Dermawan: “Oh! Ini, pak. Saya ada sedikit uang dan makanan untuk bapak, mungkin ini dapat membantu.”

    Pengemis: “Terima kasih, tuan. Terima kasih banyak, kalau bukan tuan saya tidak tahu apakah saya dapat bertahan hidup.”

    Dermawan: “Sama-sama. Tapi bapak jangan sungkan, saya hanya ingin menolong saja.”

    Lama kelamaan uang Dermawan habis dan ia tidak sanggup lagi membiayai rumahnya yang besar. Ia pun pindah ke rumah yang lebih kecil dan harus bekerja. Berita ini terdengar oleh pengawal Muzakhir, lalu disampaikan kepadanya.

    Pengawal: “Tuan, ada berita bahwa saudara tuan, Dermawan, telah pindah ke rumah yang kecil.”

    Muzakhir: “Dasar si bodoh mengeluarkan uang untuk pengemis yang tidak jelas dan menjijikan. Lebih baik semua harta diberikan padaku saja.” (sambil tertawa)

    Suatu hari Dermawan duduk-duduk melepaskan lelah di pekarangan rumahnya. Tiba-tiba jatuhlah seekor burung pipit di hadapannya. Burung itu mencicit kesakitan.

    Dermawan: “Kasihan. Sayapmu patah, ya? Biar kucoba mengobatimu.”

    Setelah diobatinya lalu sayap burung itu dibalutnya perlahan-lahan. Kemudian diambilnya beras. Burung pipit itu diberinya makan. Beberapa hari kemudian, burung itu telah dapat mengibas-ngibaskan sayapnya, dan keesokan harinya ia kembali mengunjungi Dermawan. Di paruhnya ada sebutir biji, dan biji itu diletakkannya di depan Dermawan.

    Dermawan: “Terima kasih, burung! Akan saya tanam biji pemerbianmu ini.” (sambil tertawa gembira)

    BalasHapus
  95. Tiga hari kemudian tumbuhlah biji itu mejadi pohon semangka. Tumbuhan itu dipeliharanya baik-baik sehingga tumbuh dengan subur. Meski bunganya banyak tapi yang menjadi buah hanya satu. Setelah masak, Dermawan memetik buah semangka itu.

    Dermawan: “Amboi, bukan main beratnya! Semangka ini akan segera kubelah.”
    Setelah diletakkannya di atas meja, lalu diambilnya pisau. Ia membelah semangka itu.

    Dermawan: “Waw, aku bisa jadi orang kaya kalau begini. Ternyata semangka aneh ini berisi emas urai murni.” (Menari-nari kegirangan)

    Ia mendengar burung mencicit di luar, terlihat burung pipit yang pernah ditolongnya hinggap di sebuah tonggak.

    Dermawan: “Terima kasih! Terima kasih, burung! Dengan uang ini akan kubeli rumah baru dan kubantu orang-orang yang kesusahan tanpa kehabisan uang lagi.”

    Rupanya hal ini membuat Muzakir iri hati. Muzakir yang ingin mengetahui rahasia adiknya lalu pergi ke rumah Dermawan.

    Muzakhir: “Hai Dermawan, kenapa kau bisa mendapatkan uang yang sangat banyak dalam waktu singkat!? Coba kau ceritakan kepada saudaramu ini!”

    Dermawan: “Apa kabar, saudaraku? Lama sudah kita tak bertemu. Bagaimana kalau kita berbincang-bincang sejenak?”

    Muzakhir: “Kau cukup ceritakan saja rahasia kekayanmu ini dan tak usah banyak berbicara!”

    Dermawan: “Baiklah kalau begitu. Sebetulnya hasil ini saya dapat dari menolong seekor burung yang patah sayapnya. Kemudian burung itu memberi saya biji semangka yang berisi emas setelah matang.”

    Muzakhir: “Begitukah? Baiklah, saya harus pergi sekarang.”

    Dermawan: “Hati-hati dalam perjalanan pulangmu, saudaraku.”

    Mengetahui hal tersebut, MUzakir langsung pulang ke rumahnya.

    Muzakhir: “Pengawal! Cepat kalian cari seekor burung yang patah kakinya atau patah sayapnya di seluruh daerah.”

    Pengawal: “Baik, tuan.”

    Muzakhir: “Cepat kerjakan tugasmu!”

    Namun sampai satu minggu lamanya, seekor burung yang demikian pun tak ditemukan. MUzakir sungguh marah dan tidak dapat tidur. Keesokan paginya, Muzakir mendapat akal.

    Muzakhir: “Hai kalian pengawal tak berguna! Tangkaplah seekor burung dengan apitan hingga sayapnya terluka. Dan bawakan burung itu padaku.”

    Pengawal: “Baiklah, tuanku.”

    Begitu sayap burung itu menjadi patah. Muzakir kemudian berpura-pura kasihan melihatnya dan membalut luka pada sayap burung. Setelah beberapa hari, burung itu pun sembuh dan dilepaskan terbang. Burung itu pun kembali kepada Muzakir untuk memberikan sebutir biji.

    Muzakhir: “Bagus, dengan biji ini aku akan jadi orang terkaya di daerah ini. Akan kutanam di tempat terbaik di kebunku.”

    Tumbuh pula pohon semangka yang subur dan berdaun rimbun. Buahnya pun hanya satu, ukurannya lebih besar dari semangka Dermawan.

    Muzakhir: “Pengawal, cepat petik buah semangka itu untukku.” (sambil mengambil parang)

    Baru saja semangka itu terpotong, menyemburlah dari dalam buah itu lumpur hitam bercampur kotoran ke muka Muzakir. Baunya busuk seperti bangkai. Pakaian Muzakir serta permadani di ruangan itu tidak luput dari siraman lumpur dan kotoran yang seperti bubur itu.

    Muzakhir: “Aaarrgghhh… Tidak!! Dimana emasnya!? Aaahhhh…!!!” (berlari ke jalan raya)

    Orang yang melihatnya dan mencium bau yang busuk itu tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan dengan riuhnya.

    BalasHapus
  96. BABAK VIII
    Ra Bumi sedang menimang-nimang pistol barunya ketika berjaga di Taman Istana. Kebo Ijo datang.
    Kebo Ijo : Wah… barang antik.
    Ken Arok : yah.. dari suku Indian.
    Kebo Ijo : Ada berapa?
    Kern Arok : Satu
    Kebo Ijo : Wah.. aku punya kenalan kolektor barang antik. Pasti dibeli mahal.
    Ken Arok : (merebut dengan cepat). Nggak dijual.
    Kebo Ijo : Buat apa? Mau ikutan jadi kolektor? Buat nembak juga udah ngga bisa.
    Ken Arok : (menembakkan ke udara, suaranya menggelegar)
    Kebo Ijo : Wow..woo,..woo.. masih jalan. Woooo… great old pistol.
    Ken Arok : Kalo kamu suka. Pake aja.
    Kebo Ijo : Ha? Buat aku?
    Ken Arok : Cuman titip. Itu tetap pistolku, tapi kalo kamu suka. Pake aja dulu. Kapan-kapan aku ambil kalo aku butuh.

    (ken Dedes datang)
    Ken Dedes : Ada apa?
    Ken Arok : Tidak ada apa-apa. Emangnya ada apa?
    Ken Dedes : Aku sih ngga ada apa-apa. Makanya aku yang nanya? Di sini ada apa?
    Kebo Ijo : Tidak ada apa-apa di sini, apa di sana ada apa-apa?
    Ken Dedes : Di sana nggak ada apa-apa juga. Aku ke sini karena kupikir di sini yang ada apa.
    Ken Arok : Di sini juga nggak ada apa-apa.
    Ken Dedes : Aku denger suara ledakan
    Kebo Ijo : ooo… Kami sedang…
    Ken Arok : Latihan tembak.
    Ken Dedes : Latihan tembak?
    Ken Arok : Setahun lebih tak pernah ada huru-hara. Itu berarti setahun lebih kami tidak pernah menembak. Jadi kalo kami nggak sering latihan, bisa-bisa kami lupa cara menembak.
    Kebo Ijo : O ya Boss Putri, Kenapa Boss Tunggul Ametung belum juga pulang Boss putri?
    Ken Taki : Kan masih ada aku. Jangan khawatir Bo. Kamu tetap akan mendapat perintah setiap hari.
    Ken Dedes : Mungkin Kanda Tunggul Ametung banyak urusan. Dia mampir ke kabupaten lain juga mungkin.
    Ken Arok : Kami jadi kasihan. Mbak Dedes pasti kesepian.
    Ken Dedes : Ah.. istri pejabat harus siap seperti ini. Ehh.. boleh aku minta diajarin menembak.
    Kebo ijo : Boleh
    Ken Arok : Maaf.. lebih baik jangan.
    Ken Dedes : (dengan senyum penuh charisma) Maaf, kamu bekerja untuk suamiku. Jadi lebih baik menurut. Atau kamu bosan dengan pekerjaanmu?
    Ken Arok : Ya… Nggak. Ya.. baiklah.
    Ken Dedes tersenyum. Dia mulai memegang pistol dan Ken Arok Ken Arok memberi petunjuk. Pelan-pelan Ken Taki dan Kebo Ijo keluar. Ken Dedes dan ken Arok terlihat sangat mesra.

    BalasHapus
  97. BABAK IX

    Ken Dedes berhadapan dengan Ken Arok.
    Ken Dedes : Kamu hebat, ganteng, energik. Gadis-gadis pasti tertarik.
    Ken Arok : O ya? Apa mbak juga?
    Ken Dedes : Heh! Jangan kurang ajar kamu! Aku hanya berusaha akrab sama anak buah suamiku. Itu saja. Menganggap kalian bukan semata-angka-angka jumlah tenaga kerja, tetapi sebagai manusia.
    Ken Arok : Kalo saja semua cewek seperti mbak Ken Dedes. Aku sudah bersumpah, Kelak, aku nggak akan menikah kalo nggak ketemu cewek seperti mbak.
    Ken Dedes : (tersenyum), Entah kenapa, aku memang suka mengamati kamu. Ketika begini pun, aku merasa seperti sudah mengenal kamu sejak lama.
    Ken Arok : (menerawang) barangkali memang begitu.
    Ken Dedes : Maksudnya?
    Ken Arok : (mengeluarkan kalung pemberian Mpu Purwa) yang sudah kamu kenal sejak lama adalah ini.
    Ken Dedes : Ya ampun, ini..? ini kalung…
    Ken Arok : Ya. Itu kalung ibumu kan?
    Ken Dedes : (menangis) Tapi Buat apa? Tanpa kamu jelaskan seperti inipun aku sudah tahu, bahwa kalian pasti membunuh bapakku waktu itu. Aku pikir Tunggul Ametung yang membunuh. Tapi apa bedanya? Meski kamu yang membunuh toh juga atas satu sumber perintah. Tapi buat apa kamu pamerkan kalung ini?
    Ken Arok : Dedes! Kalo aku yang membunuh bapakmu, buat apa aku simpan kalung ini? Apa kamu nggak berpikir bapakmu akan menitipkan kalung ini pada seseorang?
    Ken Dedes : (berpikir) maksudnya… bapakku…, ya ampun!, ken… Arok? Apa kamu?,...
    Ken Arok : Ya.. ya.. . Aku Ken Arok.
    Ken Dedes : Nggak mungkin, gimana bisa?
    Ken Arok : Tunggul Ametung juga memburu Ken Arok kan? Tapi prajuritnya tak pernah ada yang bisa melawan aku, hanya Tunggul Ametung yang sanggup.
    Mpu Purwa menyuruhku mengejarmu supaya bisa tetap mengawasimu. Lalu aku melamar menjadi pengawal keraton ini. Aku mengecat rambutku jadi hitam. Aku ganti namaku menjadi Ra Bumi.
    Ken Dedes : Terima kasih, kamu memenuhi perintah bapakku. Tapi… lalu mau apa sesudah mengawasiku. Aku bahagia kok di sini. Tunggul Ametung tidak pernah sekejam ketika dia menyeretku dari rumah.
    Ken Arok : Des… Aku… masih Ken Arok yang dulu.
    Ken Dedes : Yang mana? Yang jualan kuda? Yang Playboy?
    Ken Arok : Aku bukan Playboy!
    Ken Dedes : Trus apa?
    Ken Arok : Biasa aja. Mereka cewek-cewek itu aja yang gatelan. Aku sama sekali nggak bermaksud mendekati mereka dan aku juga nggak pernah memanfaatkan mereka!.
    Mereka terdiam.
    Ken Arok : Aku masih Arok yang dulu. Arok yang memimpikan hidup bersamamu…
    PLAK! Ken Dedes menampar muka Ken Arok.
    Ken Dedes : Sopan! Kamu pikir kamu bakal jadi pria sempurna dengan begini? Iya?. Dengerin! Aku tidak termasuk cewek-cewek gatel itu.
    Ken Arok : Kenapa? Aku cuma menyampaikan amanat bapakmu untuk memberikan kalung itu. Dan sekarang aku cuma menyampaikan isi hatiku apa salahnya?
    Ken Dedes : Kamu pikir kamu jadi pria sempurna dengan cara seperti itu. Menyampaikan isi hati yang sudah kadaluarsa. Yang sudah berlalu giliranya. Arok, kamu cuma menyakiti diri sendiri dengan ngomong kaya gitu sekarang. Aku sudah bersuami, punya bayi, hidup mapan dan terhormat. Apa lagi? Aku nggak mau menghianati suamiku, menodai perkawinan suci hanya karena tergiur tampang macho. Tunggul Ametung juga macho. Ia juga ganteng, dia juga gagah dan cerdas karena kalo nggak kaya gitu dia nggak bakalan jadi Bupati. See?
    Ken Arok : Aku ngga pernah bisa menghilangkan angan-angan hidup sama kamu Des.
    PLAK! Ken Dedes menampar lagi.
    Ken Dedes : Apa harus dua kali? Atau tiga kali?

    BalasHapus
  98. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  99. Nama : Andrianus Effemdy
    Kelas : XI IPA 6
    No Absen : 06

    Talaga Warna
    Zaman dahulu, ada sebuah kerajaan di Jawa Barat. Negeri itu dipimpin oleh seorang raja. Prabu, begitulah orang memanggilnya. Ia adalah raja yang baik dan bijaksana. Tak heran, kalau negeri itu makmur dan tenteram. Tak ada penduduk yang lapar di negeri itu.
    Semua sangat menyenangkan. Sayangnya, Prabu dan istrinya belum memiliki anak. Itu membuat pasangan kerajaan itu sangat sedih. Penasehat Prabu menyarankan, agar mereka mengangkat anak. Namun Prabu dan Ratu tidak setuju. "Buat kami, anak kandung adalah lebih baik dari pada anak angkat," sahut mereka.
    Ratu sering murung dan menangis. Prabu pun ikut sedih melihat istrinya.. Lalu Prabu pergi ke hutan untuk bertapa. Di sana sang Prabu terus berdoa, agar dikaruniai anak. Beberapa bulan kemudian, keinginan mereka terkabul. Ratu pun mulai hamil. Seluruh rakyat di kerajaan itu senang sekali. Mereka membanjiri istana dengan hadiah.
    Sembilan bulan kemudian, Ratu melahirkan seorang putri. Penduduk negeri pun kembali mengirimi putri kecil itu aneka hadiah. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang lucu. Belasan tahun kemudian, ia sudah menjadi remaja yang cantik.
    Prabu dan Ratu sangat menyayangi putrinya. Mereka memberi putrinya apa pun yang dia inginkan. Namun itu membuatnya menjadi gadis yang manja. Kalau keinginannya tidak terpenuhi, gadis itu akan marah. Ia bahkan sering berkata kasar. Walaupun begitu, orangtua dan rakyat di kerajaan itu mencintainya.
    Hari berlalu, Putri pun tumbuh menjadi gadis tercantik di seluruh negeri. Dalam beberapa hari, Putri akan berusia 17 tahun. Maka para penduduk di negeri itu pergi ke istana. Mereka membawa aneka hadiah yang sangat indah. Prabu mengumpulkan hadiah-hadiah yang sangat banyak itu, lalu menyimpannya dalam ruangan istana. Sewaktu-waktu, ia bisa menggunakannya untuk kepentingan rakyat.
    Prabu hanya mengambil sedikit emas dan permata. Ia membawanya ke ahli perhiasan. "Tolong, buatkan kalung yang sangat indah untuk putriku," kata Prabu. "Dengan senang hati, Yang Mulia," sahut ahli perhiasan. Ia lalu bekerja d sebaik mungkin, dengan sepenuh hati. Ia ingin menciptakan kalung yang paling indah di dunia, karena ia sangat menyayangi Putri.
    Hari ulang tahun pun tiba. Penduduk negeri berkumpul di alun-alun istana. Ketika Prabu dan Ratu datang, orang menyambutnya dengan gembira. Sambutan hangat makin terdengar, ketika Putri yang cantik jelita muncul di hadapan semua orang. Semua orang mengagumi kecantikannya.
    Prabu lalu bangkit dari kursinya. Kalung yang indah sudah dipegangnya. "Putriku tercinta, hari ini aku berikan kalung ini untukmu. Kalung ini pemberian orang-orang dari penjuru negeri. Mereka sangat mencintaimu. Mereka mempersembahkan hadiah ini, karena mereka gembira melihatmu tumbuh jadi dewasa. Pakailah kalung ini, Nak," kata Prabu.
    Putri menerima kalung itu. Lalu ia melihat kalung itu sekilas. "Aku tak mau memakainya. Kalung ini jelek!" seru Putri. Kemudian ia melempar kalung itu. Kalung yang indah pun rusak. Emas dan permatanya tersebar di lantai.
    Itu sungguh mengejutkan. Tak seorang pun menyangka, Putri akan berbuat seperti itu. Tak seorang pun bicara. Suasana hening. Tiba-tiba terdengar tangisan Ratu. Tangisannya diikuti oleh semua orang.
    Tiba-tiba muncul mata air dari halaman istana. Mula-mula membentuk kolam kecil. Lalu istana mulai banjir. Istana pun dipenuhi air bagai danau. Lalu danau itu makin besar dan menenggelamkan istana.
    Sekarang, danau itu disebut Talaga Warna. Danau itu berada di daerah puncak. Di hari yang cerah, kita bisa melihat danau itu penuh warna yang indah dan mengagumkan. Warna itu berasal dari bayangan hutan, tanaman, bunga-bunga, dan langit di sekitar telaga. Namun orang mengatakan, warna-warna itu berasal dari kalung Putri yang tersebar di dasar telaga.

    BalasHapus
  100. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  101. BABAK X

    Di taman, Ken Taki sedang menghibur Ken Dedes yang murung. Nampaknya mereka sedang membicarakan perihal lamaran Ra Bumi.
    Ken Taki : Mbok sudah, mau saja. Wong dulu juga situ cinta to?
    Ken Dedes : Sekarang lain Taki. cinta itu wajahnya buram seiring bertambahnya umur.
    Ken Taki : Wajah cinta itu nggak berubah Jeng. Yang berubah itu cara kita memandangnya. Buktinya, dari dulu sampe sekarang yang namanya istilah “bercinta” itu ya tetap sama saja. Dalam bahasa Inggris, Making Love itu ya gitu, pengertiannya tetap sama.
    Ken Dedes : Aku sudah pernah bersuami, punya anak. Ada hal yag lebih dari sekedar cinta yang kualami.
    Ken Taki : Apa itu?
    Ken dedes : Kasih sayang, pengertian, kesepahaman, pengabdian.
    Ken Taki : Apa Ra Bumi nggak bisa memberi itu.
    Ken Dedes : Tunggul Ametung mambawaku dengan paksa, bisa dikatakan itu pemerkosaan, tapi toh dengan penerimaan pada nasib. Aku bisa membaliknya menjadi pengabdian. Dia suamiku, dan selagi dia menjagaku setelah perkawinan, aku juga akan memberikan diriku.
    Ken Taki : Yup! Itu berarti Ra Bumi juga bisa gitu.
    Ken Dedes : Belum tentu. Tunggul Ametung jelas-jelas memburu kekuasaan. Ia ingin membunuh ayahku demi memperkuat pengaruhnya di Tumapel. Hasilnya, ia memperlakukanku sebagaimana halnya istri yang paling dia banggakan. Tetapi Ra Bumi, ia membunuh Tunggul Ametung hanya karena ingin merebutku. Jangan-jangan berakhir sebaliknya. Kalo nyawa menjadi murah di mata politik kekuasaan, itu biasa. Tetapi kalo nyawa menjadi murah di mata cinta dan nafsu?
    Ken Arok : Apa sedemikian kotor hatiku Des? (ken arok datang tiba-tiba)
    Ken Dedes : Untuk apa kesini?
    Ken Taki : (berbisik kepada Ra Bumi) Waduh, semprul! Aku kan lagi mengorek keterangan dan mendesaknya dengan lembut, kamu malah ke sini. Dasar pengacau.
    Ken Arok : (Berteriak) Biar saja kacau. Sekarang memang semua sudah kacau. Aku membunuh karena bisikan nafsu untuk memiliki Ken Dedes. (kepada Ken Dedes) Aku pertaruhkan semua, demi kebahagian kita. Tapi sekarang… apa ada yang bisa menjawab pertanyaanku?. Untuk apa aku di sini sekarang?. Junjungan tempat aku mengabdi sudah mati. Siapa yang harus kubela?, siapa yang harus kujaga? Lebih baik aku pergi dari sini.
    Ken Dedes : Jika kepergianmu tulus, lebih baik begitu.
    Ken Arok : (setelah melangkah berhenti lagi melanjutkan bicara dengan nada seperti putus asa) Tapi pergipun percuma, aku masih akan terus dibayangi penyesalan. Pembunuhan yang sia-sia. Cinta yang menipu.
    Ken Dedes : Cinta tak pernah menipu. Kamu yang tertipu oleh cinta.
    Ken Arok : Daripada pergi dengan penyesalan, lebih baik aku mengaku saja. Temani aku ke alun-alun besok pagi. Aku akan mengumumkan pengakuan. Bahwa aku yang membunuh Tunggul Ametung. Dan aku harus dirajam sampe mati. Malam ini aku akan menemui satu persatu orang yang pernah aku rugikan. Aku harus minta maaf sebelum aku mati besok pagi. PermISI

    BalasHapus
  102. BABAK XI

    Ken Arok bercengkerama dengan Ken dedes di dalam kamar pribadi raja. Tiba-tiba Anusapati masuk mendobrak pintu.

    Ken dedes : Anusapati. Kau lancang! Berani masuk kamar ayahmu tanpa permisi!
    Anusapati : Dia bukan ayahku
    Ken Arok : Anusapati! bicara apa kamu?
    Anusapati : Ayahku Tunggul Ametung. Dan kau pembunuhnya,
    Ken Dedes : Anusapati!
    Ken Arok : Anusapati, siapa yang meberimu berita busuk itu? Ken Dedes! Apa yang sudah kamu katakan? (Ken Arok Mencengkeram leher Ken Dedes)
    Ken Dedes : Aku nggak tahan Arok. Dia terus mendesak. Dia anakku, anak Tunggul Ametung, dia berhak mendengar kenyataan keluarganya.
    Ken Arok : Bangsat! (menampar Ken dedes)
    Anusapati : Kukembalikan peluru dari mayat ayahku. Ken Arok, Sang Amurwabhumi, Legenda yang menjijikkan.
    Ken Arok tewas tertembak. Anusapati duduk di singgasana. Toh joyo masuk.
    Anusapati : Bukan hakmu duduk di situ. Itu warisan Ken Arok, sang amurwabhumi, ayah kandungku. Pergilah!
    Ken dedes : Toh joyo, dia saudaramu…
    Anusapati tertembak dengan pistol yang sama.
    Anusapati tewas. Toh Joyo Duduk di singgasana
    Rangga wuni dan Mahesa Cempaka masuk.
    Toh Jaya : Ranggawuni, mahesa cempaka. Kenapa datang tanpa aku mengundangmu. Ada apa?
    Ranggawuni : Ada sesuatu yang harus diluruskan baginda.
    Mahesa Cempaka : Sesuatu yang telah membuat negara ini melenceng.
    Toh jaya ; Apa itu? Bagaimana bisa melenceng?
    Ranggawuni : Karena susutu telah duduk di tempat yang bukan seharusnya.
    Mahesa Cempaka : Dan itu adalah kamu paman. Maafkan kami. Ini semua demi negara
    Mahesa Cempaka membunuh Toh Jaya.
    Ken dedes menjerit dalam tangis yang tak pernah berhenti. Lalu merebut Pistol itu dan menembak kepalanya sendiri.
    Ken Dedes : Semoga kalian tidak berebut di alam kubur.

    BalasHapus
  103. NASKAH DRAMA

    TELAGA WARNA
    Oleh : Andrianus Effendy
    XI IPA 6/ 06

    Babak 1
    Narator : Dahulu kala, terdapat sebuah kerajaan yang sangat tentram dan makmur di Jawa Barat. Kerajaan itu di pimpin oleh seorang raja yang baik dan bijaksana. Tak heran, kalau negeri itu makmur dan tenteram. Tak ada penduduk yang lapar di negeri itu. Raja itu dipanggil Raja Prabu. Tetapi keluarga kerajaan itu tidak memiliki seorang anakpun. Penasehat Prabu menyarankan agar raja dan ratu untuk mengangkat seorang anak.
    Panasehat : “ Yang mulia, hamba sarankan agar Yang Mulia mengangkat seorang anak saja.”
    Raja Prabu : “ Tidak! Bagi kami anak kandung adalah lebih baik daripada anak angkat.”

    Babak 2
    Narator : Sang Ratu sering murung dan menangis di balkon istana. Sang Rajapun ikut sedih melihat istrinya menangis.
    Raja Prabu : “ Sudahlah bu kita akan memiliki seorang anak kelak nanti.”
    Ratu : “ Ya tentu saja Tuanku.”

    Babak 3
    Narator :Sehingga, suatu hari Raja Prabu hendak pergi ke hutan untuk berdoa agar dikaruniai seorang anak.
    Raja Prabu : “ Aku akan pergi ke hutan untuk berdoa.”
    Ratu : “ Baiklah. Hati- hati di hutan tuanku. ”

    Babak 4
    Narator : Setelah beberapa bulan kemudia semenjak Raja Prabu berdoa di hutan, permohonan sang Rajapun terkabul, Sang Ratu mulai hamil.
    Ratu : “ Prabu, aku hamil…” (dengan wajah yang berseri- seri).
    Raja Prabu : “ Benarkah itu???” ( dengan nada yang sedikit tak percaya).
    Ratu : “ Ya benar.. Saya sudah ke tabib istana dan tabib mengatakan bahwa saya hamil.”
    Raja : “ Benarkah?? Ini akan menjai kabar yang paling indah di kerajaan kita.”

    Babak 5
    Narator: Setelah 9 bulan lamanya Ratu mengandung, Ratupun melahirkan seorang Putri yang sangat cantik Putri itu diberi nama Nirwarna. Pndudukpun banyak mengiriminya mainan untung sang putrid.
    Ratu : “ Lihatlah anak kita dia sangat lucu dan cantik, saya berharap agar dia tumbuh menjadi seorang putri yang cantik dan baik hati seperti wajahnya.”
    Raja Prabu : “ Ya.. Saya yakin putri kita akan tumbuh menjadi putri yang sangat cantik dan baik hati.”

    Babak 6
    Narator : Kasih saying Raja dan Ratu yang selalu memberikan apapun yang diingini oleh Sang putri telah membuat anak itu tumbuh menjadi seorang Putri yang sangat manja. Bila keinginan sang Putri tak dikabulkan maka ia akan marah dan tak jarang dia berkata kasar kepada orang tuanya. Tetapi masyarakat dan orang tuanya masih tetap mencintainya.
    Purti : “Bunda aku mau seekor kuda!!”
    Ratu : “ Kita sudah memiliki banyak kuda di peternakan sayang.”
    Putri : “ Tidak aku tidak mau yang ada di peternak! Aku mau kuda berwarna putih dengan bulu yang indah.”
    Ratu : “ Kau sudah memilki 54 kuda. Bermainlah dengan kudamu yang sudah ada sayang.”
    Putri : “ tidak aku tidak mau, dasar kau orang tua pelit.”
    Ratu : “ Ahhh… Sayang apa yang kau katakan.”
    Putri : “ Huh, dasar orang tua yang tak berguna.”

    BalasHapus
  104. Babak 7
    Narator : Putripun meningggalkan ibunya yang menangis sambil terduduk setelah melihat perilaku anaknya itu. Tak terasa sudah 17 tahun umur sang putri, dia tumbuh menjadi seorang putri yang paling cantik di negeri itu. Seluruh rakyat pergi ke istana untuk memberikan hadiah kepada sang putri. Hadiah itu begitu banyak dan dikumpulakan di dalam istana. Sang raja mengambil sdikit emas dan permata dan pergi ke tempa ahli perhiasan untuk di buatnya menjadi kalung.
    Sesampainya di tempat ahli perhiasan.
    Raja : “ Pak, bisakah anda membuat sebuah kalung yang paling indah untuk puriku yang tercinta.”
    Ahli perhiasan : “ Tentu saja tuanka, dengan senang hati hamba akan melakukannya, silakan Tuanku menunggu sebentar kalung pesanan Tuan akan segera hamba buat.”
    Raja : “ Terima kasih banyak.”
    Ahli perhiasan : “ Sama- sama Tuanku.”
    Narator : Setelah beberapa saat menunggu akhirnya kalung itu selesai dibuat kalung itu sangat indah.
    Raja : “ Wah. Ini adalah kalung terindah yang pernah saya lihat, kau membuatnya dengan sangat baik.”
    Ahli perhiasan : “ Terima kasih Tuanku, untuk sang putrid hamba akan melakukan yang terbaik.”

    Babak8
    Narator : Setelah itu Raja kembali ke dalam istana dan menyimpannya untuk diberikan kalung yang sangat indah itu kepada putri tercintanya saat dia ulan tahun esok. Keesokkan harinya, hari ulang tahun sang putripun tiba. Raja Prabu segera mengambil kalung yang sangat inah itu, dan segera memberikannya kepada anaknya.
    Raja Prabu : “ Anakku Putri Nirwarna, hari ini adalah hari ulang tahunmu yang ke-17.”
    Putri : “ Ya ayah.., aku mengharapkan hadiah yang paling indah pada ulang tahunku yang ke-17 ini.”
    Ratu : “ Selamat ulang tahun anakku.”
    Putri : “ Ya bunda…”
    Raja Prabu : “Anakku, ayah sudah mempersiapkan sebua hadiah yang paling indah, ini dia kalung permata yang paling indah di seluruh dunia hanya untuk putri tercintaku.”

    Babak 9
    Narator : Raja Prabu segera memberikan kalung itu kepada putrinya, tetapi Putri terlihat tidak menyukai kalung tersebut.
    Putri : “ hemm. Kalung apa ini ayah. Kalung ini sangat jelek aku tidak mau mengenakannya di leherku yang cantik ini, kalung itu hanya akan membuat leherku ini menjadi gatal saja nantinya!”

    Babak 10
    Narator : Tidak ada satu orangpun yang menyangka Sang putri akan mengatakan hal tersebut, semuanya terdiam tak ada satupun yang berbicara, tiba- tiba terdengar isak tangis sang Ratu yang kemudaian diikuti oleh tangisan semua orang.
    Ratu : “ hu hu hu hu, ada apa denganmu nak?”
    Putri ; “ aku takkan mengenakan kalung itu!”
    Narator : Sang putri segera membuang kalung itu ke halaman istana, kalung tersebut menjadi rusak dan permatanya tersebar ke seluruh halaman istana.
    Putri : “ Huh dasar kalung jelek.”

    Babak 11
    Narator : Tiba- tiba sebuah mata air muncul dari halaman istana, percikan airnya membuat sebuah genangan air di halaman istana. Semua orang sangat ketakutan dan menyalahkan hal tersebut kepada sang putri.
    Rakyat : “ Apa yang telah kau lakukan Putri jahat! Kau telah membayakan smua rakyatmu lihatlah ulahmu!”
    Narator : Sang putri sangat ketakutan dia menyesal atas semua perbuatan jahatnya. Tapi genangan itu telah menjadi sebuah danau yang sangat besar dan menenggelamkan seluruh istana.
    Oleh rakyat sekitar, danau itu disebut sebagai “ Telaga Warna”. Danau itu berada di daerah puncak. Di hari yang cerah, kita bisa melihat danau itu penuh warna yang indah dan mengagumkan. Warna itu berasal dari bayangan hutan, tanaman, bunga-bunga, dan langit di sekitar telaga. Namun orang mengatakan, warna-warna itu berasal dari kalung Putri yang tersebar di dasar telaga.

    BalasHapus
  105. BATU MENANGIS

    (Labels: Cerita Rakyat, Folk Tales, Kalimantan Barat, Legenda)

    Alkisah, di sebuah desa terpencil di daerah Kalimantan Barat, Indonesia, hiduplah seorang janda tua dengan seorang putrinya yang cantik jelita bernama Darmi. Mereka tinggal di sebuah gubuk yang terletak di ujung desa. Sejak ayah Darmi meninggal, kehidupan mereka menjadi susah. Ayah Darmi tidak meninggalkan harta warisan sedikit pun. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, ibu Darmi bekerja di sawah atau ladang orang lain sebagai buruh upahan.

    Alkisah, di sebuah desa terpencil di daerah Kalimantan Barat, Indonesia, hiduplah seorang janda tua dengan seorang putrinya yang cantik jelita bernama Darmi. Mereka tinggal di sebuah gubuk yang terletak di ujung desa. Sejak ayah Darmi meninggal, kehidupan mereka menjadi susah. Ayah Darmi tidak meninggalkan harta warisan sedikit pun. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, ibu Darmi bekerja di sawah atau ladang orang lain sebagai buruh upahan.

    Sementara putrinya, Darmi, seorang gadis yang manja. Apapun yang dimintanya harus dikabulkan. Selain manja, ia juga seorang gadis yang malas. Kerjanya hanya bersolek dan mengagumi kecantikannya di depan cermin. Setiap sore ia selalu hilir-mudik di kampungnya tanpa tujuan yang jelas, kecuali hanya untuk mempertontonkan kecantikannya. Ia sama sekali tidak mau membantu ibunya mencari nafkah. Setiap kali ibunya mengajaknya pergi ke sawah, ia selalu menolak.


    ”Nak! Ayo bantu Ibu bekerja di sawah,” ajak sang Ibu.
    ”Tidak, Bu! Aku tidak mau pergi ke sawah. Nanti kuku dan kulitku kotor terkena lumpur,” jawab Darmi menolak.
    ”Apakah kamu tidak kasihan melihat Ibu, Nak?” tanya sang Ibu mengiba.
    ”Tidak! Ibu saja yang sudah tua bekerja di sawah, karena tidak mungkin lagi ada laki-laki yang tertarik pada wajah Ibu yang sudah keriput itu,” jawab Darmi dengan ketus.


    Mendegar jawaban anaknya itu, sang Ibu tidak dapat berkata-kata lagi. Dengan perasaan sedih, ia pun berangkat ke sawah untuk bekerja. Sementara si Darmi tetap saja tinggal di gubuk, terus bersolek untuk mempecantik dirinya. Setelah ibunya pulang dari sawah, Darmi meminta uang upah yang diperoleh Ibunya untuk dibelikan alat-alat kecantikan.

    ”Bu! Mana uang upahnya itu!” seru Darmi kepada Ibunya.
    ”Jangan, Nak! Uang ini untuk membeli kebutuhan hidup kita hari ini,” ujar sang Ibu.
    ”Tapi, Bu! Bedakku sudah habis. Saya harus beli yang baru,” kata Darmi.
    ”Kamu memang anak tidak tahu diri! Tahunya menghabiskan uang, tapi tidak mau bekerja,” kata sang Ibu kesal.


    Meskipun marah, sang Ibu tetap memberikan uang itu kepada Darmi. Keesokan harinya, ketika ibunya pulang dari bekerja, si Darmi meminta lagi uang upah yang diperoleh ibunya untuk membeli alat kecantikannya yang lain. Keadaan demikian terjadi hampir setiap hari.

    Pada suatu hari, ketika ibunya hendak ke pasar, Darmi berpesan agar dibelikan sebuah alat kecantikan. Tapi, ibunya tidak tahu alat kecantikan yang dia maksud. Kemudian ibunya mengajaknya ikut ke pasar.

    BalasHapus
  106. ”Kalau begitu, ayo temani Ibu ke pasar!” ajak Ibunya.
    ”Aku tidak mau pergi ke pasar bersama Ibu!” jawab Darmi menolak ajakan Ibunya.
    ”Tapi, Ibu tidak tahu alat kecantikan yang kamu maksud itu, Nak!” seru Ibunya.
    Namun setelah didesak, Darmi pun bersedia menemani Ibunya ke pasar.
    ”Aku mau ikut Ibu ke pasar, tapi dengan syarat Ibu harus berjalan di belakangku,” kata Darmi kepada Ibunya.
    ”Memang kenapa, Nak!” tanya Ibunya penasaran.
    ”Aku malu kepada orang-orang kampung jika berjalan berdampingan dengan Ibu,” jawab Darmi.
    ”Kenapa harus malu, Nak? Bukankah aku ini Ibu kandungmu?” tanya sang Ibu.
    ”Ibu seharusnya berkaca. Lihat wajah Ibu yang sudah keriput dan pakaian ibu sangat kotor itu! Aku malu punya Ibu berantakan seperti itu!” seru Darmi dengan nada merendahkan Ibunya.


    Di tengah perjalanan, Darmi bertemu dengan temannya yang tinggal di kampung lain.

    ”Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?” tanya temannya itu.
    ”Ke pasar!” jawab Darmi dengan pelan.
    ”Lalu, siapa orang di belakangmu itu? Apakah dia ibumu?” tanya lagi temannya sambil menunjuk orang tua yang membawa keranjang.
    ”Tentu saja bukan ibuku! Dia adalah pembantuku,” jawab Darmi dengan nada sinis.


    Laksana disambar petir orang tua itu mendengar ucapan putrinya. Tapi dia hanya terdiam sambil menahan rasa sedih. Setelah itu, keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju ke pasar. Tidak berapa lama berjalan, mereka bertemu lagi dengan seseorang.

    ”Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?” tanya orang itu.
    ”Hendak ke pasar,” jawab Darmi singkat.
    ”Siapa yang di belakangmu itu?” tanya lagi orang itu.
    ”Dia pembantuku,” jawab Darmi mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

    Jawaban yang dilontarkan Darmi itu membuat hati ibunya semakin sedih. Tapi, sang Ibu masih kuat menahan rasa sedihnya. Begitulah yang terjadi terus-menerus selama dalam perjalanan menuju ke pasar. Akhirnya, sang Ibu berhenti, lalu duduk di pinggir jalan.

    ”Bu! Kenapa berhenti?” tanya Darmi heran.


    Beberapa kali Darmi bertanya, namun sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaannya. Sesaat kemudian, Darmi melihat mulut ibunya komat-komit sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas.

    ”Hei, Ibu sedang apa?” tanya Darmi dengan nada membentak.
    Sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaan anaknya. Ia tetap berdoa kepada Tuhan agar menghukum anaknya yang durhaka itu.

    ”Ya, Tuhan! Ampunilah hambamu yang lemah ini. Hamba sudah tidak sanggup lagi menghadapi sikap anak hamba yang durhaka ini. Berikanlah hukuman yang setimpal kepadanya!” doa sang Ibu.

    Beberapa saat kemudian, tiba-tiba langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan suara guntur bergemuruh memekakkan telinga. Hujan deras pun turun. Pelan-pelan, kaki Darmi berubah menjadi batu. Darmi pun mulai panik.

    ”Ibu...! Ibu... ! Apa yang terjadi dengan kakiku, Bu?” tanya Darmi sambil berteriak.

    ”Maafkan Darmi! Maafkan Darmi, Bu! Darmi tidak akan mengulanginya lagi, Bu!” seru Darmi semakin panik.

    Namun, apa hendak dibuat, nasi sudah menjadi bubur. Hukuman itu tidak dapat lagi dihindari. Perlahan-lahan, seluruh tubuh Darmi berubah menjadi batu. Perubahan itu terjadi dari kaki, badan, hingga ke kepala. Gadis durhaka itu hanya bisa menangis dan menangis menyesali perbuatannya. Sebelum kepala anaknya berubah menjadi batu, sang Ibu masih melihat air menetes dari kedua mata anaknya. Semua orang yang lewat di tempat itu juga ikut menyaksikan peristiwa itu. Tidak berapa lama, cuaca pun kembali terang seperti sedia kala. Seluruh tubuh Darmi telah menjelma menjadi batu. Batu itu kemudian mereka letakkan di pinggir jalan bersandar ke tebing. Oleh masyarakat setempat, batu itu mereka beri nama Batu Menangis. Batu itu masih tetap dipelihara dengan baik, sehingga masih dapat kita saksikan hingga sekarang.

    * * *

    BalasHapus
  107. Sumber:
    • Isi cerita diadaptasi dari "Cerpen: Batu Menangis”, (http://s.tf.itb.ac.id/~armanto/cerpen/batumenangis/, diakses tanggal 3 Mei 2008).
    • Anonim. “Cerita Rakyat Kalbar,” (http://www.geocities.com/kesumawijaya/ceritarakyat/kalbar1.html, diakses tanggal 3 Mei 2008).
    • Anonim. “Kalimantan Barat”, (http://ms.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Barat, diakses tanggal 3 Mei 2008).

    BalasHapus
  108. Naskah Drama "Batu Menangis" :
    Dibuat oleh : Anantya D.S.

    Babak I
    Di sebuah desa terpencil di daerah Kalimantan Barat, Indonesia, hiduplah seorang janda tua dengan seorang putrinya yang cantik jelita bernama Darmi. Ia sangat manja juga sangat malas. Hidup mereka susah karena ayah Darmi tidak meninggalkan harta warisan sedikit pun.
    Ibu : “Darmi, ayahmu telah tiada, janganlah bermuram durja nak, seperti gelisah sepanjangan. Kita harus mencoba mengikhlaskan kepergiannya.”
    Darmi : “Aku tahu itu bu, tapi yang kugelisahkan adalah tentang aku. Darimana pemasukan uang kita kedepannya.”
    Ibu : “Mau tidak mau kita harus bekerja ! Mencari nafkah. ”
    Darmi : “Bekerja apa?”
    Ibu : “Di sawah.”
    Darmi : “Tidak terima kasih, bu. Aku tak ada waktu untuk itu.” (Pergi meninggalkan percakapan tersebut dan menuju kamar)

    Babak 2
    Di depan cermin kamarnya….
    Darmi : “Susahlah hidupku, nanti aku tak cantik lagi, tak ada kemewahan lagi. Bagaimana bisa aku mencuri perhatian kampung ini?” (berbicara sendiri sembari menyisir rambutnya)

    Babak 3
    Dari luar kamar Darmi terdengar teriakan ibunya memanggil…
    Ibu : “Darmi…. Darmi…. Ayo Nak bantu ibu bekerja di sawah.”
    Darmi : ”Tidak, Bu! Aku tidak mau pergi ke sawah. Nanti kuku dan kulitku kotor terkena lumpur”
    Ibu : “Jadi kau menyuruhku bekerja sendiri?”
    Darmi : “Aku tidak mengatakan begitu, tapi aku juga tak mau pergi ke sawah.” (Sembari tetap menyisir)
    Ibu : “Apakah kamu tidak kasihan melihat Ibu, Nak?”
    Darmi : “Tidak! Ibu saja yang sudah tua bekerja di sawah, karena tidak mungkin lagi ada laki-laki yang tertarik pada wajah Ibu yang sudah keriput itu. Sudah bu aku lelah, mau tidur. “ (Mengusir dan mendorong ibu nya agar cepat keluar kamar)
    Ibu : (hanya terdiam)

    Babak 4
    Diperjalanan menuju sawah….
    Ibu : “Tidak apalah aku bekerja sendiri, lagipula ini juga untuk aku. Untuk kelangsungan hidup kami juga.” (Bercakap sendiri)

    Babak 5
    Sepulang dari sawah….
    Ibu : ” Assalamu alaikum Darmi, Ibu pulang.”
    Darmi : “Bu! Mana uang upahnya itu!”

    Ibu: “Astaga Darmi, salamku belum kau jawab kau sudah menodongku dengan pertanyaan itu.”
    Darmi : “ Aku mau uang yang ibu dapatkan hari ini.”
    Ibu : ”Jangan, Nak! Uang ini untuk membeli kebutuhan hidup kita hari ini.”

    Darmi : ”Tapi, Bu! Bedakku sudah habis. Aku harus beli yang baru.”.

    Ibu : ”Dimana otakmu, Darmi? Kamu memang anak tidak tahu diri! Tahunya menghabiskan uang, tapi tidak mau bekerja.”
    Darmi : “Jadi ibu sudah tidak ingin membahagiakan aku lagi?”

    Ibu : “Yasudah, terserah kau sajalah. Ini beberapa uang, jangan terlalu boros. Ingat itu.”

    BalasHapus
  109. Babak 6
    Keesokan harinya, Ibu mengajak Darmi ke sawah, tapi tetap saja ditolaknya. Lalu, ia bergegas ke sawah sendiri.
    Darmi : “ Ibu sudah mau pergi?”
    Ibu : “Belum.”
    Darmi : “Kalau ibu nanti ke sawah, aku titip beberapa alat-alat kosmetikku ya ! Kan ibu pasti melewati pasar.”
    Ibu : “Ahhh apalah itu, tingkahmu itu selalu aneh Darmi, ada ada saja maumu itu. Sudah tau kita ini hidup pas-pasan.”
    Darmi : “Hidup itu harus dinikmati bu.”
    Ibu : “Memang apa yang kau butuhkan? Dan seberapa pentingkah itu?”
    Darmi : “Penting buatku dan tak penting buat ibu untuk bertanya-tanya.”
    Ibu : “Bagaimana aku bisa tahu apa yang kau perlukan? Kalau begitu kau ikut saja ke pasar Darmi.”
    Darmi : ”Tidak ah. Aku tidak mau pergi ke pasar bersama Ibu!”
    Ibu : ”Tapi, Ibu tidak tahu alat kecantikan yang kamu maksud itu, Nak!”
    Darmi : “Baiklah. Aku mau ikut Ibu ke pasar, tapi dengan syarat Ibu harus berjalan di belakangku.”
    Ibu : ”Memang kenapa, Nak?”
    Darmi : ”Aku malu kepada orang-orang kampung jika berjalan berdampingan dengan Ibu.”
    Ibu : ”Kenapa harus malu, Nak? Bukankah aku ini Ibu kandungmu?”
    Darmi : ”Ibu seharusnya berkaca. Lihat wajah Ibu yang sudah keriput dan pakaian ibu sangat kotor itu! Aku malu punya Ibu berantakan seperti itu!” (berbicara dengan nada merendahkan)

    Babak 7
    Setelah itu, berangkatlah mereka ke pasar secara beriringan. Si Darmi berjalan di depan, sedangkan Ibunya mengikuti dari berlakang dengan membawa keranjang. Meskipun keduanya ibu dan anak, penampilan mereka kelihatan sangat berbeda. Seolah-olah mereka bukan keluarga yang sama. Sang Anak terlihat cantik dengan pakaian yang bagus, sedangkan sang Ibu kelihatan sangat tua dengan pakaian yang sangat kotor dan penuh tambalan….
    Di tengah perjalanan, Darmi bertemu dengan temannya yang tinggal di kampung lain..
    Tono : ”Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?”
    Darmi : “Pasar.” (bersuara pelan)
    Tono : “Sendiri?”
    Darmi : “Iya.”
    Tono : “Eh, siapa yang ada dibelakangmu Darmi?”
    Darmi : (Diam)
    Ibu : (Diam)
    Tono : “Ibumu?”
    Darmi : “Tentu sajaa bukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan !!!” (menyambar dengan cepat)
    Ibu : “Darmi?” (bertanya heran dengan nada sedih”
    Darmi : “Dia pembantuku. Mana mungkin Ibuku seperti ini.”
    Ibu : “Hentikan Darmi !” (bersuara pelan agar tak terdengar Tono”
    Tono : “Oh… aku kira dia ibumu. Hahahahha” (tertawa) . ”Sampai jumpa Darmi !”

    Babak 8
    Jawaban yang dilontarkan Darmi itu membuat hati ibunya semakin sedih. Tapi, sang Ibu masih kuat menahan rasa sedihnya. Begitulah yang terjadi terus-menerus selama dalam perjalanan menuju ke pasar. Akhirnya, sang Ibu berhenti, lalu duduk di pinggir jalan..
    Darmi : “Bu, kenapa berhenti?”
    Ibu : “Tidak, kau saja Darmi yang pergi ke pasar !” (berbicara dengan kesal bercampur sedih)
    Darmi : “Ayoo cepat, bangunlah bu!!!” (Darmi memaksa)
    Ibu : ( Komat-komit sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas)
    Darmi : “Hei, sedang apa bu? “ (dengan nada membentak)
    Ibu : (terus komat kamit dan berdoa)
    Darmi : “Ibuuuuuuuuuuuuuuuu! Apa yang kau lakukan?” (gelisah)
    Ibu : “Tuhaan ! hukumlah anak durhaka ini !” (dengan amarah mengucap sumpah)
    Darmi : “Ibu jangan bicara sembarangan !!” (berteriak histeris)
    Ibu : ”Ya, Tuhan! Ampunilah hambamu yang lemah ini. Hamba sudah tidak sanggup lagi menghadapi sikap anak hamba yang durhaka ini. Berikanlah hukuman yang setimpal kepadanya!”
    Babak 9
    Beberapa saat kemudian, tiba-tiba langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan suara guntur bergemuruh memekakkan telinga. Hujan deras pun turun. Pelan-pelan, kaki Darmi berubah menjadi batu. Darmi pun mulai panik..
    Darmi : “Ibu...! Ibu... ! Apa yang terjadi dengan kakiku, Bu?” (panik)
    Ibu : (menangis dan terus berdoa)
    Darmi : ”Maafkan Darmi! Maafkan Darmi, Bu! Darmi tidak akan mengulanginya lagi, Bu!” (semakin panik dan menangis)
    Ibu : “Semua sudah terlambat Darmi.” (menangis)

    BalasHapus
  110. Babak 10
    Nasi sudah menjadi bubur. Hukuman itu tidak dapat lagi dihindari. Perlahan-lahan, seluruh tubuh Darmi berubah menjadi batu. Perubahan itu terjadi dari kaki, badan, hingga ke kepala. Gadis durhaka itu hanya bisa menangis dan menangis menyesali perbuatannya. Sebelum kepala anaknya berubah menjadi batu, sang Ibu masih melihat air menetes dari kedua mata anaknya. Semua orang yang lewat di tempat itu juga ikut menyaksikan peristiwa itu.
    Tidak berapa lama, cuaca pun kembali terang seperti sedia kala. Seluruh tubuh Darmi telah menjelma menjadi batu. Batu itu kemudian mereka letakkan di pinggir jalan bersandar ke tebing. Oleh masyarakat setempat, batu itu mereka beri nama Batu Menangis.
    Ibu : “Maafkan ibu Darmi. “ (sambil menangis dan mengelus Darmi yang sudah menjadi batu)

    SELESAI

    BalasHapus
  111. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  112. Nama : Clementine Oentari
    Nomor Absen : 13
    Kelas : XI IPA6

    Asal Mula Danau Limboto.

    Dahulu, daerah Limboto merupakan hamparan laut yang luas. Di tengahnya terdapat dua buah gunung yang tinggi, yaitu Gunung Boliohuto dan Gunung Tilongkabila. Kedua gunung tersebut merupakan petunjuk arah bagi masyarakat yang akan memasuki Gorontalo melalui jalur laut. Gunung Bilohuto menunjukkan arah barat, sedangkan Gunung Tilongkabila menunjukkan arah timur.

    Pada suatu ketika, air laut surut, sehingga kawasan itu berubah menjadi daratan. Tak beberapa lama kemudian, kawasan itu berubah menjadi hamparan hutan yang sangat luas. Di beberapa tempat masih terlihat adanya air laut tergenang, dan di beberapa tempat yang lain muncul sejumlah mata air tawar, yang kemudian membentuk genangan air tawar. Salah satu di antara mata air tersebut mengeluarkan air yang sangat jernih dan sejuk. Mata air yang berada di tengah-tengah hutan dan jarang dijamah oleh manusia tersebut bernama Mata Air Tupalo. Tempat ini sering didatangi oleh tujuh bidadari bersaudara dari Kahyangan untuk mandi dan bermain sembur-semburan air.

    Pada suatu hari, ketika ketujuh bidadari tersebut sedang asyik mandi dan bersendau gurau di sekitar mata air Tupalo tersebut, seorang pemuda tampan bernama Jilumoto melintas di tempat itu. Jilumoto dalam bahasa setempat berarti seorang penduduk kahyangan berkunjung ke bumi dengan menjelma menjadi manusia. Melihat ketujuh bidadari tersebut, Jilumoto segera bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Dari balik pohon itu, ia memerhatikan ketujuh bidadari yang sedang asyik mandi sampai matanya tidak berkedip sedikitpun.

    BalasHapus
  113. “Aduhai.... cantiknya bidadari-bidadari itu!” gumam Jilumoto dengan takjub.”

    Melihat kecantikan para bidadari tersebut, Jilumoto tiba-tiba timbul niatnya untuk mengambil salah satu sayap mereka yang diletakkan di atas batu besar, sehingga si pemilik sayap itu tidak dapat terbang kembali ke kahyangan. Dengan begitu, maka ia dapat memperistrinya. Ketika para bidadari tersebut sedang asyik bersendau gurau, perlahan-lahan ia berjalan menuju ke tempat sayap-sayap tersebut diletakkan. Setelah berhasil mengambil salah satu sayap bidadari tersebut, pemuda tampan itu kembali bersembunyi di balik pohon besar.

    Ketika hari menjelang sore, ketujuh bidadari tersebut selesai mandi dan bersiap-siap untuk pulang ke Kahyangan. Setelah memakai kembali sayap masing-masing, mereka pun bersiap-siap terbang ke angkasa. Namun, salah seorang di antara mereka masih tampak kebingungan mencari sayapnya.

    “Hai, Adik-adikku! Apakah kalian melihat sayap Kakak?”.

    Rupanya, bidadari yang kehilangan sayap itu adalah bidadari tertua yang bernama Mbu`i Bungale. Keenam adiknya segera membantu sang Kakak untuk mencari sayap yang hilang tersebut. Mereka telah mencari ke sana kemari, namun sayap tersebut belum juga ditemukan. Karena hari mulai gelap, keenam bidadari itu pergi meninggalkan sang Kakak seorang diri di dekat Mata Air Tupalo.

    “Kakak.. jaga diri Kakak baik-baik!” seru bidadari yang bungsu.

    “Adikku...! Jangan tinggalkan Kakak!” teriak Mbu`i Bungale ketika melihat keenam adiknya sedang terbang menuju ke angkasa.

    Keenam adiknya tersebut tidak menghiraukan teriakannya. Tinggallah Mbu`i Bungale seorang diri di tengah hutan. Hatinya sangat sedih, karena ia tidak bisa bertemu lagi dengan keluarganya di Kahyangan. Beberapa saat kemudian, Jilumoto keluar dari tempat persembunyiannya dan segera menghampiri Mbu`i Bungale.

    BalasHapus
  114. “Hai, Bidadari cantik! Kenapa kamu bersedih begitu?” tanya Jilumoto dengan berpura-pura tidak mengetahui keadaan sebenarnya.

    “Sayapku hilang, Bang! Adik tidak bisa lagi kembali ke Kahyangan,” jawab Mbu`i Bungale.

    Mendengar jawaban itu, tanpa berpikir panjang Jilumoto segera mengajak Mbu`i Bungale untuk menikah. Bidadari yang malang itu pun bersedia menikah dengan Jilumoto. Setelah menikah, mereka memutuskan untuk tinggal bersama di bumi. Mereka pun mencari tanah untuk bercocok tanam. Setelah berapa lama mencari, akhirnya sepasang suami-istri itu menemukan sebuah bukit yang terletak tidak jauh dari Mata Air Tupalo. Di atas bukit itulah mereka mendirikan sebuah rumah sederhana dan berladang dengan menanam berbagai macam jenis tanaman yang dapat dimakan. Mereka menamai bukit itu Huntu lo Ti`opo atau Bukit Kapas.

    Pada suatu hari, Mbu`i Bungali mendapat kiriman Bimelula, yaitu sebuah mustika sebesar telur itik dari Kahyangan. Bimelula itu ia simpan di dekat mata air Tupalo dan menutupinya dengan sehelai tolu atau tudung. Beberapa hari kemudian, ada empat pelancong dari daerah timur yang melintas dan melihat mati air Tupalo tersebut. Begitu melihat air yang jernih dan dingin itu, mereka segera meminumnya karena kehausan setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Usai minum, salah seorang di antara mereka melihat ada tudung tergeletak di dekat mata air Tupalo.

    “Hai, kawan-kawan! Lihatlah benda itu! Bukankah itu tudung?” seru salah seorang dari pelancong itu.

    “Benar, kawan! Itu adalah tudung,” kata seorang pelancong lainnya.

    “Aneh, kenapa ada tudung di tengah hutan yang sepi ini?” sahut pelancong yang lainnya dengan heran.

    Oleh Karena penasaran, mereka segera mendekati tudung itu dan bermaksud untuk menangkatnya. Namun, begitu mereka ingin menyentuh tudung itu, tiba-tiba badai dan angin topan sangat dahsyat datang menerjang, kemudian disusul dengan hujan yang sangat deras. Keempat pelancong itu pun berlarian mencari perlindungan agar terhindar dari marabahaya. Untungnya, badai dan angin topan tersebut tidak berlangsung lama, sehingga mereka dapat selamat.

    Setelah badai dan hujan berhenti, keempat pelancong itu kembali ke mata air Tupalo. Mereka melihat tudung itu masih terletak pada tempatnya semula. Oleh karena masih penasaran ingin mengetahui benda yang ditutupi tudung itu, mereka pun bermaksud ingin mengangkat tudung itu. Sebelum mengangkatnya, mereka meludahi bagian atas tudung itu dengan sepah pinang yang sudah dimantrai agar badai dan topan tidak kembali terjadi. Betapa terkejutnya mereka ketika mengangkat tudung itu. Mereka melihat sebuah benda bulat, yang tak lain adalah mustika Bimelula. Mereka pun tertarik dan berkeinginan untuk memiliki mustika itu. Namun begitu mereka akang mengambil mustika Bimelula itu, tiba-tiba Mbu`i Bungale datang bersama suaminya, Jilumoto.

    BalasHapus
  115. “Maaf, Tuan-Tuan! Tolong jangan sentuh mustika itu! Izinkanlah kami untuk mengambilnya, karena benda itu milik kami!” pinta Mbu`i Bungale.

    “Hei, siapa kalian berdua ini? Berani sekali mengaku sebagai pemilik mustika ini!” seru seorang pemimpin pelancong.

    “Saya Mbu`i Bungale datang bersama suamiku, Jilumoto, ingin mengambil mustika itu,” jawab Mbu`i Bungale dengan tenang.

    “Hai, Mbu`i Bungale! Tempat ini adalah milik kami. Jadi, tak seorang pun yang boleh mengambil barang-barang yang ada di sini, termasuk mustika ini!” bentak pemimpin pelancong itu.

    “Apa buktinya bahwa tempat ini dan mustika itu milik kalian?” tanya Mbui`i Bungale.

    Pemimpin pelancong itu pun menjawab
    “Kalian mau lihat buktinya? Lihatlah sepah pinang di atas tudung itu! Kamilah yang telah memberinya,” ujar pemimpin pelancong.

    Mendengar pengakuan para pelancong tersebut, Mbu`i Bungale hanya tersenyum.

    “Hai, aku ingatkan kalian semua! Kawasan mata air ini diturunkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa kepada orang-orang yang suka berbudi baik antarsesama makhluk di dunia ini. Bukan diberikan kepada orang-orang tamak dan rakus seperti kalian. Tapi, jika memang benar kalian pemilik dan penguasa di tempat ini, perluaslah mata air ini! Keluarkanlah seluruh kemampuan kalian, aku siap untuk menantang kalian!” seru Mbu`i Bungale.

    Keempat pelancong itu pun bersedia menerima tantangan Mbu`i Bungale. Si pemimpin pelancong segera membaca mantradan mengeluarkan seluruh kemampuannya.

    “Wei mata air Kami! Meluas dan membesarlah,” demikian bunyi mantranya.

    Berkali-kali pemimpin pelancong itu membaca mantranya, namun tak sedikit pun menunjukkan adanya tanda-tanda mata air itu akan meluas dan membesar. Melihat pemimpin mereka sudah mulai kehabisan tenaga, tiga anak buah pelancong tersebut segera membantu. Meski mereka telah menyatukan kekuatan dan kesaktian, namun mata air Tupalo tidak berubah sedikit pun. Lama-kelamaan keempat pelancong pun tersebut kehabisan tenaga. Melihat mereka kelelahan dan bercucuran keringat, Mbu`i Bungale kembali tersenyum.

    “Hai, kenapa kalian berhenti! Tunjukkanlah kepada kami bahwa mata air itu milik kalian!